2015/06/19

Sepucuk Surat untuk Papa [By : Thiara Mutiara]

Sepucuk Surat Untuk Papa
Cerpen Karangan: 


Pagi ini sangat dingin sekali. Cuaca sangat tidak bersahabat denganku. Karena hujan masih turun padahal sekarang sudah menunjukkan pukul 07.00 wib.
“Ma, gimana nay mau berangkat ke sekolah kalau hujannya gak kunjung reda..” tanyaku pada mama.
“sabar aja nanti juga bakal reda hujannya nay..” jawab mama ku untuk menenangkan aku.
Setengah jam kemudian hujannya reda juga. Aku berangkat menuju sekolah dengan mengendarai motor bersama sahabatku.
Sesampainya di sekolah
“kamu kenapa kok cemberut..” tanya mey teman sebangku ku.
“gak papa kok..” jawabku datar
“gak, kamu pasti lagi ada masalah kan..” tanya mey lagi.
“Iya sih sedikit..” sahutku
“coba cerita sama aku mungkin aku bisa bantu kamu..” tanya mey dengan sedikit memaksa.
“sebenarnya aku malu untuk bercerita tapi apa daya aku tak sanggup memendamnya sendiri mey, aku sebenarnya iri melihat teman teman bisa akrab dengan papanya sedangkan aku tak pernah bisa…” ucapku sambil mengusap air mataku dengan punggung tanganku.
“sejak 5 tahun yang lalu papaku bergelut di dunia nark*ba. Dia menjadi pecandu. Obat-obatan terlarang itu telah mengahancurkan papaku. Semenjak menggunakan obat itu papaku sperti seorang yang sama sekali tak aku kenal…” sambungku lagi sambil tersedu-sedu
“yang sabar ya nay, mungkin allah sedag menguji kehidupanmu…” jawab nay sambil membelai rambutku yang ikal.
“makasih ya mey udah mau dengerin aku…” sahutku
“iya sama-sama nay jelek…” jawab nay dengan sedikit meledekku.
“nay, kamu lagi apa? Mari kita makan malam bersama…” ajak mamaku.
“iya ma..” jawabku sambil tersenyum.
“semoga papa juga ikut makan bersama malam ini, aku ingin mengajak nya sharing karena aku sangat merindukannya…” batinku
Sesampainya di meja makan, ternyata harapanku sirna, tak ada papa di meja makan. Yang ada hanya mama dan adik adikku…
“Malam ma, oh ya papa mana? dia tidak ikut makan malam?” tanyaku dengan gelisah.
“malam juga sayang, papamu ada di kamar sedang tidak enak badan..” sahut mama sambil tersenyum kecil.
“ehmmm…” sahutku tak bersemangat.
Aku tahu itu hanya alasan mama saja. Pasti merka berdua sedang berantem…” batinku
Setelah makan malam aku masuk kamar, aku menangis sambil menatapi foto keluarga ku yang ku pajang di meja belajarku. Lalu kuambil buku diary ku, hanya pada buku ini dapat ku curahkan isi hatiku.
Dear diary,
to: papa
Papa apa kabarnya malam ini? Aku sungguh merindukan mu pa. Aku sungguh merindukan belaian hangat kasih mu untuk ku. maafkan nay pa jika nay selalu membuat papa kecewa, marah dan benci tehadap nay.
Pa nay mohon berhentilah menggunakan obat obatan terlarang itu. Karena semua itu hanya akan membuat dirimu hancur pa.
Pa, kini nay sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Apakah papa tidak merindukan nay?
Papa inget gak dulu sepulang papa dari kerja papa selalu menggendong dan mencium kening nay dan papa membawakan nay kantong hitam besar yang berisikan makanan pa. Pa nay mohon sadarlah sebelum semuanya terlambat.
Nay sangat menyayangi papa. Nay merindukan papa nay yang dulu. Nay janji bakal membahagiakan papa dan mama. Missyou dad
putrimu
naya ramdhan
Cerpen Karangan: Thira Mutiara
Facebook: Thira mutiara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar