2015/06/19

Kucintaimu Sampai Menutup Mata (By : Fhaby Rhiry Machareen)

Kucintai Mu Sampai Menutup Mata

Cerpen Karangan: 

Sore itu aku berjalan menyusuri jalan sepulang kerja. Lelah yang ku alami membuat aku berjalan seakan-akan tidak punya tujuan.
“Mungkin beginilah hidup yang harus aku jalani..” batinku berbisik.
Aku menuju sebuah taman di dekat tempat aku bekerja. AKu merebahkan diri di pinggiran danau di sekitar taman itu.
“Indahnya” gumamku.
Seketika lelahku hilang.. Namun tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah sosok di pinngir danau. Kelihatannya dia sedang bersedih. “Ada apa yah?” hatiku bertanya ingin tahu.
Kulangkahkan kakiku mendekati pemuda itu.
“Maaf..” Ujarku. Dia kaget.
Di menatapku. Tatapan itu seperti tatapan orang yang tidak punya harapan apa-apa. Kosong dan dingin.
“Kamu sedang apa?” tanyaku lagi
“Apa urusan mu bertanya seperti itu. Aku mau apa juga terserah..” ujarnya cuek.
Aku hanya terdiam.
“oh, maaf kalo kamu gak suka aku tanyain. Permisi..” ucapku lagi.
Namun tiba-tiba dia menarik tanganku.
Aku kaget dan spontan menghempaskan tangannya.
“Mau apa kamu.” tanyaku takut.
Detak jantungku seakan berlari mengikuti aliran darahku yang terpompa ke seluruh nadi.
“Aku mau mati saja..” Ucapnya dengan kepala tertunduk.
“kenapa?” rasa ibaku mulai muncul.
“Semua terasa berat..” lirihnya.
Aku duduk di dekatnya. “Kamu ada masalah apa?” tanyaku
Dia hanya tertunduk. Aku melihat wajahnya lesu, namun dia memang lelaki yang tampan dan mempesona. Aku membuyarkan pikiran ku tentangnya.
“Aku gak punya siapa-siapa di dunia ini..” dia mulai bercerita.
Tiba-tiba dia berdiri.. “Maaf, aku sudah membuat mu kaget tadi.”
Namun tetap dengan pandangan yang sepertinya jauh sekali.
“Aku mau jadi temanmu, kamu boleh bercerita denganku kapan kamu mau..” tawarku padanya.
Dia hanya tersenyum simpul. Giginya yang rapi membuat dia semakin mempesona. “Terimakasih yah..” ujarnya.
Dia berjalan meninggalkan ku yang berharap kalau aku masih bertemu dengannya lagi suatu hari.
Esoknya sepulang kerja aku kembali ke taman itu berharap dia ada disana.
Namun aku kecewa tidak ada tanda apapun yang menunjukkan dia kan kembali. Aku pulang dengan harapan sia-sia.
Di rumah aku selalu memikirkannya. Padahal aku baru sekali bertemu, aku gak mungkin punya rasa kepadanya, batinku.
Sejak hari itu aku kecewa karena Dia tak ada disana, aku tidak pernah lagi ke Taman itu. Meskipun aku setiap hari melewatinya…
Dua bulan berlalu, sepertinya ada rasa kangen ingin kesana. Sepulang kerja aku pergi ke taman itu dan duduk di tempat aku biasa duduk. Tak ada siapa pun disana. Aku melihat tempat dimana aku bertemu dengan pria itu. Dan aku hanya menghela nafas panjang. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali bertemu lagi dengannya.
“Kamu menunggu seseorang?” Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan ku. Aku menoleh ke sumber suara dan aku terpaku melihatnya. Dengan senyuman yang manis dan wajah yang tetap kelihatan dingin itu.
“Ka.. ka..mu..” tanyaku gugup.
“kenapa? Aku gak seperti hantu kan di matamu.” tanya nya.
Aku hanya terdiam. “Kamu kenapa tidak pernah lagi datang kemari? Aku mencarimu dan setiap hari aku datang ke tempat ini untuk bertemu kamu.” Ucapannya membuatku terkaget-kaget.
“Ka..mu nungguin aku?” tanyaku
“Iya, Apa aku salah? Kamu sendiri bilang kemarin, kapan pun aku mau bercerita kamu mau mendengarkannya, iya kan?” ujarnya
Sekarang nada bicaranya tidak sama seperti pertama aku bertemu dengannya.
“Kamu masih mau kan berteman denganku..?” tanyanya
“I…ya..” jawabku kaku.
Kali ini rasanya aku yang aneh dengan pertanyaan dan sikapnya itu.
Dia mengajak ku untuk membeli makanan untuk kami nikmati sembari kami bercerita.
Dia menceritakan segala apa yang terjadi padanya selama ini dan kenapa dia bisa sampai ke taman itu dan bertemu denganku.
Selama 3 bulan lebih kami selalu bertemu dan bercerita, bersenda gurau seperti layaknya teman akrab.
Ketika itu mendekati hari Valentine dan suasana di tempat kerja ku sudah sibuk untuk persiapan malam valentine.
“Rhy, ntar kamu kemana Valentine?” tanya Dian teman dekat ku di kerjaan.
Aku tersenyum simpul menanggapinya. “Gak ada planning mau kemana..” ucapku singkat.
“Gak jalan ma doi?” tanyanya
“Doi?” tanyaku heran.
“Kok kaget ditanya gitu? Mau bilang gak punya doi? Yang kemarin di taman siapa?” tanyanya
Aku hanya menggaruk kepala dan tersipu.
“Udah gak usah bohong lagi deh..” ujar Dian
Aku hanya tertawa dalam hati.. Andaikan Robby mencintaiku.
Dua hari menjelang Valentine aku bingung dengan perasaan ku. Dimas mengajakku berkencan dengannya. Tapi biasanya aku bertemu dengan Robby di Taman. Apa hari Valentine nanti dia akan bertemu aku atau dengan cewek lain? Aku kan belum Tanya dia punya pacar atau tidak. Aku kan hanya sebatas teman curhat baginya. Otak ku mulai mensugesti aku.
Malam itu kami bertemu kembali, seperti biasa. Dan kali ini aku terperangah melihat penampilannya yang menurut ku dia keren sekali, dan gak mungkin cowok sekeren itu gak punya pacar.
Aku semakin khawatir dengan hubungan yang aku jalin dengannya. Aku takut dia meninggalkan aku dan pergi bersama dengan cewek yang lain.
“Rob,” panggilku
“yah?” jawabnya menoleh kearah ku
“Valentine kamu gak ada rencana mau jalan sama pacar kamu?” tanyaku
Dia tertawa. Aku heran, apa jangan-jangan dia tau aku menyukainya.
“Kok ketawa sih, emang ada yang lucu?” tanyaku
“Gak ada, heran aja. Tiba –tiba nanyain gitu..”
Aku terdiam.
“Aku mau valentine bersama dengan orang yang aku sayang..” ujarnya
“owh..” aku hanya ber oh ria supaya dia gak curiga.
“Iya, aku ingin ajak dia kesini.. Gak apa-apa yah?” tanyanya
“Iya gak papa. Bawa aja. Aku juga ntar gak akan datang kesini. Aku ada janji dengan seseorang..” ujarku.
Dia menatapku. Matanya tersirat kekecewan.
“Kenapa gak datang? Aku juga mau ajak kamu datang kesini.. Biar kamu tau orangnya. Aku gak mau salah pilih..” ujarnya tersenyum misterius.
Aku terdiam sejenak memikirkan ucapannya. Lagian juga aku gak bakalan pergi dengan Dimas, aku gak suka sama dia.
“Ya udah deh aku datang tapi Cuma sebentar aja yah.. Aku gak bisa lama-lama..” ujarku dengan nada sedikit kecewa.
Malam itu aku gak bisa tidur nyenyak. Apalagi sebelum valentine tiba aku gak bisa ketemu dengannya. Semakin gelisah di dalam hatiku saat ini.
Dua hari berlalu..
Suasana Valentine membuat ramai tempat kerjaku.. Tapi aku semakin gak karuan. Sedih, gelisah bercampur jadi satu. Aku coba tenangkan hatiku dari gelisah ini. Namun gak bisa.
Sorenya aku pulang ke rumah dan gak semangat buat nyambut valentine hari ini. Gimana mau semangat orang yang kuharapkan untuk jadi pacarku sekarang malah mau kenalkan aku dengan orang yang dia sayang.
Aku beranjak mandi dan berpakaian. Aku lirik isi lemariku, ada sebuah kotak besar di sana. Aku bertanya-tanya dalam hati. Milik siapa ini? Rasanya aku gak punya kotak ini, batinku.
Aku mencari teman satu rumahku.
“Nita, ini punya siapa?” tanyaku.
“Oh iya aku lupa tadi, ada cowok keren tadi siang datang ke sini antar ini buat kamu” ujar Nita
“cowok? Keren??” aku bertanya balik
“Iya..” ujarnya meyakinkan
Aku membuka kotak itu, ada baju dan sepatu yang cantik sekali disitu.
“Apa mungkin Dimas yang kasih karena dia ajak aku jalan hari ini?” tanyaku
Aku semakin gak enak. Aku sms Dimas.
Buat apa kasih aku ginian, aku udah bilang aku gak bisa pergi dengan kamu..
Dimas membalas “kasih apa maksud kamu? Aku gak ngerti.”
Aku langsung berfikir berarti bukan dia yang kasih, trus siapa donk? Batinku.
Aku langsung punya fikiran buat pakai itu untuk nanti ketemu dengan Robby dan cewek yang akan dikenalkan padaku. Aku berfikir supaya nanti dia gak halangi aku buat pulang. Pasti aku gak akan bisa lihat mereka berdua mesra-mesraan disana.
Hatiku meringis mambayangkan hal yang paling menyakitkan itu.
Pukul 07.00 aku datang ke taman itu. Aku kaget begitu banyak lilin di danau dan disusun membentuk hati di pinggir danau tempat kami biasa duduk dan bercerita.
“Dia romantis sekali, sayang udah ada yang punya..” lirihku pada diri sendiri
Aku mencoba untuk menikmati tempat indah itu, aku tidur di antara lilin yang di pinggir danau itu. Cocok banget dengan kostum yang aku kenakan malam ini. Dan aku merasa aku bagaikan bidadari yang kesepian menanti sang pujangga.
Aku memejamkan mataku. Merentangkan tanganku.
“Kamu sudah disini?” tiba-tiba suara itu mengagetkan aku. Aku terbangun dan kulihat dia dengan pakaiannya yang keren.
“Ehh, kamu udah datang..” sahutku kikuk.
Dia mengajak aku berdiri dan dia mengamati aku dari atas sampai bawah.
“Kamu cantik sekali malam ini..” ujarnya tersenyum
Aku malu dan tertunduk.
“oh iya, mana tuh cewek, katanya mau kenalin aku dengan…” Tiba-tiba dia menghentikan ucapan ku dan membuat telunjuknya di bibirku.
Dia meraih tanganku dan berlutut di hadapanku.
“Kamulah gadis yang aku maksud itu.” Ucapanya
Aku kaget dan gak bisa bicara apa-apa.
“Kamu mau kan jadi malaikat hatiku..” tanyanya
Aku terdiam. Rasanya air mata ini hampir jatuh ke pipi.
“aku yakin kamu gak bakalan terima aku..” ujarnya kecewa karena aku gak jawab pertanyaannya
“Aku mau kok..” Jawabku
Dia menatapku, memastikan semua ucapanku.
“Beneran, kamu mau?”
Aku mengangguk dan tersenyum padanya..
Dia menarik aku dan memelukku.
“Terimakasih..” ujarnya
Aku hanya tersenyum bahagia.
Setelah 6 bulan kami berpacaran semuanya begitu indah. Namun, akhir-akhir ini dia mulai terlihat aneh dan gak seperti yang aku kenal. Dia lebih banyak diam dan pandangannya hampa..
“Kamu kenapa?” tanyaku
“Aku gak apa-apa sayang..” jawabnya
“Kamu sakit yah?” tanyaku membelai kepalanya
Dia tersenyum, dia menyandarkan kepala nya di pundakku.
“Aku sayang kamu..”
“aku juga” jawabku
Dia merebahkan kepalanya di pangkuan ku. Dan dia tertidur.
Aku hanya menatap ke Danau. Ada rasa sedih melihatnya seperti ini. Tak kusadari aku meneteskan air mata.
Dia terbangun.
“Sayang, kamu nangis?” tanyanya
Aku cepat-cepat menghapus air mataku
“Gak kok..” jawabku
“Kamu bohong kan?” selidiknya.
“Sayang..” Panggilnya
“Yah?”
“Kalo seandainya aku pernah menyakitimu, maafkan aku yah..”
“Iya..”
“Sayang..” Dia memanggil lagi
“Yah Sayang..”
“Aku bahagia bersama kamu, aku akan mencintaimu sampai aku menutup mataku..” ucapnya
Ucapan itu seakan menusuk hatiku. Ada kesedihan yang mendalam aku rasakan ketika dia mengatakan itu.
“Sayang..” panggilnya
Aku melihatnya. Dia tersenyum. Dia mengecup kening ku.
Aku merasa sedih itu semakin dalam ketika dia mengecup keningku.. Dia kembali tertidur di pangkuanku..
Aku membelai manja rambutnya tanda aku menyayanginya.
“Sayang..” panggilnya.
Kali ini aku hanya menatapnya tanpa menjawab panggilannya.
Dia tersenyum kepadaku, senyuman itu seakan senyum perpisahan bagiku. Dia mengecup bibirku dengan lembut.
“Aku mencintai kamu..” ucapnya.
Lalu ia merebahkan tubuhnya, aku melihat wajah itu tersenyum. Aku merasakan tubuhnya dingin sekali seketika itu juga.
“Sayang..” panggilku.
Tak ada sahutan darinya. Aku mengguncang tubuhnya dan memanggil namanya. Ketika aku mengguncang tubuhnya keluar darah dari mulutnya. Aku semakin panik dan histeris.
Aku teriak minta tolong, orang orang mulai berkerumun. Lalu membawanya ke rumah sakit. Namun nyawanya tak tertolong.
Di dalam Jas yang ia pakai aku temukan sebuah surat dan Surat wasiat. Di dalam surat itu dia menuliskan untuk membuat pemakaman khusus untuknya di dekat danau tempat kami biasa bertemu. Dan surat wasiat itu isinya dia akan menyerahkan warisan dari orangtuanya untuk ku.
Rintik hujan yang membasahiku saat pemakamannya tak membuat aku beranjak dari tempat itu. Dengan hati yang pilu aku duduk dan mulai membuka serta membaca suratnya:
“Rhiry sayang, maafin aku kalau aku gak pernah bahagiain kamu, bahkan di sisa akhir hidupku. Aku bahagia bertemu denganmu waktu itu. Aku merasa di sisa hidupku aku berarti.
Sayang, maafin aku gak pernah cerita penyakitku padamu.
Aku gak ingin kamu sedih, aku gak ingin kamu tetap bersamaku karena kamu kasihan melihatku, tapi aku tau cintamu tulus untukku dan bukan karena apa yang ada padaku.
Aku mencintaimu sayang. Maafkan kalau aku tak bisa bersamamu selamanya seperti yang kamu harapkan.
Aku menyayangimu, sungguh sangat menyayangimu.
With Love,
Robby
Aku menangis kembali teringat pertemuanku dengannya.
“Aku juga mencintaimu, sayang..”
Kurasakan bayangnya mendekap tubuhku. Aku berharap hujan yang turun membawa salam ku untuk nya yang jauh disana..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar