By : Muhammad Wildhan
AH~ Senang akhirnya aku dapat pekerjaan yang awalnya aku pengangguran, tetapi aku sebagai petugas ambulance walau agak ngeri, tak apalah yang penting pekerjaannya halal, oh ya namaku Andi usiaku 21 tahun, aku dapat pekerjaan ini juga di kasih tahu temanku Yudhi dia baik sampai membantu mencari pekerjaan untukku.
Sekarang
tepat pukul 9 pagi aku sudah memakai pakaian rapih untuk ke rumah sakit yang di
maksud Yudhi ya, aku berangkat dengan angkutan kota, sesampai di sana tepat
pukul 10 pagi lumayan jauh dan tadi sempet macet, aku turun dari angkutan kota.
Aku melihat
rumah sakit yang bagus, aku pun masuk ke dalam rumah sakit, tak ku sangka aku
bertemu dengan Yudhi.
“Aku kira
kamu gak mau jadi pengantar jenazah”
“Ya, terpaksa daripada tidak kerja coba”
“Ayo deh masuk”
“Ya, terpaksa daripada tidak kerja coba”
“Ayo deh masuk”
Aku dengan
Yudhi masuk ke dalam rumah sakit, Yudhi menunjukanku ruang kerja bosnya,
sayangnya Yudhi tidak menemaniku ya udah deh tidak apa apa, aku masuk ke dalam
ruang kerja bosnya.
“Pagi pak”
“Pagi, ehm.. kamu yang mau kerja disini kan”
“Iya pak”
“Kamu boleh duduk” bos menyuruhku duduk
“Kebetulan pengantar korban yang biasanya kecelakaan kebetulan tempat ini kekurangan pegawai, kamu mau menjadi pegawai ambulance kan ?”
“Ya pak mau”
“Ya sudah nanti malam kamu datang kesini jam 8 ya udah stand by disini”
“Iya pak makasih”
“Saya minta nomer teleponmu agar memudahkan saya menghubungi anda”
“Pagi, ehm.. kamu yang mau kerja disini kan”
“Iya pak”
“Kamu boleh duduk” bos menyuruhku duduk
“Kebetulan pengantar korban yang biasanya kecelakaan kebetulan tempat ini kekurangan pegawai, kamu mau menjadi pegawai ambulance kan ?”
“Ya pak mau”
“Ya sudah nanti malam kamu datang kesini jam 8 ya udah stand by disini”
“Iya pak makasih”
“Saya minta nomer teleponmu agar memudahkan saya menghubungi anda”
Setelah itu aku
pun pergi dari rumah sakit itu, aku senang sudah dapat pekerjaan disana, ya aku
sekalian menunggu aku mempersiapkan diri namun sebelumnya aku tidur siang agar
nanti malam aku tak mengantuk.
Tak terasa
sudah jam 19.30 aku berangkat ke rumah sakit itu, semua sudah aku siapkan.
Sesampai di tempat aku di berikan seragam petugas, ya sambil menunggu korban
kecelakaan
(-_- Aku kejam ya ?) sambil ngobrol ngobrol sama orang orang yang bekerja di rumah sakit itu ya tapi yang aku anehin kok ada yang namanya Yudhi ya padahal tadi pagi aku bertemu dengan dia, ya mungkin dia memakai nama lain.
(-_- Aku kejam ya ?) sambil ngobrol ngobrol sama orang orang yang bekerja di rumah sakit itu ya tapi yang aku anehin kok ada yang namanya Yudhi ya padahal tadi pagi aku bertemu dengan dia, ya mungkin dia memakai nama lain.
Tak
berselang lama aku mendapat berita ada korban kecelakaan, ya aku dengan sigap
langsung ke dalam mobil ambulance ya dengan Yudhi, ya aku agak deg degan sih
karena hari pertama kerja, terus aku sebenarnya takut sama korban yang darah
yang bercucuran setelah dari kecelakaan.
Aku sudah di
temani Yudhi yang mengendarai mobil Ambulance, saat aku melihat di kaca Toni
seperti mengejarku tapi sudah ketinggalan jauh, mungkin dia capek mengejarku,
tapi buat apa mengejarku, aku kan sudah dengan Yudhi.
“Yudhi,
jangan kencang kencang dong”
“Ya memang begini pekerjaan petugas ambulance, harus cepat tapi dengan hati hati”
“Oh begitu, tapi aku jadi pusing”
“Oh sorry terlalu semangat sih, kan ada kamu sekarang kerja bareng sama aku”
“Ah bisa aja bro”
“Ya memang begini pekerjaan petugas ambulance, harus cepat tapi dengan hati hati”
“Oh begitu, tapi aku jadi pusing”
“Oh sorry terlalu semangat sih, kan ada kamu sekarang kerja bareng sama aku”
“Ah bisa aja bro”
Tak terasa
sudah sampai di tempat banyak orang yang melihat korban yang telah di tutupi
Koran, tetapi saat aku ingin membuka Koran korban Yudhi melarangku, ya aku dan
Yudhi mengambil jenasah itu dengan bantuan orang orang dan memasukannya ke
dalam mobil ambulance, setelah itu kami kembali ke dalam mobil ambulance.
Yudhi yang sedang mengemudi mobil dengan
kecepatan hampir penuh untuk memungkinkan untuk menyelamatkan korban, aku
menoleh belakang ada seorang perempuan rambut panjang dekat jasad itu.
“Yud..”
“Ehm”
“Bukannya tadi kita bertiga”
“Iya memang kenapa”
“Ada perempuan di belakang kita”
“Nggak ada” Yudhi menengok belakang
“Serius tadi ada”
“Jangan aneh aneh deh, sekarang malam jumat”
“Yud, bisa berhenti gak aku kebelet nih udah mau di ujung”
“Ya elah mau pipis lagi, bentar lagi mau nyampe”
“Gak bisa di tahan nih”
“Ehm”
“Bukannya tadi kita bertiga”
“Iya memang kenapa”
“Ada perempuan di belakang kita”
“Nggak ada” Yudhi menengok belakang
“Serius tadi ada”
“Jangan aneh aneh deh, sekarang malam jumat”
“Yud, bisa berhenti gak aku kebelet nih udah mau di ujung”
“Ya elah mau pipis lagi, bentar lagi mau nyampe”
“Gak bisa di tahan nih”
Yudhi pun memberhentikan mobil Ambulance,
Aku keluar dari mobil ambulance berjalan ke semak semak dekat pohon besar,
setelah kencing aku kembali ke ambulance, Yudhi telah menungguku di luar, aku
pun kembali masuk, Yudhi pun mengendarai mobil.
Sudah tepat pukul 23.00 aku lihat di
handphoneku perasaanku gak enak, aku lihat belakang ada jenazah, dan ku
perhatikan jalan ini sudah 3x keliling.
“Yud, apa
kita masih jauh”
“Nggak kok sebentar lagi sampai”
“Ok deh”
“Andi, aku mau kencing dulu ya” Yudhi sambil memberhentikan mobil dan keluar dari mobil
“Nggak kok sebentar lagi sampai”
“Ok deh”
“Andi, aku mau kencing dulu ya” Yudhi sambil memberhentikan mobil dan keluar dari mobil
Setelah itu tiba tiba Yudhi menelpon aku
perasaan tadi aku habis bertemu dia
“Iya hallo”
“Kamu kenapa lama banget kencingnya aku udah nungguin di mobil”
“Lah bukannya kamu tadi bareng aku ?”
“Apaan aku dari tadi nungguin kamu”
“Lah tadi yang sama aku siapa dong ?”
“Jenasahnya gak ada, coba di mobilmu lihat”
“Kamu kenapa lama banget kencingnya aku udah nungguin di mobil”
“Lah bukannya kamu tadi bareng aku ?”
“Apaan aku dari tadi nungguin kamu”
“Lah tadi yang sama aku siapa dong ?”
“Jenasahnya gak ada, coba di mobilmu lihat”
Yudhi melihat dalam mobil ambulance
ternyata ada, setelah itu Aku mematikan telepon aku tak bisa berbuat apa apa
kebingungan di belakang seperti ada yang memanggilku, aku menoleh ke belakang
tidak ada orang, aku pun memejamkan mata.
Aku terbangun sudah ada di rumah sakit
tempat aku bekerja, aku menengok dalam mobil sudah tidak ada jenazah dan Yudhi
tidak ada ya aku pikir mungkin sudah sampai, aku yang masih setengah mengantuk
turun dari mobil, aku memang setengah sadar pada saat itu, saat aku berjalan
aku melihat dari bawah kaki seseorang aku pun menengok ke dari bawah ke atas
dan ternyata bapak bapak.
“Adek dari
mana, adek petugas ambulance ya ?”
“Ya pak, tadi habis disana mengantar jenazah hoam..” kataku sambil menunjuk yang masih ngantuk
“Ah adek bercanda itu kan pohon”
“Ha pohon”
“Kok jadi pohon, serius pak tadi itu”
“Udahlah dek mungkin adek lelah ikut bapak saja saya kebetulan orang sini jadi tahu rumah sakit terdekat”
“Ya pak, tadi habis disana mengantar jenazah hoam..” kataku sambil menunjuk yang masih ngantuk
“Ah adek bercanda itu kan pohon”
“Ha pohon”
“Kok jadi pohon, serius pak tadi itu”
“Udahlah dek mungkin adek lelah ikut bapak saja saya kebetulan orang sini jadi tahu rumah sakit terdekat”
Aku berjalan bersama dengan bapak yang baik
hati itu, Ah~ Syukur deh aku ada teman, sampai di tempat pos kamling ada bapak
bapak lain juga yang meronda aku ikut ya masih kebingungan.
“Dek ini ada
minuman, kamu minum ini ya, kamu mungkin haus”
“Ya pak makasih”
“Ya pak makasih”
Tak beberapa lama mobil ambulance datang dan
ternyata itu Yudhi yang akhirnya menemukan aku.
“Akhirnya
ketemu juga..”
“Aku juga bingung tadi aku tadi ketemu kamu”
“Ah sudah jangan di pikirkan, pak makasih ya udah bertemu dengan teman saya”
“Ya dek sama sama”
“Aku juga bingung tadi aku tadi ketemu kamu”
“Ah sudah jangan di pikirkan, pak makasih ya udah bertemu dengan teman saya”
“Ya dek sama sama”
Aku
dan Yudhi pun kembali ke dalam ambulance, Yudhi mengendarai mobil ambulance
dengan jalan seperti tadi, saat di tengah jalan ada gadis rambut panjang tadi
di tengah jalan Yudhi seketika rem mendadak karena aku kaget aku menutup mata sejenak,
setelah menutup mata.
Aku melihat
Yudhi tiba tiba menghilang, Jenazahnya masih ada, aku masih kebingungan apa
yang terjadi padaku ada sesuatu yang aneh, aku pun terpaksa mengendarai mobil
ambulance dengan cepat, aku tak mau ambil pusing, aku tancap gas.
Tapi aku
merasa aneh dari tadi aku seperti mengelilingi tempat ini lagi, dan bertemu
bapak bapak tadi meronda aku pun berhenti keluar dari ambulance menuju bapak
bapak tadi.
“Lah adek
kesini lagi”
“Bapak, aku dari tadi kok muter terus ya disini”
“Ah masa, kamu barusan jalan tadi 5 menit yang lalu”
“5 Menit yang lalu ?”
“Bapak, aku dari tadi kok muter terus ya disini”
“Ah masa, kamu barusan jalan tadi 5 menit yang lalu”
“5 Menit yang lalu ?”
Tiba tiba
ada yang memegang pundakku, aku dengan rasa takut menoleh belakang Yudhi
menakutiku.
“Doar.”
“Ah, bikin kaget saja habis kemana sih”
“Aku tadi nyasar ngobrol sama bapak bapak disini, lah kok ngilang”
“Mana bapak bapaknya ?”
“Lah, tadi di sini”
“Udahlah ayo masuk”
“Ah, bikin kaget saja habis kemana sih”
“Aku tadi nyasar ngobrol sama bapak bapak disini, lah kok ngilang”
“Mana bapak bapaknya ?”
“Lah, tadi di sini”
“Udahlah ayo masuk”
Akhirnya aku sampai di tempat rumah
sakit aku, namun sebelumnya Yudhi sempat berhenti sejenak membeli sesuatu di
warung kecil, setelah itu Yudhi duduk di bagian belakang sambil duduk dekat
dengan jenazah, sesampai di tempat aku bertemu dengan Toni.
“Ah lu, tadi
ninggalin gue”
“Emang ada apa ?”
“Kata bos gue sama lu itu ke tkp mengambil jenazah”
“Aku tadi bareng Yudhi”
“Hust… jangan ngomong orang yang sudah meninggal”
“Ah, Toni bercanda nih”
“Serius Yudhi tadi kecelakaan motor, gue kan temen deketnya di kasih tahu oleh adiknya dan sekarang ada di rumah sakit mungkin”
“Emang ada apa ?”
“Kata bos gue sama lu itu ke tkp mengambil jenazah”
“Aku tadi bareng Yudhi”
“Hust… jangan ngomong orang yang sudah meninggal”
“Ah, Toni bercanda nih”
“Serius Yudhi tadi kecelakaan motor, gue kan temen deketnya di kasih tahu oleh adiknya dan sekarang ada di rumah sakit mungkin”
Aku pun menoleh ke belakang, Yudhi dan
Jenazahnya menghilang, aku menunjukan muka pucat aku.
“Lu kenapa
?”
“Tadi aku bareng Yudhi… berangkatnya serius deh aku gak bohong, yang bareng aku tadi siapa dong ?”
“Lu turun dulu deh”
“Tadi aku bareng Yudhi… berangkatnya serius deh aku gak bohong, yang bareng aku tadi siapa dong ?”
“Lu turun dulu deh”
Aku turun dari mobil ambulance menceritakan
pada Toni yang terjadi.
“Disini
sebenarnya tak ada nama Yudhi yang ada Roni yang kamu maksud karena dia memakai
nama depannya, Yudhi memang tadi pagi masih kerja disini, tapi saat malam hari
Yudhi mau ke rumah sakit ini dengan motor ninjanya dia mengendarai kecepatan
penuh, coba deh kita periksa di mobil tadi”
“Aku jadi takut nih”
“Ayo ada Gue”
“Aku jadi takut nih”
“Ayo ada Gue”
Aku
dan Toni pun kembali ke mobil ambulance dan ternyata jenazah muncul lagi, aku
pun memberanikan diri mengeluarkan jenazah dengan toni aku dorong namun aku
sebenarnya penasaran siapa di balik muka ini. Aku menyuruh Toni untuk berhenti,
Toni berhenti.
Aku membuka di balik selimut itu, tetapi
dokter memanggilku, ya terpaksa aku dan Toni cepat cepat untuk jalan, aku
menghantarkan jenazah itu di ruang kerja dokternya aku dan Toni hanya bisa
duduk di ruang tunggu.
Tak
berapa lama, dokter keluar.
“Inanilahi
Roni telah meninggal dunia”
“Pak kok Roni ?”
“Kamu kan membawa dia kemari”
“Jadi tadi pak, tadi Andi bareng Roni tadi mengambil jenazah”
“Kalau gak percaya lihat dulu”
“Pak kok Roni ?”
“Kamu kan membawa dia kemari”
“Jadi tadi pak, tadi Andi bareng Roni tadi mengambil jenazah”
“Kalau gak percaya lihat dulu”
Aku, Toni
dan Dokter masuk ke dalam ruangan, aku melihat ternyata Roni atau Yudhi telah
meninggal dunia, dan selama ini yang menemani aku tadi siapa ?