Cerpen Karangan: Octaviana Indah Fitriani
Wanita separuh baya asik mengeruk sampah dan dimasukkan di dalam tas Plastik hitam besar miliknya. Dengan penuh pengorbanan melawan panasnya matahari hari ini dan pulang saat Senja tiba. Keringatnya membasahi keningnya. Sesekali ia mengusap keningnya untuk menghapus keringatnya.
Baju yang tak lagi bersih ia gunakan. Celana pendek yang dipenuhi dengan kotoran akibat terkena sampah masih juga ia gunakan untuk mendapatkan uang.
Ia wanita, sebagai Ibu yang mengurus rumah tangga dan juga sebagai kepala keluarga. Suaminya telah lama meninggal akibat jatuh dari bangunan tinggi. Hanya sebuah becak, yang ia punya sebagai alat transportasi.
Baju yang tak lagi bersih ia gunakan. Celana pendek yang dipenuhi dengan kotoran akibat terkena sampah masih juga ia gunakan untuk mendapatkan uang.
Ia wanita, sebagai Ibu yang mengurus rumah tangga dan juga sebagai kepala keluarga. Suaminya telah lama meninggal akibat jatuh dari bangunan tinggi. Hanya sebuah becak, yang ia punya sebagai alat transportasi.
Saat matahari masih belum muncul sempurna, wanita itu sudah semangat mendapatkan rupiah untuk menyekolahkan Appril. Wanita itu bangun sebelum ayam berkokok dan adzan berkumandang. Segera ia keluarkan becaknya dan segera membersihkannya, setelah itu ia memasak walau hanya menggoreng tempe dengan kerupuk.
“Buk, kata bu Guru, jika Appril nggak bayar uang SPP Appril nggak boleh ikut pelajaran. Terus tadi waktu sekolah, Sepatu Appril sudah rusak, sobek dan terasa sakit jika dipakai. Apa ibu punya uang? jika tidak, bolehkan Appril kerja kayak ibu? ayolah, Appril nggak mau nyusahin ibu”.
Ibunya berhenti melipat sajadah setelah ia melakukan sholat di Masjid.
Appril yang terlihat sangat sedih, hanya menatap sepasang mata Ibunya yang mulai membendung air mata.
“Appril di rumah aja ya, biar ibu yang cari uangnya. Maafkan ibu nak, ibu nggak bikin kamu bahagia”.
Appril termenung mendengar ucapan yang terlontarkan dari mulut ibunya.
Keinginannya ingin sekolah tanpa setiap hari dipanggil oleh Guru untuk menagih uang Spp. Lebih lagi, kakinya yang sudah lecet akibat sepatunya yang rusak membuat keinginannya untuk membeli sepatu bagus yang terjual di toko. Bukan mengambil di rongsokan.
Ibunya berhenti melipat sajadah setelah ia melakukan sholat di Masjid.
Appril yang terlihat sangat sedih, hanya menatap sepasang mata Ibunya yang mulai membendung air mata.
“Appril di rumah aja ya, biar ibu yang cari uangnya. Maafkan ibu nak, ibu nggak bikin kamu bahagia”.
Appril termenung mendengar ucapan yang terlontarkan dari mulut ibunya.
Keinginannya ingin sekolah tanpa setiap hari dipanggil oleh Guru untuk menagih uang Spp. Lebih lagi, kakinya yang sudah lecet akibat sepatunya yang rusak membuat keinginannya untuk membeli sepatu bagus yang terjual di toko. Bukan mengambil di rongsokan.
Kesedihan menyelimuti hati mereka. Keluarga kecil yang dipenuhi dengan cobaan. Cobaan yang mampu membuat mereka tak sanggup lagi bertahan hidup. Tapi ada sebuah cinta dan kasih sayang mereka yang mampu membendung putus asa.
—
“Maaf Appril, kamu nggak bisa ngikutin pelajaran karena kamu belum membayar uang Spp. Dan juga kamu belum beli sebuah LKS”.
Deg..
Deg..
Deg…
Hatinya Merintih kesakitan. Matanya tak sanggup lagi untuk membendung air mata. Kakinya yang masih sakit berusaha untuk berlari akibat keputusasaan.
Ia berlari sekuat tenaga. Dan merenungi semua nasibnya. ia berhenti tepat di taman sekolahnya. Appril hanya diam terpaku diiringi dengan tetesan air mata.
Deg..
Deg..
Deg…
Hatinya Merintih kesakitan. Matanya tak sanggup lagi untuk membendung air mata. Kakinya yang masih sakit berusaha untuk berlari akibat keputusasaan.
Ia berlari sekuat tenaga. Dan merenungi semua nasibnya. ia berhenti tepat di taman sekolahnya. Appril hanya diam terpaku diiringi dengan tetesan air mata.
Teeettt…
Bel sekolah sudah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas untuk istirahat dan mengisi perutnya.
“Hmmm, liat ni aku punya Es krim dan siomay. Hahaha nggak kayak dia, dia pasti kelaparan dan menangis tak punya uang”. Semua hinaan yang terdengar lantang dari telinga Appril membuat hatinya semakin kecil.
Memang benar, ia merasakan lapar dan haus. Ia tahan semua rasa laparnya. Bibirnya sesekali mengecap karena ingin merasakan makanan yang teman-temannya rasakan.
Bel sekolah sudah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas untuk istirahat dan mengisi perutnya.
“Hmmm, liat ni aku punya Es krim dan siomay. Hahaha nggak kayak dia, dia pasti kelaparan dan menangis tak punya uang”. Semua hinaan yang terdengar lantang dari telinga Appril membuat hatinya semakin kecil.
Memang benar, ia merasakan lapar dan haus. Ia tahan semua rasa laparnya. Bibirnya sesekali mengecap karena ingin merasakan makanan yang teman-temannya rasakan.
Ibu Appril sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk membelikan Appril sepatu baru agar kakinya tak lagi merasakan kesakitan.
Ia menguras seluruh tenaga. Setelah menjadi seorang tukang becak, ia berjalan menuju pasar untuk menjadi orang bantu disana. Setelah langit berubah menjadi warna Jingga, Senja pun datang.
Ia menguras seluruh tenaga. Setelah menjadi seorang tukang becak, ia berjalan menuju pasar untuk menjadi orang bantu disana. Setelah langit berubah menjadi warna Jingga, Senja pun datang.
Ibu Appril memarkirkan becaknya di depan gubuknya. Ia kembali membanting tulang sebagai seorang pemulung. Ia kumpulkan barang-barang bekas yang dapat ia jual. Sampai malam harinya pun ia tetap sekuat tenaga menggendong sampah-sampah yang dapat dijual kembali.
Seulas senyum kini dilakukannya. Bahagia, sangat bahagia melihat hasil kerja yang ia lakukan demi anaknya.
Ia menghitung jumlah uang yang ia dapat tadi. Sepertinya, uang itu lebih dari cukup untuk membeli sepatu dan membayar uang Spp.
Ia kantongi lagi uang itu dan berjalan menuju rumah kepala sekolah Appril untuk membayar uang SPP. Setelah selesai membayar uang Spp, ia berjalan menyusuri ramainya jalan raya.
Matanya sangat membuat hatinya bahagia saat melihat sebuah toko sepatu berdiri tepat di depannya. Ia segera memasuki toko tersebut dan membelikan sebuah sepatu.
Ia menghitung jumlah uang yang ia dapat tadi. Sepertinya, uang itu lebih dari cukup untuk membeli sepatu dan membayar uang Spp.
Ia kantongi lagi uang itu dan berjalan menuju rumah kepala sekolah Appril untuk membayar uang SPP. Setelah selesai membayar uang Spp, ia berjalan menyusuri ramainya jalan raya.
Matanya sangat membuat hatinya bahagia saat melihat sebuah toko sepatu berdiri tepat di depannya. Ia segera memasuki toko tersebut dan membelikan sebuah sepatu.
Appril menunggu cemas tepat di depan gubuknya. Dimanakah seorang ibunya? Becak sudah terparkir tepat di depan gubuknya. namun ibunya tak ada. 10 menit kemudian ia tunggu sampai ia meneteskan air matanya.
Namun, kesedihan itu terpecahkan saat matanya menangkap sebuah wajah ibunya sudah berdiri di seberang jalan dengan kwitansi dan sebuah sepatu baru untuknya.
Ibunya tersenyum bahagia melihat Appril sudah menungunya di depan gubuknya. Gubuknya terletak di seberang jalan, tanpa berpikir panjan ia menyebrang untuk menghampiri anaknya. Namun..
Brakkk…
Duarrrrr…
Nasib malang menimpanya. Sebuah truk besar berhasil menabrak tubuh wanita separuh baya itu.
“Ibuuuuuuu”. Segera Appril menghampiri ibunya di seberang jalan dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Appril memeluk tubuh ibunya yang dipenuhi dengan darah.
“Ini sepatu untukmu, dan besok Appril harus sekolah ibu sudah membayar Sppnya, maafkan ibu tak bisa merawatmu sampai kau besar. Allah sudah memanggil ibumu ini nak. Teruskanlah pendidikanmu, jangan sampai kamu putus sekolah. Terus semangat dan jangan sampai menyerah”. Ibu Appril menyodorkan sepatu yang tadi ia belikan untuk anaknya. Tangannya berdarah, sampai banyak bercak darah di sepatu itu.
Namun, kesedihan itu terpecahkan saat matanya menangkap sebuah wajah ibunya sudah berdiri di seberang jalan dengan kwitansi dan sebuah sepatu baru untuknya.
Ibunya tersenyum bahagia melihat Appril sudah menungunya di depan gubuknya. Gubuknya terletak di seberang jalan, tanpa berpikir panjan ia menyebrang untuk menghampiri anaknya. Namun..
Brakkk…
Duarrrrr…
Nasib malang menimpanya. Sebuah truk besar berhasil menabrak tubuh wanita separuh baya itu.
“Ibuuuuuuu”. Segera Appril menghampiri ibunya di seberang jalan dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Appril memeluk tubuh ibunya yang dipenuhi dengan darah.
“Ini sepatu untukmu, dan besok Appril harus sekolah ibu sudah membayar Sppnya, maafkan ibu tak bisa merawatmu sampai kau besar. Allah sudah memanggil ibumu ini nak. Teruskanlah pendidikanmu, jangan sampai kamu putus sekolah. Terus semangat dan jangan sampai menyerah”. Ibu Appril menyodorkan sepatu yang tadi ia belikan untuk anaknya. Tangannya berdarah, sampai banyak bercak darah di sepatu itu.
Appril terus saja memeluk ibunya dengan jeritan hati mencekam.
Ia semakin sedih saat mengetahui ini adalah hembusan nafas terakhir ibunya.
Ibunya yang bertekad seperti sosok ibu kartini.
Bertekad untuk menyekolahkan Appril.
Bertekad untuk membelikan sepatu baru untuk Appril.
Bertekad menahan rasa lapar sewaktu kerja.
Bertekad menghidupi Appril dengan tubuhnya yang mulai renta.
Bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk Appril.
Semua yang diberikannya bagaikan seindah bunga mekar dan secantik bidadari.
Appril bangga mempunyai ibu seperti Ibu Kartini.
Ibu yang selalu menjujung tinggi nama pendidikan, ibu yang selalu mendorong anaknya untuk belajar.
Ibu yang mengorbankan tenaganya untuk menyekolahkan anaknya.
Dialah ibu yang Appril banggakan.
Dialah ibu yang Appril cinta.
Dialah Ibu yang Appril sayang.
Dialah ibu yang slalu ia kenang.
Dia Ibu…
Ibu…
Dan Ibu…
Ia semakin sedih saat mengetahui ini adalah hembusan nafas terakhir ibunya.
Ibunya yang bertekad seperti sosok ibu kartini.
Bertekad untuk menyekolahkan Appril.
Bertekad untuk membelikan sepatu baru untuk Appril.
Bertekad menahan rasa lapar sewaktu kerja.
Bertekad menghidupi Appril dengan tubuhnya yang mulai renta.
Bertekad untuk memberikan kebahagiaan untuk Appril.
Semua yang diberikannya bagaikan seindah bunga mekar dan secantik bidadari.
Appril bangga mempunyai ibu seperti Ibu Kartini.
Ibu yang selalu menjujung tinggi nama pendidikan, ibu yang selalu mendorong anaknya untuk belajar.
Ibu yang mengorbankan tenaganya untuk menyekolahkan anaknya.
Dialah ibu yang Appril banggakan.
Dialah ibu yang Appril cinta.
Dialah Ibu yang Appril sayang.
Dialah ibu yang slalu ia kenang.
Dia Ibu…
Ibu…
Dan Ibu…
Pesan Admin Blog :
Cerita ini bagus, walau bukan tulisan sendiri, saya sudah mencantum nama penulis cerpen ini, aku suka ceritanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar