Maaf, kalau nantinya saya tidak menge-post, karena saya sebentar lagi ukk, dan saya punya acara, jadi nanti 8-14 Juni belum bisa melanjutkan ngeblog, tapi kalau ada yang mau mengkritik dan memberi saran bisa chat ke pada saya di facebook saya
Blog yang berisi dengan cerita pendek/bersambung karya saya sendiri.. kalau ada hasil karya orang lain saya cantumkan namanya
2015/05/31
2015/05/30
ANDAI AKU BISA PART 3
“Tante, Andi sakit
ya” ucap Nina
“Ya, tadi tante belum sempat menanyakan, kemarin apa yang terjadi” ucap Bu lINA“Kemarin, dia pingsan di sisi kolam dan terjebur ke dalam kolam, pas itu dia ingin membawakan sesuatu untuk saya” ucap Nina
“Oh begitu, oh iya ini ada surat buat Fransisca” ucap Bu Lina
“Iya nanti Nina sampaikan” ucap Nina
“Saya mau pergi kerja dulu ya” ucap Bu Lina
“Ya, tadi tante belum sempat menanyakan, kemarin apa yang terjadi” ucap Bu lINA“Kemarin, dia pingsan di sisi kolam dan terjebur ke dalam kolam, pas itu dia ingin membawakan sesuatu untuk saya” ucap Nina
“Oh begitu, oh iya ini ada surat buat Fransisca” ucap Bu Lina
“Iya nanti Nina sampaikan” ucap Nina
“Saya mau pergi kerja dulu ya” ucap Bu Lina
Bu Lina pun pergi
meninggalkan sekolah, Nina pun kembali masuk ke dalam kelas.
“Fransisca ini ada
surat dari Andi” ucap Nina
“Ogah ah” ucap Fransisca
“Jangan gitu dong dia sahabatmu, masa gini sama sahabatmu sendiri, nanti kamu merasakan bagaimana nggak enak kalau gak ada orang yang mau menemanimu” ucap Nina mengambil surat kembali
“Inget Sis, dia mau minta maaf, kalau kamu begini.. sudahlah kamu belain Nathan yang kamu sukai, tapi Nathan belum tentu menyukaimu..” ucap Nina
“Ogah ah” ucap Fransisca
“Jangan gitu dong dia sahabatmu, masa gini sama sahabatmu sendiri, nanti kamu merasakan bagaimana nggak enak kalau gak ada orang yang mau menemanimu” ucap Nina mengambil surat kembali
“Inget Sis, dia mau minta maaf, kalau kamu begini.. sudahlah kamu belain Nathan yang kamu sukai, tapi Nathan belum tentu menyukaimu..” ucap Nina
Nina pun pergi
meninggalkan Fransisca. Nina pun mendekati Jujun dan duduk sejenak.
“Ah sebel sama tuh
anak” ucap Nina
“Memang ada apa sih kemarin ?” Jujun bertanya
“Andi pingsan kecebur di kolam, Nathan sombong kolamnya entar lecet, Fransisca yang menyukai Nathan membela Nathan dari pada Andi. Andi juga mukanya pucat dia rela relain datang ke rumah Fransisca buat ke pesta Nathan” ucap Nina
“Keterlaluan memang” ucap Jujun
“Sekarang Andi lagi sakit, nanti mau jengukin gak ?” Nina bertanya
“Jengukin” ucap Jujun
“Memang ada apa sih kemarin ?” Jujun bertanya
“Andi pingsan kecebur di kolam, Nathan sombong kolamnya entar lecet, Fransisca yang menyukai Nathan membela Nathan dari pada Andi. Andi juga mukanya pucat dia rela relain datang ke rumah Fransisca buat ke pesta Nathan” ucap Nina
“Keterlaluan memang” ucap Jujun
“Sekarang Andi lagi sakit, nanti mau jengukin gak ?” Nina bertanya
“Jengukin” ucap Jujun
Tepat jam istirahat
pertama Jujun dan Nina sedang makan, yang sedang asyik asyiknya Fransisca
datang.
“Pagi guys, maafin
aku” ucap Fransisca
“Heh Sisca dah, Jun kita pergi dah” ucap Nina
“Tunggu aku mau” ucap Fransisca
“Lu terlalu suka sama Nathan, apa lu gak sadar Andi itu kemarin mukanya pucat yang gak ngeyakinin ke pesta, bela belain datang ke rumah lo ke pesta orang yang lo suka, apa lo gak sadar, lo jadi begini, sahabat kok gini, jika Andi suatu hari pergi meninggalkanmu selama lamanya entar nyesel” ucap Jujun
“Heh Sisca dah, Jun kita pergi dah” ucap Nina
“Tunggu aku mau” ucap Fransisca
“Lu terlalu suka sama Nathan, apa lu gak sadar Andi itu kemarin mukanya pucat yang gak ngeyakinin ke pesta, bela belain datang ke rumah lo ke pesta orang yang lo suka, apa lo gak sadar, lo jadi begini, sahabat kok gini, jika Andi suatu hari pergi meninggalkanmu selama lamanya entar nyesel” ucap Jujun
Jujun dan Nina pun
pergi dari kantin, Fransisca pun pergi ke lantai 4 sekolah murung sendiri.
“Apakah aku sejahat
itu pada Andi ?
Kok jadi begini sih? Aku tahu memang salah ?
Maafkan aku ya Andi”
Kok jadi begini sih? Aku tahu memang salah ?
Maafkan aku ya Andi”
Sepulang sekolah,
Jujun dan Nina pun pulang bareng untuk menjenguk Andi. Fransisca yang sendiri
yang tak punya teman mendekati Jujun dan Nina.
“Aku boleh gabung
gak ?” Fransisca bertanya
“Nggak” bentak Nina memegang tangan Jujun untuk belari
“Maaf ya Jun, Nin jadi marah sama aku” ucap Fransisca
“Nggak” bentak Nina memegang tangan Jujun untuk belari
“Maaf ya Jun, Nin jadi marah sama aku” ucap Fransisca
Dari belakang Nathan
melihat itu, Nathan pun mendekati Fransisca yang telah mengendarai motor.
“Nggak ada Andi ya,
ayo naik” ucap Nathan
“Eh kak Nathan, iya deh kak” ucap Fransisca
“Eh kak Nathan, iya deh kak” ucap Fransisca
Fransica pun ikut
dengan motor Nathan. Jujun dan Nina pun menjenguk ke rumah Andi.
“Apa ?, kok jadi
gitu” ucap Andi
“Aku nggak mau kamu sakit hati karena ejekan itu Andi” ucap Nina
“Aku nggak sakit hati, aku nggak mau kalian jadi berpisah begini, aku itu pengen kalian bareng terus, tapi suratnya udah di kasihkan” ucap Andi
“Udah aku keselipin” ucap Jujun
“Tapi kan Andi dia kan menyebalkan” ucap Nina
“Gitu gitu juga sahabatku” ucap Andi
“Masih anggep saja Sahabat. Orang mana yang mau di sakiti sama sahabat” ucap Jujun
Di sela sela perbicaraan hidung Andi mimisan lagi, Andi pun membersihkan hidungnya lagi.
“Aku nggak mau kamu sakit hati karena ejekan itu Andi” ucap Nina
“Aku nggak sakit hati, aku nggak mau kalian jadi berpisah begini, aku itu pengen kalian bareng terus, tapi suratnya udah di kasihkan” ucap Andi
“Udah aku keselipin” ucap Jujun
“Tapi kan Andi dia kan menyebalkan” ucap Nina
“Gitu gitu juga sahabatku” ucap Andi
“Masih anggep saja Sahabat. Orang mana yang mau di sakiti sama sahabat” ucap Jujun
Di sela sela perbicaraan hidung Andi mimisan lagi, Andi pun membersihkan hidungnya lagi.
“Akhir akhir ini
hidung mu kenapa sih Andi ?” Nina bertanya
“Aku juga nggak tahu jadi gini” ucap Andi
“Mungkin kamu kelelahan Andi” ucap Nina
“Tapi aku tidak merasakan kelelahan Nin” ucap Andi
“Aku juga nggak tahu jadi gini” ucap Andi
“Mungkin kamu kelelahan Andi” ucap Nina
“Tapi aku tidak merasakan kelelahan Nin” ucap Andi
***
Sudah beberapa hari
Andi sakit, Andi kembali masuk sekolah yang membuat Jujun dan Nina senang.
“Akhirnya ketemu di
sekolah” ucap Nina
“Iya, maaf aku sempat sakit” ucap Andi
“Oh ya berhubungan Andi kembali sekolah, aku terakirin Nina dan Andi” ucap Jujun
“Yeay..” ucap Nina
“Iya, maaf aku sempat sakit” ucap Andi
“Oh ya berhubungan Andi kembali sekolah, aku terakirin Nina dan Andi” ucap Jujun
“Yeay..” ucap Nina
Fransisca melihat
Andi, Nina dan Jujun bahagia begitu dia hanya bisa tersenyum sedikit dan
merundukan kepala.
Bel istirahat
berbunyi, Andi, Nina dan Jujun keluar dari kelas pergi ke kantin.
“Kalian berdua duduk
di sana ya aku yang memesan, makanan yang biasa kan” ucap Jujun
“Iya seperti biasa” ucap Andi dan Nina
“Iya seperti biasa” ucap Andi dan Nina
Andi dan Nina pun
duduk di kursi meja 10, Jujun pun memesan makanan, kebetulan yang dekat teman
teman Nathan tak sengaja Jujun mendengarkan pembicaraan mereka, setelah itu
Jujun menerima makanan dan membawanya di meja 10 memberikan pada Andi dan Nina.
“Ini” ucap Jujun
memberikan Andi dan Nina
“Makasih sebelumnya ya Jun” ucap Andi
“Sama sama” ucap Jujun
“Kapan kapan gini lagi dong Jun” ucap Nina
“Ye, keenakan” ucap Jujun
“Makasih sebelumnya ya Jun” ucap Andi
“Sama sama” ucap Jujun
“Kapan kapan gini lagi dong Jun” ucap Nina
“Ye, keenakan” ucap Jujun
***
“Yah sepedahku..”
ucap Andi melihat sepedahnya kemps
“Andi, kamu belum pulang ?” Fransisca bertanya
“Belum, sepedahku kempes” ucap Andi
“Ehm, aku tahu bengkel daerah sini” ucap Fransisca
“Ya sudah, anterin aku ke bengkel” ucap Andi
“Andi, kamu belum pulang ?” Fransisca bertanya
“Belum, sepedahku kempes” ucap Andi
“Ehm, aku tahu bengkel daerah sini” ucap Fransisca
“Ya sudah, anterin aku ke bengkel” ucap Andi
Andi dan Fransisca
pun jalan bareng, sementara Jujun dan Nina dari belakang mengikuti mereka
berdua.
“Maaf ya, soal itu
Andi” ucap Fransisca
“Udah aku maafin kok, mungkin aku yang salah” ucap Andi
“Nggak aku yang salah, dari sini lurus belok kanan terus kiri ketemu warnet”ucap Fransisca
Andi pun mengikuti arah jalan Fransisca, hingga sampai gang Nina dan Jujun mengikuti, namun saat mau sampai di bengkel, ada gerombolan preman memakai topeng
“Udah aku maafin kok, mungkin aku yang salah” ucap Andi
“Nggak aku yang salah, dari sini lurus belok kanan terus kiri ketemu warnet”ucap Fransisca
Andi pun mengikuti arah jalan Fransisca, hingga sampai gang Nina dan Jujun mengikuti, namun saat mau sampai di bengkel, ada gerombolan preman memakai topeng
“Hei, kalian berdua ngapain
di jalan ini, ini jalan milik kita” ucap Preman A
“Nggak, ini jalan pejalan kaki” ucap Andi
“Andi, udah jangan di bales” ucap Fransisca
“Kalian berdua, harus memilih harta atau nyawa” ucap Preman B
“Nyawa” ucap Andi dengan berani
“Wah nantangin, ayo kita bertarung siapa yang menang” ucap Preman C
“Sis, kamu jauh jauh, sekalian nitip tas sama kacamataku” ucap Andi
“Andi, jangan dong” ucap Fransisca
“Ini demi kamu agar selamat” ucap Andi
“Nggak, ini jalan pejalan kaki” ucap Andi
“Andi, udah jangan di bales” ucap Fransisca
“Kalian berdua, harus memilih harta atau nyawa” ucap Preman B
“Nyawa” ucap Andi dengan berani
“Wah nantangin, ayo kita bertarung siapa yang menang” ucap Preman C
“Sis, kamu jauh jauh, sekalian nitip tas sama kacamataku” ucap Andi
“Andi, jangan dong” ucap Fransisca
“Ini demi kamu agar selamat” ucap Andi
Satu persatu preman
maju melawan Andi, dengan jurus bela diri Andi melawan mereka.
“Andi kok bisa bela
diri ya ?” Nina bertanya
“Iya, dia gak pernah cerita sama kita” ucap Jujun
“Iya, dia gak pernah cerita sama kita” ucap Jujun
Tanpa pikir panjang
Jujun dan Nina memberanikan diri membantu Andi melawan preman yang membuat Andi
kaget, hingga preman itu kabur, meskipun wajah Andi memar.
“Udah kalian semua
selamat kan ?” Andi bertanya
“Udah nggak apa apa” ucap Nina
“Andi, Jujun, Nina terima kasih melindungiku” ucap Fransisca
“Andi, kamu kok gak cerita kamu itu bisa bela diri” ucap Jujun
“Aku pernah ikut bela diri dari kelas 1 sd sampe kelas 6 sd, untung deh jurusnya masih ingat jadi bisa melawan preman” ucap Andi
“Oh ya, kalian berdua mengikuti ku ?” Andi bertanya
“Iya, aku mendengar rencana dari kakak kelas yang berusaha membuat Andi mati” ucap Jujun
“Oh, tenang saja guys, aku nggak apa apa kok” ucap Jujun
“Udah nggak apa apa” ucap Nina
“Andi, Jujun, Nina terima kasih melindungiku” ucap Fransisca
“Andi, kamu kok gak cerita kamu itu bisa bela diri” ucap Jujun
“Aku pernah ikut bela diri dari kelas 1 sd sampe kelas 6 sd, untung deh jurusnya masih ingat jadi bisa melawan preman” ucap Andi
“Oh ya, kalian berdua mengikuti ku ?” Andi bertanya
“Iya, aku mendengar rencana dari kakak kelas yang berusaha membuat Andi mati” ucap Jujun
“Oh, tenang saja guys, aku nggak apa apa kok” ucap Jujun
Tiba tiba Andi
pingsan membuat Nina, Fransisca dan Jujun kaget, mereka bertiga pun membawa pulang
Andi dengan keadaan memar, sesampai di rumah Andi, Fransisca memencet bel rumah
Andi, hingga di buka oleh Bu Lina.
“Assalamualaikum
tante” ucap Jujun, Nina dan Fransisca
“Walaikumsalam, eh Andi kenapa ?, ayo bawa masuk” ucap Bu Lina
“Walaikumsalam, eh Andi kenapa ?, ayo bawa masuk” ucap Bu Lina
Mereka pun membawa Andi masuk di berbaringkan di sofa, letak luka
Andi dekat dengan bawah mata, bawah mulut dan pipinya.
“Oh begitu terima
kasih ya kalian sudah mengantarkan Andi kesini” ucap Bu Lina
“Sama sama tante, ini ada plester buat Andi” ucap Fransisca memberikan plester 3 buah
“Ehm, tante sudah sore kami bertiga pulang ya” ucap Jujun
“Oh ya ya” ucap Bu Lina
“Sama sama tante, ini ada plester buat Andi” ucap Fransisca memberikan plester 3 buah
“Ehm, tante sudah sore kami bertiga pulang ya” ucap Jujun
“Oh ya ya” ucap Bu Lina
Mereka bertiga pun
pulang ke rumah masing masing
***
Andi membuka mata
perlahan lahan, ternyata sudah ada Bu Lina (Ibunya), Pak Dio (Ayahnya), Rio
(Adiknya), Vero (Kakaknya)
“Aku kok ada di
kamar ?” Andi bertanya
“Kamu pingsan setelah melawan preman” ucap Bu Lina
“Andi, ternyata melindungi.. sahabatnya” ucap Vero
“Eh, Kak Vero kapan datang ?” Andi bertanya
“Setelah teman temanmu datang kemari” ucap Vero
“Kakak datang nggak bilang bilang” ucap Andi
“Kesannya surprise” ucap Vero
“Ayah mau keluar dulu ya sama mama, mau membeli sesuatu, Vero, Rio, Andi baik baik di rumah ya” ucap Pak Dio
“Ya pah” ucap Andi, Vero, Rio
“Kamu pingsan setelah melawan preman” ucap Bu Lina
“Andi, ternyata melindungi.. sahabatnya” ucap Vero
“Eh, Kak Vero kapan datang ?” Andi bertanya
“Setelah teman temanmu datang kemari” ucap Vero
“Kakak datang nggak bilang bilang” ucap Andi
“Kesannya surprise” ucap Vero
“Ayah mau keluar dulu ya sama mama, mau membeli sesuatu, Vero, Rio, Andi baik baik di rumah ya” ucap Pak Dio
“Ya pah” ucap Andi, Vero, Rio
Bu Lina dan Pak Dio
keluar dari kamar Andi.
“Kak Vero itu
kakakku ?” Rio bertanya
“Kamu nggak tahu ya, pas itu kamu masih bayi” ucap Vero
“Selama ini kakak kemana ?” Rio bertanya
“Kerja di luar negeri” ucap Vero
“Andi, Rio kakak masakin makanan” ucap Vero
“Masakan waktu itu ya kak” ucap Andi
“Kamu nggak tahu ya, pas itu kamu masih bayi” ucap Vero
“Selama ini kakak kemana ?” Rio bertanya
“Kerja di luar negeri” ucap Vero
“Andi, Rio kakak masakin makanan” ucap Vero
“Masakan waktu itu ya kak” ucap Andi
Andi, Rio dan Kak
Vero menuju dapur, Andi dan Rio bermain sebentar, Kak Vero memasak, sekitar
15-20 menit masakan sudah jadi.
“Spagheti bumbu
padang” ucap Kak Vero
“Udah lama nggak makan ini” ucap Andi
“Kakak, makan ini pas umur berapa ?” Rio bertanya
“5 Tahun, Kak Vero 11 Tahun udah bisa masak makanan ini” ucap Andi
“Apa enak rasanya ?” Rio bertanya
“Coba saja” ucap Kak Vero
“Udah lama nggak makan ini” ucap Andi
“Kakak, makan ini pas umur berapa ?” Rio bertanya
“5 Tahun, Kak Vero 11 Tahun udah bisa masak makanan ini” ucap Andi
“Apa enak rasanya ?” Rio bertanya
“Coba saja” ucap Kak Vero
Bersambung
3 Part dulu ya, besok lagi baru bikin 3 part, kalau ada yang suka koment ya biar saya mengerti apakah ada yang salah dari cerbung ini apakah ada kekurangannya
Andai Aku Bisa Part 2
By : Muhammad Wildhan
“Ini kak” ucap Rio
“Oh pr lagi, sebentar” ucap Andi
“Iya” ucap Andi
“Iya, ada apa ?” Andi bertanya
“Ada undangan nih” ucap Nina memberikan Andi
“Undangan ulang tahun Nathanael Djuhandar ?, kakak kelas itu kan ?” Andi bertanya
“Iya, Fransisca mengajakmu, dan aku juga ikut, tapi kalau kamu gak ikut juga nggak apa apa” ucap Nina
“Kayaknya menarik, aku ikut saja” ucap Andi
“Ya sudah aku pergi dulu ya” ucap Nina
“Iya” ucap Andi
“Iya” ucap Andi
“Apa aku boleh ikut ?” Jujun bertanya
“Ehm, Kak Nathan hanya mengundang beberapa orang saja” ucap Fransisca
“Yah..” ucap Jujun
“Oh ya aku lupa, aku pergi dulu” ucap Fransisca
“Oh iya, aduh mimisan lagi” ucap Andi melihat tetesan darah, Ia pun menghapus darahnya
“Sebelumnya kamu kan nggak pernah mimisan” ucap Jujun
“Kakak mau kemana ?” Rio bertanya datang tiba tiba
“Inanilahi, Rio nggak permisi dulu kalau masuk” ucap Andi
“Hehehe, aku lihat kakak pucat, jangan ke pesta kak” ucap Rio
“Nggak, aku nggak apa apa kok Rio” ucap Andi
“Kakak Yakin ?” Rio bertanya
“Iya, udah jam segini aku berangkat dulu” ucap Andi
“Bisa saja” ucap Fransisca
“Ya kak Nathan” ucap Siska
“Saya pinjam Siska dulu ya Andi” ucap Nathan
“Iya” ucap Andi
“Iya pucat, kamu kok bela belain ke sini” ucap Nina
“Udah janji sama Siska” ucap Andi
“Kamu pulang saja, nanti ada sesuatu yang terjadi” ucap Nina
“Nggak kok, aku hanya diam disini saja” ucap Andi
“Eh maafin Andi ya, aku gak tahu dia kenapa ?” ucap Siska
“Nathan, kamu kan cowok bawa Andi” ucap Nina
“Eh, enak saja gue normal” ucap Nathan
“Aku nggak bisa berenang” ucap Siska
“Andi, kamu kok bikin dia” ucap Siska tampak marah
“Andi, kamu jangan dengarkan kata dia, aku tahu dia kaya dia sombong, kolam lecetlah, acaranya rusak, dia sombong” ucap Nina
“Entah apa yang harus aku katakan sama Siska” ucap Andi
“Aku kayaknya membawamu pulang aku gak yakin” ucap Nina
“Aku bisa sendiri” ucap Andi
“Andi, kamu kan tadi pingsan, kalau di jalan pingsan gak ada yang tahu, kamu ikut aku saja” ucap Nina
Siska hanya mengabaikan
“Bawa pulang, gak usah balik lagi” ucap Nathan
“Oh ya gak apa apa, Andi apa merasa pusing ?” Ayahnya Nina bertanya
“Lumayan” ucap Andi
“Yah, dia tadi bawa motor, siapa yang bawa motor” ucap Nina
“Supir saja, Sutedjo bawa motornya Andi dan nanti Sutedjo ikut saya dari belakang” ucap Ayahnya Nina
“Assalamualaikum tante, maaf dia tadi basah habis pingsan di dalam kolam” ucap Nina
“Walaikumsalam, terima kasih ya Nina membawa pulang Andi” ucap Bu Angel
“Nggak mungkin buat sekolah, kamu panas, besok ibu telpon sama gurunya” ucap Bu Lina
“Mah..” ucap Andi
“Maaf Andi, sekarang sudah malam kamu istirahat saja, badanmu panas” ucap Bu Lina
“Iya dok, aku mau nanya dok, akhir akhir ini aku sekali dua kali suka mimisan, kalau merasakan pusing kalau gak salah akhir akhir ini juga” ucap Andi
“Mimisan itu ada mimisan karena kecapekan mudah lelah jadi suka mimisan, dan ada mimisan yang menandakan kanker” ucap Dokter
“Oh, berarti mungkin aku hanya kecapekan saja ya dok” ucap Andi
“Ya mungkin” ucap Dokter
“Makasih ya dok, sudah memeriksa Andi, saya tadi khawathir” ucap Bu Lina
“Ini obatnya, sebagai penurun panas” ucap Dokter
“Ya makasih ya dok” ucap Bu Angel
“Aku juga nggak tahu mah, aku bisa mimisan” ucap Andi
“Kamu makan sup ini, dan minum langsung kamu tidur” ucap Bu Lina
“Mah, kalau mamah ke sekolah please ya kasih Fransisca” ucap Andi
“Iya, nanti mama sampaikan” ucap Bu Lina
“Sakit ya, sayang saya tadi mau memberikan buku ini untuk dia” ucap Gurunya
“Buku apa ini ?” Bu Lina bertanya
“Dia suka membaca buku seperti ini, saya punya jadi saya memberi Andi” ucap Gurunya memberi Bu Lina
“Oh, ya pak nanti saya berikan, saya pergi dulu ya pak Assalamualaikum” ucap Bu Lina “Walaikumsalam” ucap Gurunya
Andi Dwi Putra
Fransisca Sarasdewi
Ujun Jujun
Nina Hamidah
Lina Angelica (Ibunya Andi)
Dio Muhammad (Ayahnya Andi)
Rio Ananda
Nathanael Djuhandar (Kakak Kelas)
CastAndi Dwi Putra
Fransisca Sarasdewi
Ujun Jujun
Nina Hamidah
Lina Angelica (Ibunya Andi)
Dio Muhammad (Ayahnya Andi)
Rio Ananda
Nathanael Djuhandar (Kakak Kelas)
“Aku mimisan ?” Andi
bertanya tanya
Darah yang menetes jatuh di bagian buku tulis dan buku
paket yang Andi pelajari, dia mencoba mencari tisu sebelum darahnya menetes,
hingga menemukan.
“Kak..” ucap Rio tiba tiba datang
“Apa Rio ?”Andi bertanya membersihkan hidungnya dari darah
“Kakak berbalik dulu” ucap Rio“Ini kak” ucap Rio
“Oh pr lagi, sebentar” ucap Andi
“Iya” ucap Andi
“Iya, ada apa ?” Andi bertanya
“Ada undangan nih” ucap Nina memberikan Andi
“Undangan ulang tahun Nathanael Djuhandar ?, kakak kelas itu kan ?” Andi bertanya
“Iya, Fransisca mengajakmu, dan aku juga ikut, tapi kalau kamu gak ikut juga nggak apa apa” ucap Nina
“Kayaknya menarik, aku ikut saja” ucap Andi
“Ya sudah aku pergi dulu ya” ucap Nina
“Iya” ucap Andi
“Iya” ucap Andi
“Apa aku boleh ikut ?” Jujun bertanya
“Ehm, Kak Nathan hanya mengundang beberapa orang saja” ucap Fransisca
“Yah..” ucap Jujun
“Oh ya aku lupa, aku pergi dulu” ucap Fransisca
“Oh iya, aduh mimisan lagi” ucap Andi melihat tetesan darah, Ia pun menghapus darahnya
“Sebelumnya kamu kan nggak pernah mimisan” ucap Jujun
“Kakak mau kemana ?” Rio bertanya datang tiba tiba
“Inanilahi, Rio nggak permisi dulu kalau masuk” ucap Andi
“Hehehe, aku lihat kakak pucat, jangan ke pesta kak” ucap Rio
“Nggak, aku nggak apa apa kok Rio” ucap Andi
“Kakak Yakin ?” Rio bertanya
“Iya, udah jam segini aku berangkat dulu” ucap Andi
“Bisa saja” ucap Fransisca
“Ya kak Nathan” ucap Siska
“Saya pinjam Siska dulu ya Andi” ucap Nathan
“Iya” ucap Andi
“Iya pucat, kamu kok bela belain ke sini” ucap Nina
“Udah janji sama Siska” ucap Andi
“Kamu pulang saja, nanti ada sesuatu yang terjadi” ucap Nina
“Nggak kok, aku hanya diam disini saja” ucap Andi
“Eh maafin Andi ya, aku gak tahu dia kenapa ?” ucap Siska
“Nathan, kamu kan cowok bawa Andi” ucap Nina
“Eh, enak saja gue normal” ucap Nathan
“Aku nggak bisa berenang” ucap Siska
“Andi, kamu kok bikin dia” ucap Siska tampak marah
“Andi, kamu jangan dengarkan kata dia, aku tahu dia kaya dia sombong, kolam lecetlah, acaranya rusak, dia sombong” ucap Nina
“Entah apa yang harus aku katakan sama Siska” ucap Andi
“Aku kayaknya membawamu pulang aku gak yakin” ucap Nina
“Aku bisa sendiri” ucap Andi
“Andi, kamu kan tadi pingsan, kalau di jalan pingsan gak ada yang tahu, kamu ikut aku saja” ucap Nina
Siska hanya mengabaikan
“Bawa pulang, gak usah balik lagi” ucap Nathan
“Oh ya gak apa apa, Andi apa merasa pusing ?” Ayahnya Nina bertanya
“Lumayan” ucap Andi
“Yah, dia tadi bawa motor, siapa yang bawa motor” ucap Nina
“Supir saja, Sutedjo bawa motornya Andi dan nanti Sutedjo ikut saya dari belakang” ucap Ayahnya Nina
“Assalamualaikum tante, maaf dia tadi basah habis pingsan di dalam kolam” ucap Nina
“Walaikumsalam, terima kasih ya Nina membawa pulang Andi” ucap Bu Angel
“Nggak mungkin buat sekolah, kamu panas, besok ibu telpon sama gurunya” ucap Bu Lina
“Mah..” ucap Andi
“Maaf Andi, sekarang sudah malam kamu istirahat saja, badanmu panas” ucap Bu Lina
“Iya dok, aku mau nanya dok, akhir akhir ini aku sekali dua kali suka mimisan, kalau merasakan pusing kalau gak salah akhir akhir ini juga” ucap Andi
“Mimisan itu ada mimisan karena kecapekan mudah lelah jadi suka mimisan, dan ada mimisan yang menandakan kanker” ucap Dokter
“Oh, berarti mungkin aku hanya kecapekan saja ya dok” ucap Andi
“Ya mungkin” ucap Dokter
“Makasih ya dok, sudah memeriksa Andi, saya tadi khawathir” ucap Bu Lina
“Ini obatnya, sebagai penurun panas” ucap Dokter
“Ya makasih ya dok” ucap Bu Angel
“Aku juga nggak tahu mah, aku bisa mimisan” ucap Andi
“Kamu makan sup ini, dan minum langsung kamu tidur” ucap Bu Lina
“Mah, kalau mamah ke sekolah please ya kasih Fransisca” ucap Andi
“Iya, nanti mama sampaikan” ucap Bu Lina
“Sakit ya, sayang saya tadi mau memberikan buku ini untuk dia” ucap Gurunya
“Buku apa ini ?” Bu Lina bertanya
“Dia suka membaca buku seperti ini, saya punya jadi saya memberi Andi” ucap Gurunya memberi Bu Lina
“Oh, ya pak nanti saya berikan, saya pergi dulu ya pak Assalamualaikum” ucap Bu Lina “Walaikumsalam” ucap Gurunya
Andi Dwi Putra
Fransisca Sarasdewi
Ujun Jujun
Nina Hamidah
Lina Angelica (Ibunya Andi)
Dio Muhammad (Ayahnya Andi)
Rio Ananda
Nathanael Djuhandar (Kakak Kelas)
Andi pun berbalik menggulung tisu dan memasukan ke saku.
“Apa ?” Andi bertanya
Andi pun menandakan bukunya dengan pensil dan pulpen,
Andi pun duduk memperhatikan pekerjaan rumah Rio, Andi pun menjawab dengan secara
perlahan lahan agar Rio dapat mengerti.
“Makasih ya kak, aku mau mengerjakan pr lagi” ucap Rio
Rio pun pergi meninggalkan Andi di kamarnya, Andi pun
membuka penanda buku dan membersihkan darah yang di buku meski pun hanya
sedikit terhapus noda darahnya
***
Andi yang sedang membaca novel kesukannya di kelas, saat
sedang asyik membaca Nina datang.
“Andi, kamu baca novel ya” ucap Nina
Andi pun meneruskan membacanya, tepat pukul 12.30 jam
istirahat yang kedua, Andi dan Jujun yang berada di kantin sedang makan,
Fransisca mendekati.
“Andi, kamu bisa datang kan ?” Fransisca bertanya
Fransisca pun pergi, setelah beberapa menit, hidung Andi
mimisan lagi.
“Andi, lu mimisan” ucap Jujun
***
Andi sudah siap dengan baju yang sederhana yang ia
kenakan, dan juga celana panjang berwarna hitam, Andi berkaca dirinya di cermin.
“Apakah aku pantas datang ke pesta” ucap Andi
Rio pun berangkat dengan sepeda motor dengan izin orang
tuanya juga untuk menjemput Fransisca untuk datang ke pesta anniversary Nathan,
sesampai di rumah Fransisca. Fransisca telah menunggu di depan gerbang dengan
gaun putih dengan hiasan bunga
“Kamu cantik” ucap Andi
Fransisca pun naik ke atas motor Andi. Andi pun
menjalankan motornya yang hanya 15 menit sampai di pesta.
“Sudah sampai Sis” ucap Andi
Fransisca pun turun dari motor Andi.
“Ayo Andi” ucap Fransisca
Fransisca dan Andi pun masuk ke dalam pesta itu yang di
khiasi oleh warna putih, tempat duduk dan meja berwarna putih, datanglah
Nathan. Siska pun turun dari motor, Andi turun dari motor.
“Ayo Andi” ucap Siska
Mereka berdua pun masuk ke dalam pesta ulang tahun
Nathan, pesta itu di hiasi dengan berwarna putih, tempat duduk meja dan yang lain lain yang berwarna putih,
datanglah Nathan.
“Ternyata sudah sampai” ucap Nathan
Siska dan Nathan pergi mengeliling tempat pesta, Nina
mendekati Andi mereka duduk.
“Nin, apa aku pucat ?” Andi bertanya
Tepat pukul 19.45 setelah meniup lilin yang di tiup oleh
Nathan, tamu yang datang sudah mulai
makan dengan makanan yang telah di sediakan, Andi yang berjalan di pinggir
kolam, Andi merasakan pusing, hingga jalan tak teratur, hingga pingsan tercebur
kolam, semua tamu kaget melihat Andi.
Nathan, Siska dan Nina mendekati kolam.
“Kolam gue jadi lecet dah” ucap Nathan
Tanpa ragu Nina menjeburkan diri menyelamatkan Andi yang
telah pingsan di dalam air, Nina pun membawa hingga pinggir kolam, Nina pun
memencet perut agar keluar air yang ada di dalamnya, hingga Andi sadar namun
hidungnya mimisan.
“Andi hidungmu mimisan” ucap Siska
Andi langsung bangun dari pingsan, membawa tisu yang di
berikan Nina dan membersihkan.
“Kacau dah acara gua” ucap Nathan pergi
Fransisca dan Nathan pergi meninggalkan Andi. Andi pun
melangkahkan dirinya dengan jalan perlahan lahan sambil merundukan kepalanya,
Nina pun mengikuti Andi dari belakang.
“Aku memang salah membuat acara Nathan kacau” ucap Andi
Nina dan Andi pun masuk ke dalam acara ulang tahun.
“Siska, aku sama Andi pulang duluan” ucap Nina
Nina pun pergi dengan Andi. Nina menelpon ayahnya untuk
menjemputnya, hingga datang Ayahnya dengan supir, Andi pun masuk ke bagian
tengah mobil.
“Ayah, maaf sebelumnya Andi basah habis kecebur kolam
dia pingsan di kolam” ucap Nina
Supir nya turun membawa motor Andi, hingga 15-20 menit
di perjalanan, hingga sampai di rumah, Nina dan Andi pun masuk ke dalam rumah,
Nina memencet bel rumah Andi, hingga di bukakan oleh ibunya.
“Andi kok basah” ucap Bu Lina
Nina pun pergi meninggalkan rumah Andi, motor Andi telah
di kembalikan
Tepat pukul 20.30
Andi yang sudah mandi dan telah memakai baju ganti, Andi
yang berbaring tidur, Bu Angel masuk ke dalam kamar Andi, melihat Andi tidur
ibunya pun mendekati Andi.
“Andi, kita makan malam Andi” ucap Bu Lina
Andi tak mendengar, Bu Lina tetap menggerakan bajunya,
saat menyentuh kulit Andi dan ternyata panas badannya Andi, Bu Lina pun
memeriksa badannya Andi panas badannya.
“Duh, Andi kok panas” ucap Bu Lina
Bu Lina pun keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar
Andi membawa air dan kaos dalam di lipat yang sudah basah meletakan di atas
wajah Andi.
“Mah, aku besok sekolah bagaimana ?” Andi bertanya
Andi pun menutup matanya, Ibunya mencium pipi Andi pergi
ke luar kamarnya dan mematikan lampu
Keesokan harinya
Matahari sudah
meninggi yang menandakan hari sudah pagi, ada sms dari handphone Andi dengan
nada dering terdengar hingga membuat Andi terbangun dan melihat sms.
From : Nina
Andi, kamu sekolah
tidak hari ini ?
Andi pun membalas
sms dari Nina
From : Andi
Aku sakit Nina…
badanku panas
Kepala Andi merasa
pusing, Andi meletakkan handphonenya, Andi pun menutup mata dan mencoba tidur,
Bu Lina pun datang dengan membawa sup di mangkuk, Bu Lina pun menaruhkan sup di
meja
“Andi.. Andi, mama
sudah membuatkan sup buat kamu” ucap Bu Lina menggerakan badan Andi
Namun Andi tak
bangun bangun, Ibunya khawathir, Ibunya memanggil dokter.
“Andi hanya pingsan
saja, tadi kepala pusingkan ?” Dokter bertanya
Dokter pergi dari
kamar Andi.
“Oh ya Andi, kamu
kok nggak cerita kamu suka mimisan, kamu dulu kan nggak pernah mimisan” ucap Bu
Lina
Andi pun memakan sup
satu mangkuk dan minum langsung tidur.
Bu Lina pun keluar
dari kamar Andi, siap siap untuk bekerja namun sebelumnya ke sekolahnya Andi.
“Pak, jadi Andi
sakit panas di rumahnya” ucap Bu Lina
Bu Lina pun keluar
dari kantor kebetulan bertemu Nina.
CastAndi Dwi Putra
Fransisca Sarasdewi
Ujun Jujun
Nina Hamidah
Lina Angelica (Ibunya Andi)
Dio Muhammad (Ayahnya Andi)
Rio Ananda
Nathanael Djuhandar (Kakak Kelas)
ANDAI AKU BISA Part 1
Tepat hari jumat pukul 10 pagi, seorang wanita
berpenampilan sederhana dengan topi pantai yang menghalangi panas wajahnya juga
kacamata hitam yang di pakai berjalan di sebuah kuburan yang luas, bersama
asisten laki laki kemayu.
“Iih, Fransisca kita kemana sih ?, kita kesini kan ada
yang hihihihi” ucap asisten dengan ekspresi takut
“Aku kesini mau melihat keadaan batu nisan sahabatku” ucap Fransisca
“Sahabat Bos Fransisca.. siapa dia ?” Asistennya bertanya
“Dia Andi Dwi Putra, anak laki laki berkacamata dia baik, dialah yang membuatku menjadi artis ya, saat ini, tapi sayang saat aku menjadi terkenal dia pergi meninggalkanku” ucap Fransisca
“Baik banget ya… jadi pengen ketemu sahabat bos” ucap Asistennya
“Ya udah ikut aku saja.. nanti kamu akan tahu” ucap Fransisca
“Aku kesini mau melihat keadaan batu nisan sahabatku” ucap Fransisca
“Sahabat Bos Fransisca.. siapa dia ?” Asistennya bertanya
“Dia Andi Dwi Putra, anak laki laki berkacamata dia baik, dialah yang membuatku menjadi artis ya, saat ini, tapi sayang saat aku menjadi terkenal dia pergi meninggalkanku” ucap Fransisca
“Baik banget ya… jadi pengen ketemu sahabat bos” ucap Asistennya
“Ya udah ikut aku saja.. nanti kamu akan tahu” ucap Fransisca
Fransisca dan Asistennya berjalan hampir 5 menit sampai
di bagian unit islam, Fransisca ingat betul tempat di mana pusara Andi, yang
berada bagian kanan dekat dengan pohon besar tua, sesampai di tempat itu mereka
pun menghentikan melangkahnya.
“Ehm.. banyak perubahan disini” ucap Fransisca
“Memang sudah berapa lama bos tidak kesini ?” Asistennya bertanya
“Terakhir saat kelas 9 Smp, saat aku masuk sinetron pertamaku” ucap Fransisca
“Memang sudah berapa lama bos tidak kesini ?” Asistennya bertanya
“Terakhir saat kelas 9 Smp, saat aku masuk sinetron pertamaku” ucap Fransisca
Fransisca pun melihat pusara Andi sahabatnya memberikan
taburan bunga berwarna putih dan juga mencabut rumput rumput liar yang ada.
“Andi, usiaku sekarang 25 Tahun, kamu sudah 10 tahun
meninggalkanku disini sendiri, tapi terima kasih kaulah yang membuatku menjadi
artis seperti ini, maaf juga dulu aku egois juga sama kamu, sekarang aku sadar
seorang sahabat lebih penting daripada pacar, kamu itu baik orangnya tapi sama
allah di beri cobaan seperti kamu kuat menjalaninya, kenapa kamu merahasiakan
ini semua dari aku ?, aku tahu tidak mau membuatku kepikiran, terima kasih
sekali lagi Andi, dan maaf aku dulu tidak bisa menerimamu menjadi pacarku..”
ucap Fransisca
Fransisca kembali berdiri, saat berdiri Fransisca
melihat Andi di bawah pohon itu, Fransisca pun merundukkan kepalanya.
“Arigatou Andi” ucap Fransisca
“Bos, dimana sahabat bos” ucap Asistennya kebingungan
“Udahlah, ayo jalan” ucap Fransisca
“Bos, dimana sahabat bos” ucap Asistennya kebingungan
“Udahlah, ayo jalan” ucap Fransisca
jam telah mengarah jam 10.30 yang di lihat dari jam
tangan Asistennya. Fransisca dan Asistennya meninggalkan pusara Andi, kembali
syuting.
***
12 Tahun Yang lalu
Tepat pukul 06.00 pagi tampak anak laki laki dengan baju
seragam yang rapih setelah di setrika dan juga celana panjangnya yang berwarna
putih melihat dirinya di kaca panjang di lemarinya.
“Aku sudah rapih.. oh ya aku lupa” ucap Laki laki
melihat dirinya di kaca
Laki laki itu mencari kacamatanya di seluruh tempat tak
ada, kebetulan kamar tak terbuka adiknya datang.
“Kak Andi lupa sama kacamata nya kan ?” Tanya adiknya
“Iya lupa, makasih ya Rio” ucap Andi
“Kakak sama aku beda, aku agak gendut kakak kurus tinggi putih ganteng pintar” ucap Rio
“Ah kamu, kakak jarang keluar main dari rumah, di rumah terus jadi putih, kalau pintar kakak belajar” ucap Andi
“Jadi iri kakak kayak perfect” ucap Rio
“Allah menciptakan hambanya ada yang sempurna, tidak sempurna, ada kelebihan, ada kekurangan, tapi kita sebagai hamba allah harus mensyukuri kita berkecukupan dan menjadi hamba yang sempurna, tapi orang yang tidak sempurna bisa menjalani hidup sampai ada yang berprestasi” ucap Andi
“Iya juga ya kak, memang ada tapi tak apalah aku berjuang.. seperti kakak” ucap Rio
“Ah kamu, ya sudah ayo ke keluar makan” ucap Andi membawa tasnya
“Iya lupa, makasih ya Rio” ucap Andi
“Kakak sama aku beda, aku agak gendut kakak kurus tinggi putih ganteng pintar” ucap Rio
“Ah kamu, kakak jarang keluar main dari rumah, di rumah terus jadi putih, kalau pintar kakak belajar” ucap Andi
“Jadi iri kakak kayak perfect” ucap Rio
“Allah menciptakan hambanya ada yang sempurna, tidak sempurna, ada kelebihan, ada kekurangan, tapi kita sebagai hamba allah harus mensyukuri kita berkecukupan dan menjadi hamba yang sempurna, tapi orang yang tidak sempurna bisa menjalani hidup sampai ada yang berprestasi” ucap Andi
“Iya juga ya kak, memang ada tapi tak apalah aku berjuang.. seperti kakak” ucap Rio
“Ah kamu, ya sudah ayo ke keluar makan” ucap Andi membawa tasnya
Andi dan Rio adiknya keluar dari kamar Andi jalan menuju
ruang makan yang telah di tunggu tunggu oleh kedua orang tuanya.
“Pagi Andi..” ucap kedua orang tuanya dengan wajah
senyum
“Mah, sarapan apa ?” Andi bertanya yang sudah duduk di kursi meja makan
“Makan sayur” ucap Bu Lina
“Sayurnya enak buatan mama” ucap Rio
“Ah bisa saja Rio, ini sudah mama ambilkan tinggal ambil sayurnya” ucap Bu Lina memberikan piring berisi nasi
“Andi, kamu mau berangkat di antar papa apa kamu berangkat sendiri ?” Tanya Pak Dio
“Pakai sepedah saja” ucap Andi
“Mah, sarapan apa ?” Andi bertanya yang sudah duduk di kursi meja makan
“Makan sayur” ucap Bu Lina
“Sayurnya enak buatan mama” ucap Rio
“Ah bisa saja Rio, ini sudah mama ambilkan tinggal ambil sayurnya” ucap Bu Lina memberikan piring berisi nasi
“Andi, kamu mau berangkat di antar papa apa kamu berangkat sendiri ?” Tanya Pak Dio
“Pakai sepedah saja” ucap Andi
Tepat pukul 06.10, Andi yang sudah sarapan mengeluarkan
sepeda dari garasi yang berbarengan dengan ayahnya mau berangkat kerja, Andi
pun berpamitan dengan kedua orang tuanya, Andi mengayuh sepedah dengan perlahan
lahan dengan santai, hingga sampai di rumah sahabatnya ternyata sudah di
tunggu.
“Maaf, kamu menunggu lama ?” Andi bertanya
“Nggak baru kok” ucap Fransisca
“Ya sudah ayo naik” ucap Andi
“Nggak baru kok” ucap Fransisca
“Ya sudah ayo naik” ucap Andi
Fransisca pun duduk di bagian belakang goncengan
sepedah, Fransisca duduk dengan menyamping sambil memeluk perut Andi, setelah
itu Andi mengayuh sepedah dengan cepat yang kebetulan jalanan lengang mudah di
jalankan, sesampai di sekolah ternyata sudah ada Jujun dan Nina yang telah
menunggu di parkiran sekolah.
“Pagi Andi Fransisca” ucap Jujun dan Nina
“Pagi, kalian kompak deh ngomongnya” ucap Fransisca
“Kebiasaan deh Sisca kamu pakai kacamata Andi, nanti kalau di jalan mata Andi buram bagaimana Sisca ?” Nina bertanya
“Aku masih bisa melihat kok” ucap Andi
“Ya sudah ayo masuk ke kelas” ucap Jujun
“Pagi, kalian kompak deh ngomongnya” ucap Fransisca
“Kebiasaan deh Sisca kamu pakai kacamata Andi, nanti kalau di jalan mata Andi buram bagaimana Sisca ?” Nina bertanya
“Aku masih bisa melihat kok” ucap Andi
“Ya sudah ayo masuk ke kelas” ucap Jujun
Tepat pukul 10.00 pagi bel telah berdering, seorang
perempuan selalu mengecek saku roknya yang tampak kebingungan, kebetulan ada
Andi dan Jujun lewat menghampiri Sisca.
“Bagaimana jadi nggak ?” Jujun bertanya
“Kenapa Siska ?” Andi bertanya
“Ini Andi, aku bingung uangku tiba tiba nggak ada, aku lupa” ucap Fransisca
“Oh, nanti aku belikan di kantin” ucap Andi
“Eh, kok kamu nanti ngerepotin” ucap Fransisca
“Nggak apa apa, Jun ayo” ucap Andi
“Ya” ucap Jujun
“Kenapa Siska ?” Andi bertanya
“Ini Andi, aku bingung uangku tiba tiba nggak ada, aku lupa” ucap Fransisca
“Oh, nanti aku belikan di kantin” ucap Andi
“Eh, kok kamu nanti ngerepotin” ucap Fransisca
“Nggak apa apa, Jun ayo” ucap Andi
“Ya” ucap Jujun
Andi dan Jujun pun keluar dari ruang kelasnya, berjalan
menuju kantin yang harus melewati 3 kelas 7 yang berada di lantai pertama,
hingga 10 menit dari kantin, Andi dan Jujun kembali ke kelas membawa jajanan
agak banyak.
“Thanks ya Andi” ucap Fransisca
“Sama Sama” ucap Andi menaruhkan jajanan
“Aku duduk ya” ucap Andi
“Iya” ucap Fransisca
“Sama Sama” ucap Andi menaruhkan jajanan
“Aku duduk ya” ucap Andi
“Iya” ucap Fransisca
Andi melangkah kakinya duduk di tempatnya dengan Jujun
“Oh ya Andi, Lo sama Siska hanya sahabat kan” ucap Jujun
“Iya, Jujun kalau seandainya aku punya masalah kamu mau kan merahasiakan dari Siska, bisa nggak jaga rahasia” ucap Andi
“Bisa kok tenang saja, lo nanti teater ?” ucap Jujun
“Iya” ucap Andi
“Yah, nggak apa apa deh besok saja” ucap Jujun
“Oh itu kan, ya insyallah” ucap Andi
“Oh ya Andi, Lo sama Siska hanya sahabat kan” ucap Jujun
“Iya, Jujun kalau seandainya aku punya masalah kamu mau kan merahasiakan dari Siska, bisa nggak jaga rahasia” ucap Andi
“Bisa kok tenang saja, lo nanti teater ?” ucap Jujun
“Iya” ucap Andi
“Yah, nggak apa apa deh besok saja” ucap Jujun
“Oh itu kan, ya insyallah” ucap Andi
Tepat pukul 13.35, semua siswa siswi pulang ke rumahnya
kecuali yang mengikuti teater, Andi dan Siska mengikuti ekstrakurikuler teater
pada hari jumat, Siska pun pergi ke luar sekolah untuk jajan, uangnya yang
telah di temukan yang berada di dalam tasnya, sementara Andi tidur dengan
bersenderkan tiang.
“Ehm enak banget ini makroni” ucap Fransisca yang sedang
berjalan
“Siska, nanti teater jam 2, tempatnya di kelas 8C” ucap Kakak Kelas Laki Laki
“Iya kak Nathan, mengenai acting kan” ucap Fransisca
“Iya, saya mau foto kopi ini ya” ucap Kak Nathan
“Siska, nanti teater jam 2, tempatnya di kelas 8C” ucap Kakak Kelas Laki Laki
“Iya kak Nathan, mengenai acting kan” ucap Fransisca
“Iya, saya mau foto kopi ini ya” ucap Kak Nathan
Fransisca pun melangkahkan kaki, melihat Andi yang
sedang tertidur lelap, Fransisca pun pelan pelan jalannya, Fransisca
mengabadikan foto di handphonenya Andi yang sedang tidur.
“Lucunya Andi” ucap Fransisca
“Ehm, apa Siska” ucap Andi
“Eh udah bangun” ucap Fransisca langsung menyimpan foto itu
“Jam berapa Sis ?” Andi bertanya
“Sudah jam 13.55” ucap Fransisca
“Oh iya, ayo.. teater” ucap Andi
“Ehm, apa Siska” ucap Andi
“Eh udah bangun” ucap Fransisca langsung menyimpan foto itu
“Jam berapa Sis ?” Andi bertanya
“Sudah jam 13.55” ucap Fransisca
“Oh iya, ayo.. teater” ucap Andi
Andi dan Fransisca pun menaiki tangga menuju lantai 2
dengan perlahan lahan, hingga sampai mereka berdua melangkah melewati kelas 9a,
9b, 9c dan sampai di tempat teater.
Telah 1 Jam lebih teater berlangsung, mereka pun pulang
jam 15.30, Andi dan Sisca pun pulang bareng, Andi menuntun sepeda pulang jalan
kaki perlahan lahan dengan Sisca.
“Tadi keren aktingnya Sis” ucap Andi
“Makasih Andi, kamu juga kok” ucap Fransisca
“Andi aku boleh jujur nggak ?” Fransisca bertanya
“Iya boleh kenapa ?” Jawab Andi
“Aku tadi perhatiin Kak Nathan, ya allah ganteng banget” ucap Fransisca
“Egh..” Andi yang tersedak mendengarkannya
“Kenapa ?” Fransisca bertanya
“Nggak kok, terus ?” Andi bertanya
“Aku suka sama dia, masa perempuan menembak cowok” ucap Fransisca
“Oh ya Siska aku punya kata kata mutiara” ucap Andi
“Makasih Andi, kamu juga kok” ucap Fransisca
“Andi aku boleh jujur nggak ?” Fransisca bertanya
“Iya boleh kenapa ?” Jawab Andi
“Aku tadi perhatiin Kak Nathan, ya allah ganteng banget” ucap Fransisca
“Egh..” Andi yang tersedak mendengarkannya
“Kenapa ?” Fransisca bertanya
“Nggak kok, terus ?” Andi bertanya
“Aku suka sama dia, masa perempuan menembak cowok” ucap Fransisca
“Oh ya Siska aku punya kata kata mutiara” ucap Andi
“Jika ada seseorang menyukaimu, namun orang itu malu
malu mengungkapkannya, tapi saat di ucapkan sudah sejujurnya, orang itu telah
jujur dan tulus menyukaimu, jangan kamu tinggalkan dia sebelum orang yang
menyayangimu akan pergi… meninggalkanmu”
“Wah bagus juga, tapi memang ada orang yang menyukai ku
ya ?” Fransisca bertanya
“Ya aku tidak tahu, tapi kalau ada orang yang seperti itu, jangan kamu pergi meninggalkan dia, itu saran dari aku” ucap Andi
“Ah jadi penasaran siapa ya cowok itu ?” Fransisca bertanya
“Hanya menunggu waktu yang menjawab” ucap Andi
“Ya aku tidak tahu, tapi kalau ada orang yang seperti itu, jangan kamu pergi meninggalkan dia, itu saran dari aku” ucap Andi
“Ah jadi penasaran siapa ya cowok itu ?” Fransisca bertanya
“Hanya menunggu waktu yang menjawab” ucap Andi
Sudah lebih 15 menit berjalan sampai di rumah Fransisca.
“Terima kasih Andi” ucap Fransisca
“Iya sama sama” ucap Andi
“Iya sama sama” ucap Andi
Andi menaiki sepedah mulai mengayuhnya dengan kecepatan
biasanya.
***
Teoat pukul 17.00, Andi
yang sedang belajar tanpa kacamata, hanya bisa melihat sedikit sedikit tidak
sepenuhnya, di saat belajar, Andi yang melihat ada sesuatu yang menetes di
bukunya berwarna merah darah.
“Aku mimisan ?” Andi
bertanya tanya
Cast
Andi Dwi Putra
Fransisca Sarasdewi
Ujun Jujun
Nina Hamidah
Lina Angelica (Ibunya Andi)
Dio Muhammad (Ayahnya Andi)
Rio Ananda
Nathanael Djuhandar (Kakak Kelas)
Andi Dwi Putra
Fransisca Sarasdewi
Ujun Jujun
Nina Hamidah
Lina Angelica (Ibunya Andi)
Dio Muhammad (Ayahnya Andi)
Rio Ananda
Nathanael Djuhandar (Kakak Kelas)
Profile Facebook : Muhammad Wildhan Pamungkas FACEBOOK
2015/05/29
Me
Nama Lengkap : Muhammad Wildhan Pamungkas
Nama Panggilan : Wildhan
Hobi : Menulis Cerita
Lahir : Malang, 29 Januari 2000
Facebook : Muhammad Wildhan Pamungkas
Twitter : @Wildhan_C
"Terima kasih sudah melihat blog saya, kalau ada kesalahan kalimat/kata yang ada di blog maaf, saya tidak memperhatikan, tolong kasih saran dan kritiknya kalau bisa beri pesan di Facebook saya"
Sepucuk Surat untuk Ajeng
By : Muhammad Wildhan
"Maaf, kalau ada kalimat yang tidak sempurna, mohon di maklumi"
Kedua, terima kasih kepada panitia yang telah mengizinkan saya untuk berdiri di sini menyampaikan salam perpisahan di depan hadirin sekalian.
Ketiga, selamat bagi kita semua! Kita telah berhasil lulus akhirnya. Hari-hari penuh ujian yang sangat begitu menegangkan kini sudah berakhir. Kita bukan anak SMA lagi. Kita kan meninggalkan sekolah ini dan berpisah.
"Maaf, kalau ada kalimat yang tidak sempurna, mohon di maklumi"
Ah~!!! Pagi ini sungguh menyegarkan aku
melihat setiap sisi jalan di lihat sangat indah, apalagi ada sebuah sawah yang hijau daun padinya yang di lihat cantik
dan melihat embun pagi, aku mengendarai motor sederhana aku menikmati dunia
ini, melihat tepat pukul 05.45 aku mepercepat jalan motorku
Sesampai di tempat
Aku menunggu pacarku
tepat di depan gerbang rumahnya, yaps tepat sekali baru 5 detik aku datang, dia
datang sudah siap dengan seragam putih abu abunya, dia menghampiriku.
“Assalamualaikum Ilham”
ucap Ajeng
“Walaikumsalam Ajeng” ucap Ilham
“Ilham, sebentar kacamatamu aku pinjam dulu” ucap Ajeng
“Walaikumsalam Ajeng” ucap Ilham
“Ilham, sebentar kacamatamu aku pinjam dulu” ucap Ajeng
Ajeng pun mengambil
kacamata ilham ada noda, Ajeng pun membersihkan kacamata Ilham dengan bajunya.
“Kan jadi kotor
bajumu” ucap Ilham
“Nggak apa apa, ini” ucap Ajeng memasang kembali kacamata
“Ayo naik” ucap Ilham
“Nggak apa apa, ini” ucap Ajeng memasang kembali kacamata
“Ayo naik” ucap Ilham
Ajeng pun duduk
dengan duduk miring, Ilham pun menjalankan motornya
“Ilham, keputusan
aku sudah bulat” ucap Ajeng
“Keputusan apa ?” Ilham bertanya
“Aku asalnya mau sastra Inggris, tapi aku berfikir ingin sastra jepang, seperti mu” ucap Ajeng
“Honto ni ? (Serius ?)” ucap Ilham
“Serius, aku ingin bersamamu di Tokyo melihat pohon sakura” ucap Ajeng
“Ajeng” ucap Ilham
“Iya” ucap Ajeng
“Aku mau bilang sesuatu” ucap Ilham
“Keputusan apa ?” Ilham bertanya
“Aku asalnya mau sastra Inggris, tapi aku berfikir ingin sastra jepang, seperti mu” ucap Ajeng
“Honto ni ? (Serius ?)” ucap Ilham
“Serius, aku ingin bersamamu di Tokyo melihat pohon sakura” ucap Ajeng
“Ajeng” ucap Ilham
“Iya” ucap Ajeng
“Aku mau bilang sesuatu” ucap Ilham
Saat Ilham ingin
berbicara sesuatu, suara truk pagi hari lewat dengan suara bel, Ajeng menjadi
tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Ilham.
“Sorry, tadi gara
gara truk, kamu berbicara apa tadi ?” Ajeng bertanya
“Oh, ehm.. aku mau mengajakmu jalan kan besok sabtu” ucap Ilham
“Iya juga, aku mau, mau kemana ?” Ajeng bertanya
“Besok Jeng, besok juga aku sms in” ucap Ilham
“Padahal itu bukan yang aku bicarakan, syukur deh dia nggak denger” ucap Ilham di dalam hati
“Oh, ehm.. aku mau mengajakmu jalan kan besok sabtu” ucap Ilham
“Iya juga, aku mau, mau kemana ?” Ajeng bertanya
“Besok Jeng, besok juga aku sms in” ucap Ilham
“Padahal itu bukan yang aku bicarakan, syukur deh dia nggak denger” ucap Ilham di dalam hati
Sesampai di sekolah,
Ajeng turun dari motor.
“Arigatou Gozaimas..
Ilham (Terima kasih Ilham) “ ucap Ajeng menundukan kepala
“Sama sama” ucap Ilham
“Aku duluan ya” ucap Ajeng
“Sama sama” ucap Ilham
“Aku duluan ya” ucap Ajeng
Ajeng pun pergi
meninggalkan Ilham. Tiba tiba kepala
Ilham terasa pusing, Ilham hanya bisa memijat kepala Ilham sedikit demi
sedikit, namun tidak hilang hilang, tiba tiba juga Rafa dari belakang
menkagetkan Ilham.
“Door” teriak Raffa
Tapi Ilham bukannya kaget, namun pingsan karena tidak kuat pusing di kepalanya.
Tapi Ilham bukannya kaget, namun pingsan karena tidak kuat pusing di kepalanya.
“Aah~~!!, Mau
kagetin malah pingsan” ucap Raffa
Raffa pun membawa
Ilham ke pos satpam untuk sementara, dan satpamnya menjaga pagar sekolah dan
memperhatikan Ilham.
******* **** ****
Pukul 08.00
Guru sedang
menjelaskan materi matematika dari A sampai Z, hingga Guru itu memberikan salah
satu soal dan akan di masukan nilai 100 di kotak nilai.
“N adalah bilangan asli 4 angka yang tidak
berakhiran dengan angka 0 dan R (N) menyatakan bilangan 4 angka dengan
me-revers digit digit N. (dalam kasus ini revers artinya angka pertama N
menjadi angka ke-4, angka ke 2, menjadi angka ke-3, angka ke-3-menjadi angka ke-4
dan angka ke-4 menjadi angka pertama). Sebagai contoh adalah R (3275) = 5723.
Tentukan semua bilangan asli N yang memenuhi R(N) = 4N +3. Ada yang bisa ?“
ucap Guru
Ilham langsung
mengangkatkan tangan,
“Silahkan Ilham”
ucap Guru
Ilham pun
melangkahkan kaki ke depan dan mencoba mengerjakannya :
Misalkan
N = 1000a + 100b + 10c + d maka R(N) = 1000d + 100c + 10b + a
4N < 10000 –> N < 2500 –> a = 1 atau 2
4N < 10000 –> N < 2500 –> a = 1 atau 2
•
Jika a = 2
Karena angka satuan R(N) = 2 maka angka satuan 4N = 9 (4N adalah bilangan ganjil)
Padahal 4N adalah bilangan genap (kontradiksi)
Karena angka satuan R(N) = 2 maka angka satuan 4N = 9 (4N adalah bilangan ganjil)
Padahal 4N adalah bilangan genap (kontradiksi)
•
Jika a = 1
Maka d = 4, 5, 6 atau 7.
Karena angka satuan R(N) = 1 maka angka satuan 4N = 8.
Nilai d yang memenuhi hanya d = 7 –> N adalah bilangan ganjil.
7000 + 100c + 10b + 1 = 4000 + 400b + 40c + 28 + 3
2970 = 300b + 30c
99 = 10b + c
Hanya dipenuhi jika b = 9 dan c = 9
N yang memenuhi hanya N = 1997
Maka d = 4, 5, 6 atau 7.
Karena angka satuan R(N) = 1 maka angka satuan 4N = 8.
Nilai d yang memenuhi hanya d = 7 –> N adalah bilangan ganjil.
7000 + 100c + 10b + 1 = 4000 + 400b + 40c + 28 + 3
2970 = 300b + 30c
99 = 10b + c
Hanya dipenuhi jika b = 9 dan c = 9
N yang memenuhi hanya N = 1997
“100,
Ilham kamu boleh duduk” ucap Guru
Ilham
pun melangkahkan kaki kembali ke tempat duduk namun karena pusing kembali
datang, Ilham pingsan dan kaca bagian kanan kacamatanya pecah, semua khawathir,
Ilham di bawa ke uks oleh teman temannya.
“Ajeng,
apa Ilham tadi tidak sarapan ?” Guru bertanya
“Nggak tahu, tapi mungkin pak karena Ilham jarang sarapan” ucap Ajeng
“Oh ya sudah kalian kerjakan halaman 14, bapak mau ke uks” ucap Guru
“Nggak tahu, tapi mungkin pak karena Ilham jarang sarapan” ucap Ajeng
“Oh ya sudah kalian kerjakan halaman 14, bapak mau ke uks” ucap Guru
Di
UKS
Ilham
pun sadar dari pingsan mencoba duduk
tapi kepalanya masih pusing.
“Duh..” ucap Ilham
“Kalau kamu nggak kuat, bapak pulangkan kamu” ucap Guru
“Nggak apa apa pak, saya hanya pingsan” ucap Ilham
“Kamu istirahat saja dulu, bapak mau kembali ke kelas” ucap Guru
“Ya pak” ucap Ilham
“Kalau kamu nggak kuat, bapak pulangkan kamu” ucap Guru
“Nggak apa apa pak, saya hanya pingsan” ucap Ilham
“Kamu istirahat saja dulu, bapak mau kembali ke kelas” ucap Guru
“Ya pak” ucap Ilham
Guru
pun keluar dari uks, dokter uks masuk.
“Paman,
apakah … datang lagi ke tubuhku” ucap Ilham
“Kamu hanya pingsan masih wajar, tapi kalau … lama itu kan kamu sudah sembuh” ucap Dokter Uks
“Iya sih kelas 7 Smp, tapi gak tahu juga moga moga saja ini hanya pingsan biasa” ucap Ilham
“Ya sudah kamu istirahat saja dulu” ucap Dokter Uks
“Kamu hanya pingsan masih wajar, tapi kalau … lama itu kan kamu sudah sembuh” ucap Dokter Uks
“Iya sih kelas 7 Smp, tapi gak tahu juga moga moga saja ini hanya pingsan biasa” ucap Ilham
“Ya sudah kamu istirahat saja dulu” ucap Dokter Uks
Ilham
pun istirahat (tidur) di uks.
******* **** ****
Bel
pulang telah berbunyi, semua siswa siswi keluar dari kelas rombongan yang ingin cepat cepat pulang.
“Yah
mendung” ucap Ajeng
“Iya mendung, tapi ayo Jeng, keburu hujan” ucap Ilham
“Iya mendung, tapi ayo Jeng, keburu hujan” ucap Ilham
Ilham
mempercepat jalannya dan Ajeng juga, hingga di parkiran. Ilham menghidupkan
motornya, Ajeng naik di motornya Ilham.
Ilham
pun menjalankan motornya dengan cepat.
Saat
di perjalanan Hujan makin lama makin deras, terpaksa mereka berdua berhenti di
halte.
Ilham
pun mengeluarkan jaket dari tasnya dan mengenakan ke badan Ajeng.
“Makasih
ya” ucap Ajeng
“Ayolah Jeng, aku terusin jalannya” ucap Ilham
“Kan hujan deras nanti kalau kamu sakit gimana” ucap Ajeng
“Nggak kok, ayo cepetan” ucap Ilham telah menaiki motor
“Ayolah Jeng, aku terusin jalannya” ucap Ilham
“Kan hujan deras nanti kalau kamu sakit gimana” ucap Ajeng
“Nggak kok, ayo cepetan” ucap Ilham telah menaiki motor
Ajeng
pun menuruti kata Ilham, Ajeng pun duduk di motor dengan duduk miring, sehingga
di rumah Ajeng hujan telah reda.
“Makasih
ya, kamu sudah bikin aku hangat badanku, kamu rela hujan hujanan” ucap Ajeng
“Ya nggak apa apa, ini semua hanya untuk pengorbanan buatmu” ucap Ilham
“Oh ya ini helmnya, Jaketnya aku bawa ya sekalian aku cuci” ucap Ajeng
“Iya, aku pulang ya” ucap Ilham
“Ya nggak apa apa, ini semua hanya untuk pengorbanan buatmu” ucap Ilham
“Oh ya ini helmnya, Jaketnya aku bawa ya sekalian aku cuci” ucap Ajeng
“Iya, aku pulang ya” ucap Ilham
Ilham
pun pergi dari rumah Ajeng dan pulang ke rumah.
Sesampai
di rumahnya, Ilham pun menyimpan motor di garasi, dan masuk ke rumah.
“Assalamualaikum”
ucap Ilham
“Walaikumsalam, Ilham kamu kok hujan hujanan” ucap Ibunya khawathir
“Tadi habis mengantarkan Ajeng” ucap Ilham
“Ingat ya Ilham kamu mandi langsung” ucap Ibunya
“Walaikumsalam, Ilham kamu kok hujan hujanan” ucap Ibunya khawathir
“Tadi habis mengantarkan Ajeng” ucap Ilham
“Ingat ya Ilham kamu mandi langsung” ucap Ibunya
“Iya
mah” ucap Ilham
“Sebentar kacamatamu mana ?” Ibunya bertanya
“Aku simpan, kacanya tadi pecah aku pingsan tadi” ucap Ilham
“Pingsan ?” Ibunya bertanya
“Sebentar kacamatamu mana ?” Ibunya bertanya
“Aku simpan, kacanya tadi pecah aku pingsan tadi” ucap Ilham
“Pingsan ?” Ibunya bertanya
“Sudah
dulu ya mah, aku mau ke kamar” ucap Ilham
Ilham
pun masuk ke dalam kamarnya, dan menganti bajunya. Langsung mengambil handuk
dan mandi 5 menit, setelah mandi Ilham melihat jam 16.00.
“Tidur
sebentar ah” ucap Ilham
Ilham
pun tidur di tempat tidurnya.
******* **** ****
Pukul
17.59
Ibunya
pun masuk ke dalam kamar Ilham membangunkan Ilham untuk shalat Magrib.
“Ilham
bangun Ilham sudah magrib” ucap Ibunya menggerakan badan Ilham
“Ilham”ucap
ibunya baru menyentuh kulitnya
“Kok panas, Ilham” ucap ibunya menyentuh tangan, kaki, kening
“Kok panas, Ilham” ucap ibunya menyentuh tangan, kaki, kening
“Ilham..
bangun Ilham” ucap Ibunya
Ilham
pun bangun.
“Apa
mah ?, kepalaku pusing” ucap Ilham
“Mama hubungi dokter dulu ya” ucap Ibunya
“Mama hubungi dokter dulu ya” ucap Ibunya
Ibunya
pun menelpon dokter untuk datang ke rumah.
“Ilham
hanya panas biasa ya karena hujan hujanan tadi” ucap Dokter
“Apa tidak parah” ucap Ibunya
“Tidak, cukup minum obat ini ya insyaallah 2-3 hari sembuh” ucap Dokter
“Makasih ya dok” ucap Ibunya
“Apa tidak parah” ucap Ibunya
“Tidak, cukup minum obat ini ya insyaallah 2-3 hari sembuh” ucap Dokter
“Makasih ya dok” ucap Ibunya
“Ilham
cepat sembuh ya..” ucap Ibunya mencium kening dan mengopres Ilham
******* **** ****
Keesokan harinya Jam 08.00
Ajeng datang ke
rumah Ilham membawa bingkisan.
“Paman ada Ilham ?”
Ajeng bertanya
“Ada bersama ibunya di kamar” ucap Ayahnya
“Ada bersama ibunya di kamar” ucap Ayahnya
Ajeng pun masuk ke
dalam rumah dan menuju ke kamar Ilham. Ajeng melihat Ilham tidur pulas bersama
ibunya di sampingnya.
“Ya masih tidur”
ucap Ajeng
Ajeng pun meletakan
bingkisannya, dan menulis surat.
“Untuk Muhammad
Ilham
Dari Ajeng Putri
Dari Ajeng Putri
Ham, cepat sembuh ya
kemarin kamu ngeyel sih aku bilang sekarang kamu sakit, oh ya aku bawa buah
buahan buat kamu, dan jaket yang kau pinjam untukku, sebenarnya aku pengen
menjengukmu, kamu lagi tidur kan gk enak aku Cuma bisa member ini”
Ajeng pun berjalan
pelan pelan, dan berpamitan dengan ayahnya.
“Kok cepat Jeng ?”
Ayahnya bertanya
“Gak enak lagi tidur, gak mau bangunin, oh ya paman aku pulang dulu ya assalamualaikum” ucap Ajeng salim
“Walaikumsalam” ucap Ayahnya
“Gak enak lagi tidur, gak mau bangunin, oh ya paman aku pulang dulu ya assalamualaikum” ucap Ajeng salim
“Walaikumsalam” ucap Ayahnya
Jam 08.30
Ilham pun bangun
meski terasa pusing melihat bingkisan.
“Bingkisan dari
siapa ya ?” Ilham bertanya
“Eh kamu udah bangun ya” ucap Ibunya bangun
“Mah kok ada bingkisan” ucap Ilham
“Eh kamu udah bangun ya” ucap Ibunya bangun
“Mah kok ada bingkisan” ucap Ilham
Ibunya melhat
“Oh dari Ajeng ada
surat juga” ucap Ibunya
Ibunya memberikan
suratnya. Ilham membaca suratnya, Ibunya membuka bingkisan membawa buah apel di
berikan Ilham
******* **** ****
Sudah sembuh dari
sakitnya, Ilham menjalani hidup seperti biasanya sehari hari, namun lam a
kelamaan Ilham sering Mimisan namun tanpa di ketahui Ajeng yang tahu hanya
Raffa, Pamannya, Kedua orang tuanya.
Setelah beberapa
hari, minggu, bulan, tahun di lewati
hingga perpisahan.
******* **** ****
Jam 06.00
Ilham telah
mengenakan jas berwarna hitam terlihat gagah namun tidak memakai kacamata
merapihkan rambutnya menjadi rapih, ibunya pun datang.
“Ilham apa kamu kuat
?” Ibunya bertanya
“Insya allah, mah nanti habis perpisahan ini aku ingin surat ini di berikan pada Ajeng, dan aku juga setelah perpisahan aku ingin di operasi” ucap Ilham
“Tapi kamu terlihat pucat” ucap Ibunya
“Tak apa apa mah, aku ingin perpisahan dengan teman temanku mah” ucap Ilham
“Ya sudah kalau kamu memaksakan diri” ucap Ibunya
“Insya allah, mah nanti habis perpisahan ini aku ingin surat ini di berikan pada Ajeng, dan aku juga setelah perpisahan aku ingin di operasi” ucap Ilham
“Tapi kamu terlihat pucat” ucap Ibunya
“Tak apa apa mah, aku ingin perpisahan dengan teman temanku mah” ucap Ilham
“Ya sudah kalau kamu memaksakan diri” ucap Ibunya
Jam 08.00
Sesampai di sekolah
dan duduk yang telah di tentukan yang sudah di berikan nama.
“Mah kita duduk
disini” ucap Ilham
“Enak ya kamu ham, kamu duduk di depan terus di kasih nama lagi” ucap Ibunya
“Nggak tahu juga sekolah percaya sama aku” ucap Ilham
“Kamu pintar” ucap Ibunya
“Oh ya, tapi aku gak sombong mah, walaupun aku pintar, nanti aku maju ke depan untuk pidato, panduan suara, dan nyanyi sendiri” ucap Ilham
“Ooh” ucap Ilham
“Enak ya kamu ham, kamu duduk di depan terus di kasih nama lagi” ucap Ibunya
“Nggak tahu juga sekolah percaya sama aku” ucap Ilham
“Kamu pintar” ucap Ibunya
“Oh ya, tapi aku gak sombong mah, walaupun aku pintar, nanti aku maju ke depan untuk pidato, panduan suara, dan nyanyi sendiri” ucap Ilham
“Ooh” ucap Ilham
Satu persatu telah
di lewati acaranya, Ilham pun maju ke depan untuk berpidato.
“Assalamualaikum
warohmatulohi wabarokatuh” ucap Ilham
“Walaikumsalam
warohmatulohi wabarokatuh” ucap seluruh orang
“"Yang terhormat Bapak dan Ibu guru SMA
Negeri Bakti Bangsa 2.
Teman teman kelas 12 angkatan 2015 khususnya teman teman 12 Ipa 3
yang saya sayangi.
Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa karena pada hari yang indah dan cerah ini kita semua dapat berkumpul untuk merayakan “Kelulusan dan Perpisahan Murid SMAN Losari.
Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa karena pada hari yang indah dan cerah ini kita semua dapat berkumpul untuk merayakan “Kelulusan dan Perpisahan Murid SMAN Losari.
Kedua, terima kasih kepada panitia yang telah mengizinkan saya untuk berdiri di sini menyampaikan salam perpisahan di depan hadirin sekalian.
Ketiga, selamat bagi kita semua! Kita telah berhasil lulus akhirnya. Hari-hari penuh ujian yang sangat begitu menegangkan kini sudah berakhir. Kita bukan anak SMA lagi. Kita kan meninggalkan sekolah ini dan berpisah.
Perpisahan, setiap ada
pertemuan pasti ada perpisahan. Kebanyakan dari kita pasti baru bertemu dan
berteamna akrab saat bersekolah di sini. Mungkin juga ada yang sudah berteman
sejak SMP, atau sejak SD. Alangkah senangnya apabila pertemanan yang telah kita
jalin selama tiga tahun ini dapat bertahan selamanya, tak tergoyahkan oleh
apapun. Namun tidak dapat
kita ingkari bahwa seiring dengan berjalannya kehidupan kita, seiring dengan
datanya hal-hal baru nanti seperti kuliah, kerja, menikah, juga seiring dengan
datanya orang orang baru, teman baru, cowok baru, cewek baru, perpisahan memang
hal yang lumrah terjadi.
Mungkin di antara kita ada yang merasa bergairah mengalami perpisahan karena yang ia tunggu selama ini adalah hal-hal baru yang terlihat lebih menyenangkan dibanding hal-hal yang membosankan di sini. Akan tetapi, mungkin di sisi yang berbeda, ada yang merasa sangat sedih karena telah mengalami banyak hal menyenangkan di sini dan mempunyai banyak kenangan indah.
Teman-teman yang saya cintai, sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tadk dapat diputar kembali dan sebelum kita menyesal karena telah menyia-nyiakan masa SMA kita tanpa mengalami satu pun hal berharga. Maka buatlah kenangan sebanyak-banyaknya. Lakukan apa yang ingin kita lakukan. Katakan lah apa yang ingin kita katakan. Katakanlah kepada guru yang terlalu kaku dalam mengajar untuk lebih santai. Katakanlah kepada cewek-cewek berisik yang merasa sok cantik dan populer bahwa otak lebih penting dibanding penampilan. Katakanlah kepada cowok cowok cupu di sekolah untuk lebih percaya diri. Katakanlah kepada orang yagn kita cinta bahwa kita memang mencintainya. It is now or Never, friends! Come on! As time goes by, memory remains. Seiring berjalannya waktu, hanya kenanganlah yang tersisa. Terakhir, saya kutip dari film cinta pertama yang dimainkan oleh Bunga Citra Lestari dan Benjamin Josua bahwa memang pertemuan tidak ada yang abadi. Tapi saya percaya, seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi.
Jangan lupakan setiap hal berharga yang telah kita alami selama bersekolah tiga tahun di sini. Simpanlah kenangan itu dalam hati kita smua.
Selamat berpisah! Selamat karena telah menjadi bukan anak SMA lagi. Jagalah diri kalian yang kuliah jauh dari orang tua.
Sekian pidato yang saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada salah kata.
Assalamualaikum Warohmatulohi Wabarokatuh"
Mungkin di antara kita ada yang merasa bergairah mengalami perpisahan karena yang ia tunggu selama ini adalah hal-hal baru yang terlihat lebih menyenangkan dibanding hal-hal yang membosankan di sini. Akan tetapi, mungkin di sisi yang berbeda, ada yang merasa sangat sedih karena telah mengalami banyak hal menyenangkan di sini dan mempunyai banyak kenangan indah.
Teman-teman yang saya cintai, sebelum kita terlambat menyadari bahwa waktu tadk dapat diputar kembali dan sebelum kita menyesal karena telah menyia-nyiakan masa SMA kita tanpa mengalami satu pun hal berharga. Maka buatlah kenangan sebanyak-banyaknya. Lakukan apa yang ingin kita lakukan. Katakan lah apa yang ingin kita katakan. Katakanlah kepada guru yang terlalu kaku dalam mengajar untuk lebih santai. Katakanlah kepada cewek-cewek berisik yang merasa sok cantik dan populer bahwa otak lebih penting dibanding penampilan. Katakanlah kepada cowok cowok cupu di sekolah untuk lebih percaya diri. Katakanlah kepada orang yagn kita cinta bahwa kita memang mencintainya. It is now or Never, friends! Come on! As time goes by, memory remains. Seiring berjalannya waktu, hanya kenanganlah yang tersisa. Terakhir, saya kutip dari film cinta pertama yang dimainkan oleh Bunga Citra Lestari dan Benjamin Josua bahwa memang pertemuan tidak ada yang abadi. Tapi saya percaya, seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi.
Jangan lupakan setiap hal berharga yang telah kita alami selama bersekolah tiga tahun di sini. Simpanlah kenangan itu dalam hati kita smua.
Selamat berpisah! Selamat karena telah menjadi bukan anak SMA lagi. Jagalah diri kalian yang kuliah jauh dari orang tua.
Sekian pidato yang saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada salah kata.
Assalamualaikum Warohmatulohi Wabarokatuh"
“Walaikumsalam
Warohmatulohi Wabarokatuh, terima kasih Ilham telah berpidato sekarang kelas 12
menyanyikan lagu perpisahan” ucap Pembawa acara
Setelah beberapa lagu di
sampaikan, dan acara hampir sampir di puncak. Ilham pun maju ke depan untuk
menyanyikan lagu, satu persatu kata telah di nyanyikan hingga airmata Ilham
menetes.
“Soba ni itai yo Kimi
no tameni dekiru koto ga
Boku ni aru kana Itsumo kimi ni, zutto kimi ni
Waratte ite hoshikute
Himawari no youna Massuguna sono yasashisa wo
Nukumori wo zenbu
Kore kara wa boku mo Todokete yukitai
Hontou no shiawase no Imi wo mitsuke takara” (Motohiro Hata – Himawari no Yakusoku)
Boku ni aru kana Itsumo kimi ni, zutto kimi ni
Waratte ite hoshikute
Himawari no youna Massuguna sono yasashisa wo
Nukumori wo zenbu
Kore kara wa boku mo Todokete yukitai
Hontou no shiawase no Imi wo mitsuke takara” (Motohiro Hata – Himawari no Yakusoku)
Ilham pun turun dari
panggung telah menyanyikan lagu, dan duduk di samping ibunya.
“Kamu tadi nyanyi bagus”
ucap Ibunya
“Makasih ya mah” ucap Ilham
“Makasih ya mah” ucap Ilham
Ibunya sedang
memperhatikan jalan acara, Ilham pingsan tanpa di ketahui oleh ibunya tepat di
pundaknya, saat sedang melihat pertunjukan perpisahan, Ibunya merasakan menetes
di tangan.
“Darah ?” Ibunya bertanya
Ibunya langsung melihat
anaknya pingsan dengan hidungnya terus mimisan, Ibunya pun menelpon dokter,
Ibunya pun meraba dada Ilham masih terasa detak jantungnya, kebetulan ada guru
lewat.
“Ibu, maaf Ilham gak bisa
maju ke depan panggung, Ilham harus operasi sekarang, jadi maaf kalau sampai
selesai acaranya” ucap Ibunya
“Operasi apa bu ?” Guru
bertanya
“Operasi Kanker Otak,
sekarang saya mau membawa Ilham ke depan sekolah saya tidak kuat” ucap Ibunya
“Ehm, moga lancar ya
operasi.. Raffa.. Nino” Guru memanggil
Raffa dan Nino datang
“Ada apa bu ?” Raffa dan
Nino bertanya
“Tolong bawa Ilham ke depan sekolah ambulance mau datang” ucap Guru
“Tolong bawa Ilham ke depan sekolah ambulance mau datang” ucap Guru
Raffa dan Nino pun
membawa Ilham ke depan pagar. Hingga datang ambulance.
Perawat membawa Ilham ke
dalam ambulance.
“Nanti Raffa sama Ajeng
datang ya ke Rumah sakit” ucap Ibunya
Ibunya pun masuk ke dalam
ambulance. Ambulance pun pergi
Datanglah Ajeng.
“Yah pergi” ucap Ajeng
“Oh ya Ilham kenapa ya hidungnya mimisan terus nggak berhenti henti” ucap Raffa
“Gak tahu” ucap Ajeng
“Kita ke rumah sakit saja” ucap Raffa
“Ya juga tapi bicara dulu ke guru” ucap Ajeng
“Oh ya Ilham kenapa ya hidungnya mimisan terus nggak berhenti henti” ucap Raffa
“Gak tahu” ucap Ajeng
“Kita ke rumah sakit saja” ucap Raffa
“Ya juga tapi bicara dulu ke guru” ucap Ajeng
Raffa dan Ajeng pun
kembali ke dalam sekolah.
Sementara di rumah sakit, Ilham langsung ke ruang operasi dan telah janjian dengan dokternya, Dokter memulai operasi kanker otak, berjam jam telah menunggu datanglah Ajeng, Raffa dan gurunya datang.
Sementara di rumah sakit, Ilham langsung ke ruang operasi dan telah janjian dengan dokternya, Dokter memulai operasi kanker otak, berjam jam telah menunggu datanglah Ajeng, Raffa dan gurunya datang.
“Bagaimana keadaannya
tante” ucap Ajeng
“Masih di operasi” ucap
Ibunya
“Apa sudah lama pak bu ?” Gurunya bertanya
“Sudah 1 Jam lebih” ucap Ibu dan Bapaknya
“Sebenarnya Ilham kenapa ?” Raffa bertanya
“dulu Ilham di vonis kanker otak saat dia kelas 5 sd, dan sembuh di kelas 7 smp, tapi sel kanker yang di kira hilang, ternyata bertumbuh lagi di otaknya menyadarinya pas 11 sma, Ilham sebenarnya pas 11 sma semester 2 mau di operasi, namun Ilham mengundurkan jadi hari perpisahannya.” Ucap Bapaknya
“Inanilahi, Kenapa dia merahasiakan kepadaku ?” Ajeng bertanya
“Ya, ibu tidak tahu” ucap Ibunya
“Apa sudah lama pak bu ?” Gurunya bertanya
“Sudah 1 Jam lebih” ucap Ibu dan Bapaknya
“Sebenarnya Ilham kenapa ?” Raffa bertanya
“dulu Ilham di vonis kanker otak saat dia kelas 5 sd, dan sembuh di kelas 7 smp, tapi sel kanker yang di kira hilang, ternyata bertumbuh lagi di otaknya menyadarinya pas 11 sma, Ilham sebenarnya pas 11 sma semester 2 mau di operasi, namun Ilham mengundurkan jadi hari perpisahannya.” Ucap Bapaknya
“Inanilahi, Kenapa dia merahasiakan kepadaku ?” Ajeng bertanya
“Ya, ibu tidak tahu” ucap Ibunya
Hingga berjam jam di
operasi, dan memuaskan Ilham sembuh.
“Ilham..” ucap Ajeng
meneteskan airmata memeluk Ilham
“Kamu kok menangis” ucap Ilham
“Kamu nggak bilang kamu sakit” ucap Ajeng
“Aku nggak mau jadi beban pikiranmu” ucap Ilham
“Kamu bikin aku kaget saja Ham, aku denger kamu sakit begini aku juga sedih, kamu kenapa gak cerita ke aku kan sahabatmu” ucap Raffa
“Aku juga nggak mau jadi beban pikiranmu Raf” ucap Ilham
“Tapi sebelumnya, mama papah makasih telah berusaha aku menjadi sembuh dan telah menumbuhkan aku dengan rasa sayang mama papah, maaf kalau aku pernah nakal sama mama papah, Ajeng terima kasih kamu telah jadi pacarmu aku akan selalu ada di hatimu, Raffa makasih ya kamu menjadi sahabat terbaikku, Pak guru jadi perwakilan guru lain terima kasih ya telah mengajarkanku tentang hal baru dan membuatku pintar” ucap Ilham
“Kamu kok menangis” ucap Ilham
“Kamu nggak bilang kamu sakit” ucap Ajeng
“Aku nggak mau jadi beban pikiranmu” ucap Ilham
“Kamu bikin aku kaget saja Ham, aku denger kamu sakit begini aku juga sedih, kamu kenapa gak cerita ke aku kan sahabatmu” ucap Raffa
“Aku juga nggak mau jadi beban pikiranmu Raf” ucap Ilham
“Tapi sebelumnya, mama papah makasih telah berusaha aku menjadi sembuh dan telah menumbuhkan aku dengan rasa sayang mama papah, maaf kalau aku pernah nakal sama mama papah, Ajeng terima kasih kamu telah jadi pacarmu aku akan selalu ada di hatimu, Raffa makasih ya kamu menjadi sahabat terbaikku, Pak guru jadi perwakilan guru lain terima kasih ya telah mengajarkanku tentang hal baru dan membuatku pintar” ucap Ilham
Setelah mengucapkan kata
kata terakhir, Ilham tiba tiba kejang kejang, Dokter pun mencoba agar Ilham
tetap hidup, mereka memundurkan langkah, hingga beberapa kali di coba.
“Sudah kami usahakan
namun Ilham telah di panggil oleh Allah” ucap Dokter
Ajeng pun mendekati Ilham
menetes airmata.
“Maaf ya Ham kalau aku
punya salah tapi kamu kenapa meninggalkanku begitu cepat aku ingin ke Tokyo
bersamamu” ucap Ilham
“Makasih ya Sahabatku telah memberikan kata kata yang dalam agar diriku semangat yang pernah kamu bicarakan” ucap Raffa juga ikut menangis
“Makasih ya Sahabatku telah memberikan kata kata yang dalam agar diriku semangat yang pernah kamu bicarakan” ucap Raffa juga ikut menangis
Semua menangis kepergian
Ilham.
“Soba
ni itai yoKimi no tameni dekiru koto gaBoku ni aru kanaItsumo kimi ni, zutto kimi niWaratte ite hoshikuteHimawari no younaMassuguna sono yasashisa woNukumori wo zenbuKore kara wa boku moTodokete yukitaiHontou no shiawase noImi wo mitsuke takara” lagu itu di nyanyikan
Ajeng
******* **** ****
Di Kuburan
Satu persatu pergi dari
pemakaman Ilham.
“Terima kasih ya Ham..”
ucap Ajeng
“Oh ya Ajeng ada surat dari Ilham” ucap Ibunya
“Oh ya Ajeng ada surat dari Ilham” ucap Ibunya
Ajeng pun menerima surat
dari Ilham.
Dari Ilham
Untuk Ajeng
Untuk Ajeng
Terima kasih ya Ajeng,
kamu telah menjadi pacarku yang baik hati, aku mengorbankan apapun hanya
untukmu, tapi allah telah membuat rencana ini yang terbaik untukku, maaf kalau
aku tidak bisa ke Tokyo bersamamu… kamu jangan sedih ya, aku nanti tidak tenang
di surga, aku tidak akan melupakanmu Ajeng.
“Makasih ya paman tante,
aku pulang dulu ya” ucap Ajeng
Ajeng pun pergi
meninggalkan Kuburan, dan saat itu bertemu Ilham.
“Hapus airmatamu aku akan
tenang di surga” ucap Ilham
“Ya Ilham aku tidak akan menangis lagi” ucap Ajeng
“Ya Ilham aku tidak akan menangis lagi” ucap Ajeng
Ilham pun pergi, Raffa
pun datang.
“Kamu tadi berbicara
dengan siapa ?” Raffa bertanya
“Bersama Ilham tadi..” ucap Ajeng
“Bersama Ilham tadi..” ucap Ajeng
The End
Song : Motohiro Hata - Himawari no Yakusoku
"Terima kasih telah membaca cerpen saya, silahkan komentar ya"
"Terima kasih telah membaca cerpen saya, silahkan komentar ya"
Langganan:
Komentar (Atom)
