2015/07/03

Ambulance

                                                                          Ambulance
                                                              By : Muhammad Wildhan





       AH~ Senang akhirnya aku dapat pekerjaan yang awalnya aku pengangguran, tetapi aku sebagai petugas ambulance walau agak ngeri, tak apalah yang penting pekerjaannya halal, oh ya namaku Andi usiaku 21 tahun, aku dapat pekerjaan ini juga di kasih tahu temanku Yudhi dia baik sampai membantu mencari pekerjaan untukku.
Sekarang tepat pukul 9 pagi aku sudah memakai pakaian rapih untuk ke rumah sakit yang di maksud Yudhi ya, aku berangkat dengan angkutan kota, sesampai di sana tepat pukul 10 pagi lumayan jauh dan tadi sempet macet, aku turun dari angkutan kota.
Aku melihat rumah sakit yang bagus, aku pun masuk ke dalam rumah sakit, tak ku sangka aku bertemu dengan Yudhi.
“Aku kira kamu gak mau jadi pengantar jenazah”
“Ya, terpaksa daripada tidak kerja coba”
“Ayo deh masuk”
Aku dengan Yudhi masuk ke dalam rumah sakit, Yudhi menunjukanku ruang kerja bosnya, sayangnya Yudhi tidak menemaniku ya udah deh tidak apa apa, aku masuk ke dalam ruang kerja bosnya.
“Pagi pak”
“Pagi, ehm.. kamu yang mau kerja disini kan”
“Iya pak”
“Kamu boleh duduk” bos menyuruhku duduk
“Kebetulan pengantar korban yang biasanya kecelakaan kebetulan tempat ini kekurangan pegawai, kamu mau menjadi pegawai ambulance kan ?”
“Ya pak mau”
“Ya sudah nanti malam kamu datang kesini jam 8 ya udah stand by disini”
“Iya pak makasih”
“Saya minta nomer teleponmu agar memudahkan saya menghubungi anda”
Setelah itu aku pun pergi dari rumah sakit itu, aku senang sudah dapat pekerjaan disana, ya aku sekalian menunggu aku mempersiapkan diri namun sebelumnya aku tidur siang agar nanti malam aku tak mengantuk.
Tak terasa sudah jam 19.30 aku berangkat ke rumah sakit itu, semua sudah aku siapkan. Sesampai di tempat aku di berikan seragam petugas, ya sambil menunggu korban kecelakaan
(-_- Aku kejam ya ?) sambil ngobrol ngobrol sama orang orang yang bekerja di rumah sakit itu ya tapi yang aku anehin kok ada yang namanya Yudhi ya padahal tadi pagi aku bertemu dengan dia, ya mungkin dia memakai nama lain.
Tak berselang lama aku mendapat berita ada korban kecelakaan, ya aku dengan sigap langsung ke dalam mobil ambulance ya dengan Yudhi, ya aku agak deg degan sih karena hari pertama kerja, terus aku sebenarnya takut sama korban yang darah yang bercucuran setelah dari kecelakaan.
Aku sudah di temani Yudhi yang mengendarai mobil Ambulance, saat aku melihat di kaca Toni seperti mengejarku tapi sudah ketinggalan jauh, mungkin dia capek mengejarku, tapi buat apa mengejarku, aku kan sudah dengan Yudhi.
“Yudhi, jangan kencang kencang dong”
“Ya memang begini pekerjaan petugas ambulance, harus cepat tapi dengan hati hati”
“Oh begitu, tapi aku jadi pusing”
“Oh sorry terlalu semangat sih, kan ada kamu sekarang kerja bareng sama aku”
“Ah bisa aja bro”
Tak terasa sudah sampai di tempat banyak orang yang melihat korban yang telah di tutupi Koran, tetapi saat aku ingin membuka Koran korban Yudhi melarangku, ya aku dan Yudhi mengambil jenasah itu dengan bantuan orang orang dan memasukannya ke dalam mobil ambulance, setelah itu kami kembali ke dalam mobil ambulance.
     Yudhi yang sedang mengemudi mobil dengan kecepatan hampir penuh untuk memungkinkan untuk menyelamatkan korban, aku menoleh belakang ada seorang perempuan rambut panjang dekat jasad itu.
“Yud..”
“Ehm”
“Bukannya tadi kita bertiga”
“Iya memang kenapa”
“Ada perempuan di belakang kita”
“Nggak ada”  Yudhi menengok belakang
“Serius tadi ada”
“Jangan aneh aneh deh, sekarang malam jumat”
“Yud, bisa berhenti gak aku kebelet nih udah mau di ujung”
“Ya elah mau pipis lagi, bentar lagi mau nyampe”
“Gak bisa di tahan nih”
   Yudhi pun memberhentikan mobil Ambulance, Aku keluar dari mobil ambulance berjalan ke semak semak dekat pohon besar, setelah kencing aku kembali ke ambulance, Yudhi telah menungguku di luar, aku pun kembali masuk, Yudhi pun mengendarai mobil.
   Sudah tepat pukul 23.00 aku lihat di handphoneku perasaanku gak enak, aku lihat belakang ada jenazah, dan ku perhatikan jalan ini sudah 3x keliling.
“Yud, apa kita masih jauh”
“Nggak kok sebentar lagi sampai”
“Ok deh”
“Andi, aku mau kencing dulu ya” Yudhi sambil memberhentikan mobil dan keluar dari mobil
   Setelah itu tiba tiba Yudhi menelpon aku perasaan tadi aku habis bertemu dia
“Iya hallo”
“Kamu kenapa lama banget kencingnya aku udah nungguin di mobil”
“Lah bukannya kamu tadi bareng aku ?”
“Apaan aku dari tadi nungguin kamu”
“Lah tadi yang sama aku siapa dong ?”
“Jenasahnya gak ada, coba di mobilmu lihat”
    Yudhi melihat dalam mobil ambulance ternyata ada, setelah itu Aku mematikan telepon aku tak bisa berbuat apa apa kebingungan di belakang seperti ada yang memanggilku, aku menoleh ke belakang tidak ada orang, aku pun memejamkan mata.
   Aku terbangun sudah ada di rumah sakit tempat aku bekerja, aku menengok dalam mobil sudah tidak ada jenazah dan Yudhi tidak ada ya aku pikir mungkin sudah sampai, aku yang masih setengah mengantuk turun dari mobil, aku memang setengah sadar pada saat itu, saat aku berjalan aku melihat dari bawah kaki seseorang aku pun menengok ke dari bawah ke atas dan ternyata bapak bapak.
“Adek dari mana, adek petugas ambulance ya ?”
“Ya pak, tadi habis disana mengantar jenazah hoam..” kataku sambil menunjuk yang masih ngantuk
“Ah adek bercanda itu kan pohon”
“Ha pohon”
“Kok jadi pohon, serius pak tadi itu”
“Udahlah dek mungkin adek lelah ikut bapak saja saya kebetulan orang sini jadi tahu rumah sakit terdekat”
   Aku berjalan bersama dengan bapak yang baik hati itu, Ah~ Syukur deh aku ada teman, sampai di tempat pos kamling ada bapak bapak lain juga yang meronda aku ikut ya masih kebingungan.
“Dek ini ada minuman, kamu minum ini ya, kamu mungkin haus”
“Ya pak makasih”
   Tak beberapa lama mobil ambulance datang dan ternyata itu Yudhi yang akhirnya menemukan aku.
“Akhirnya ketemu juga..”
“Aku juga bingung tadi aku tadi ketemu kamu”
“Ah sudah jangan di pikirkan, pak makasih ya udah bertemu dengan teman saya”
“Ya dek sama sama”
Aku dan Yudhi pun kembali ke dalam ambulance, Yudhi mengendarai mobil ambulance dengan jalan seperti tadi, saat di tengah jalan ada gadis rambut panjang tadi di tengah jalan Yudhi seketika rem mendadak karena aku kaget aku menutup mata sejenak, setelah menutup mata.
Aku melihat Yudhi tiba tiba menghilang, Jenazahnya masih ada, aku masih kebingungan apa yang terjadi padaku ada sesuatu yang aneh, aku pun terpaksa mengendarai mobil ambulance dengan cepat, aku tak mau ambil pusing, aku tancap gas.
Tapi aku merasa aneh dari tadi aku seperti mengelilingi tempat ini lagi, dan bertemu bapak bapak tadi meronda aku pun berhenti keluar dari ambulance menuju bapak bapak tadi.
“Lah adek kesini lagi”
“Bapak, aku dari tadi kok muter terus ya disini”
“Ah masa, kamu barusan jalan tadi 5 menit yang lalu”
“5 Menit yang lalu ?”

Tiba tiba ada yang memegang pundakku, aku dengan rasa takut menoleh belakang Yudhi menakutiku.
“Doar.”
“Ah, bikin kaget saja habis kemana sih”
“Aku tadi nyasar ngobrol sama bapak bapak disini, lah kok ngilang”
“Mana bapak bapaknya ?”
“Lah, tadi di sini”
“Udahlah ayo masuk”
       Akhirnya aku sampai di tempat rumah sakit aku, namun sebelumnya Yudhi sempat berhenti sejenak membeli sesuatu di warung kecil, setelah itu Yudhi duduk di bagian belakang sambil duduk dekat dengan jenazah, sesampai di tempat aku bertemu dengan Toni.
“Ah lu, tadi ninggalin gue”
“Emang ada apa ?”
“Kata bos gue sama lu itu ke tkp mengambil jenazah”
“Aku tadi bareng Yudhi”
“Hust… jangan ngomong orang yang sudah meninggal”
“Ah, Toni bercanda nih”
“Serius Yudhi tadi kecelakaan motor, gue kan temen deketnya di kasih tahu oleh adiknya dan sekarang ada di rumah sakit mungkin”
 Aku pun menoleh ke belakang, Yudhi dan Jenazahnya menghilang, aku menunjukan muka pucat aku.
“Lu kenapa ?”
“Tadi aku bareng Yudhi… berangkatnya serius deh aku gak bohong, yang bareng aku tadi siapa dong ?”
“Lu turun dulu deh”
 Aku turun dari mobil ambulance menceritakan pada Toni yang terjadi.
“Disini sebenarnya tak ada nama Yudhi yang ada Roni yang kamu maksud karena dia memakai nama depannya, Yudhi memang tadi pagi masih kerja disini, tapi saat malam hari Yudhi mau ke rumah sakit ini dengan motor ninjanya dia mengendarai kecepatan penuh, coba deh kita periksa di mobil tadi”
“Aku jadi takut nih”
“Ayo ada Gue”
Aku dan Toni pun kembali ke mobil ambulance dan ternyata jenazah muncul lagi, aku pun memberanikan diri mengeluarkan jenazah dengan toni aku dorong namun aku sebenarnya penasaran siapa di balik muka ini. Aku menyuruh Toni untuk berhenti, Toni berhenti.
 Aku membuka di balik selimut itu, tetapi dokter memanggilku, ya terpaksa aku dan Toni cepat cepat untuk jalan, aku menghantarkan jenazah itu di ruang kerja dokternya aku dan Toni hanya bisa duduk di ruang tunggu.
Tak berapa lama, dokter keluar.
“Inanilahi Roni telah meninggal dunia”
“Pak kok Roni ?”
“Kamu kan membawa dia kemari”
“Jadi tadi pak, tadi Andi bareng Roni tadi mengambil jenazah”
“Kalau gak percaya lihat dulu”
Aku, Toni dan Dokter masuk ke dalam ruangan, aku melihat ternyata Roni atau Yudhi telah meninggal dunia, dan selama ini yang menemani aku tadi siapa ?  

2015/06/23

Gadis Biola (By : ZahraNugraheni)

Gadis Biola


Cerpen Karangan: 


Daunpun mulai berguguran. Oktober yang hangat dari biasa. Cuaca di luar sana menggelitikku untuk keluar flat, berjalan menyusuri kota. Burung-burung gereja riang mengumpulkan makanan sebanyak mungkin sebagai persediaan musim dingin beberapa bulan kedepan. Lembayung senja mulai merayap di angkasa, mengiringi mentari yang menghilang di ufuk barat. Daun-daun dan biji pohon elm berguguran menaburi rambut hitamku yang sedikit basah bagai brownis dengan taburan kacang dan keju.
Ku langkahkan kakiku menyusuri ‘Green Pathway’ trotoar yang dikelilingi pohon-pohon besar, menuju daerah parliament square. Uhmmm, Ku tarik nafas panjang, mengedarkan pandangan di seantero kota, landmark-landmark dan gedung skyscraper London yang beraksen renaissance berserakan di kanan kiri jalan, memenuhi pandangan sejauh mata memandang. Lampu-lampu kota mulai berkedipan di sana-sini berkolaborasi dengan ayunan ranting pohon yang ditinggalkan daun-daunnya.
Entah darimana asalnya, mataku memandang seorang gadis dengan selendang coklat madu yang melingkar menutupi sebagian rambut perunggunya. Dia duduk di kursi kayu oak tepat berseberangan denganku. Wajahnya begitu teduh berhias hidung kecil nan ramping. Wajah itu menghadap jalan raya. Ku amati perawakannya lekat-lekat. Tubuhnya kurus bersanding dengan kotak biola hitam. Kulitnya putih pucat, sesekali rambut merah perunggu itu menyelinap menutupi sebagian wajahnya lantaran tertiup angin musim gugur. Matanya yang hijau dengan semburat biru sarat akan keteduhan dan keanggunan, tapi aku melihat suatu kerapuhan disana. Ya, kerapuhan tersembunyi di balik mata anggun itu.
Ku pandangi gadis itu dari balik pohon elm tempatku berdiri, dia begitu indah terbalut sweter putih gading dengan celana hitam panjang menutupi kakinya yang ramping. Ku dapatinya tersenyum pada setiap orang yang berlalu lalang, seolah ia telah mengenal semua pejalan kaki kota ini.
Sepasang suami isteri berhenti tepat didepannya, sang isteri berbisik padanya, ia tersenyum simpul dan sejurus kemudian sayup-sayup kudengar alunan gesekan biola yang menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, nada-nada masterpiece mengalun begitu saja, rileks dan bebas bagai angin.
Akupun tertegun, pikiranku melayang. Seandainya aku bisa dapatkan angin itu. Aku bisa menjaganya_ Sang Gadis Biola, menghapus kerapuhan dalam mata hijaunya dan menghias mata itu dengan nuansa kebahagiaan.
Ku kumpulkan segala keberanianku untuk mendekati gadis pemain biola itu. Hatiku berdebat hebat, keberanianku mendorongku untuk melangkah dan mendekatinya. Namun rasa pecundangku menghalauku untuk pergi. “Denni, tetaplah disini, lihatlah dirimu! Apakah dia mau dengan TKI sepertimu. Dia begitu cantik. Sungguh, pasti banyak sekali lelaki menginginkannya. Sekarang, siapa kau. Apa yang kau miliki? Pikiranku melayang ke masa dikala Jainab memutuskan hubungan kami. Materi adalah satu-satunya alasan keputusan menyakitkan itu.
Biarlah keberanianku kalah. Ku pandangi dirinya dari sisi pengecutku, menikmati dirinya dalam kebodohanku. Yang kini menciptakan penyesalan yang meraung-raung karena aku tak dapat lagi memandanginya_ perawakannya menghilang di telan kerumunan orang. Hanya kudapati punggung-punggung manusia yang terpaku akan irama simpony nirwana.
Lembayung senja tak lagi menggantung, Sang mentari telah kembali keperaduannya. Suasana senja kota tersulap merkuri-merkuri dan lampu-lampu kecil kafe dan pertokoan. Alunan lagu surga masih mengalun. Ya, Sang bidadari berhasil mengoyak kalbu setiap anak adam. Menghantar mereka masuk ke dalam setiap buih simpony yang dimainkannya. Membuat mereka terhanyut dalam gesekan lembut biola tua. Dari kejauhan samar-samar kudapati Sang bidadari berdiri, meliuk-liuk mengikuti irama lagu sesekali ia ayunkan bahunya mengupulkan kekuatan dan segenap intuisinya. Kerudung coklat madu yang hanya dilingkarkan dikepalanya kini menggantung dilehernya. Rambut merah perunggu itu terlihat sempurna, diterpa angin malam yang lembut dan cahaya lampu kota. Kini Sang bidadari menggenggam emosi mereka, menghipnotis mereka dengan menebarkan nuansa kedamaian sekaligus memukul sanubari meluluh lantahkan perasaan disaat-saat klimaks lagu. Menyerap segala perhatian dan mengakhiri pertujukkan dengan tepuk tangan yang bergemuruh.
Kuselesaikan semua pekerjaanku satu jam lebih awal. Dentang 16.43 mentaripun mulai bersiap-siap meninggalkan singgasananya. Aku harus menghadiri pembekalan bahasa TKI yang diadakan KBRI dalam satu jam kedepan. Sebelum mentari benar-benar pergi, kuputuskan pergi dengan memilih tube London Underground dan mengambil route Westminster – Victoria St kemudian berpindah tube menuju Oxford circus dan berjalan menyusuri Maddoxs St dan Grosvenor St. Ya, kurasa itu route yang paling efisien.
Ku menunggu di lorong stasiun yang hangat. Dari jalur Embankment, tube merah metalik melaju lambat dan sejurus berhenti. Pintu kereta listrik itu terbuka otomatis. Puluhan penumpang keluar kereta disambut oleh penumpang lain yang hendak bertolak ke tujuan masing-masing termasuk diriku.
Kupandangi wajah-wajah mereka. Sebagian besar dari mereka berkulit pucat, tak sedikit pula yang berkulit gelap. Namun jarang kutemui orang yang berkulit sepertiku, kuning kecoklatan dengan bola mata hitam. Ke terkesiap. Seorang wanita dengan palto cokelat crème dan tangan kiri yang menjinjing kotak biola tengah menerobos kerumunan orang yang hendak keluar tube. Mata hijau dan wajah teduh itu membuatku berdesir. Rambut perunggunya yang panjang terlihat berantakan. Sungguh, dia gadis biola. Entah, bagaimana jalan fikiranku. Tanpa pikir panjang ku ikuti gadis biola itu. Ku melangkah sesuai irama langkah kakinya. Heels sepatu vintagenya menimbulan ketukan beraturan di lantai stasiun. Walau dia berjalan begitu cepat, dia tetap terlihat anggun.
Ku masih menggendap dibelakangnya, menikmati ayunan kaki panjang Sang Bidadari. Di tengah elok ayunan langakahnya, Sang Bidadari berhenti sejenak, sejurus kemudian berbalik memperhatikan diriku, sontak kualihkan pandanganku berlagak menelfon seseorang di sebrang sana. Mungkin dia merasa aku membuntutinya. Namun, tak terlihat ekspresi apapun di wajah teduhnya. Dia berbalik kembali dan malanjutkan jalannya. Syukurlah, dia tak yakin dengan dugaannya itu. Dan aku kembali fokus pada bidadari didepanku.
Di pertigaan Westminster Bidadari itu berbelok ke kanan, kearah jalan Victoria Embankment menyeberang jalanan yang penuh hiruk pikuk kendaraaan, masuk dalam keramaian pejalan kaki dan sejurus kemudian menghilang di telan padatnya manusia. Celingukan ku mencari punggung Sang Bidadari. Damn it. Ku kehilangannya.
“Kau mencariku?” suara sopran lirih bertanya dari balik punggungku. Menggetarkan seluruh bulu kudukku. Sejurus ku berbalik, sosok bidadari itu kini berdiri tepat dihadapanku. Entah harus bagiamana ku jawab pertanyaan itu.
“Ku perhatikan kau bermain di Parliament St kemarin dan itu sungguh mengagumkan.”
“Apakah itu yang membuatmu membuntutiku?”. pertanyaannya begitu lugas dengan tatapan mata yang masih sama seperti dikala itu_ sendu dan rapuh. bibirku masih mengatup, suarapun tak kuasa tuk menjawab_ terbungkam diamku. “Apa yang kau inginkan dariku?” pertanyaan lugas itu terfoto copy begitu saja namun dalam rupa yang berbeda.
“Entahlah. Aku tak tahu.”
Tanpa merespon jawabanku Sang Bidadari berlalu seolah tak ingin tahu lebih jauh tentang keberadaanku yang hanya diam memandangi punggungnya_ yang kian lama kian mengecil.
Aku mondar-mandir di flatku yang kecil. Lampu kamar yang temaram membuat hatiku lebih redup lagi. Entah kenapa, gadis biola itu selalu menyusup bagai bandit di fikiranku. Pertanyaan retorisnya menggema dan melumpuhkan syaraf otakku menguasai sebagian besar ruang hayalku.
Tiba-tiba, perasaan yang mengganjal menyerangku. Entah perasaan apa yang bergemuruh di hatiku, sejurus mendorongku untuk bergegas ke pertigaan Westminster_ tepat dimana aku hanya terdiam menatap punggung Sang Gadis Biola yang berlalu bersama mentari senja dan ditelan hiruk pikuk kepadatan manusia.
Ku berlari mengabaikan segala alasan penyebab gemuruh hatiku. Entah kenapa ada kekuatan besar yang tak kusadari mendorongku untuk secepat mungkin meraih Westminster St. jantungku berdenyut tak karuan, kuhela nafas panjang untuk menstabilkannya.
Kupandangi seantero Westminster St. Lampu rambu lalu lintas berkedipan silih berganti. Tak seperti biasa, jalanan tak begitu ramai. Sedikit terpadati van dan container-container besar. Hanya segelintir pedestrian berlalu lalang di trotoar pinggir jalan. Marka dan zebra cross terbaring jelas di atas aspal yang tak berujung.
Jantungku yang mulai stabil kini berpacu kembali. Mataku terhipnotis oleh sosok gadis yang meninggalkanku dalam diam di persimpangan jalan ini. Dia melangkah gontai melintasi marka jalan. Kepalanya tertunduk, sama sekali tak menyadari akan sesuatu yang mungkin dapat terjadi padanya. Sebuah van besar melaju kencang dari arah utara. Sontak kumenyadari keadaan itu, kuberlari entah dengan kekuatan apa. Yang terekam dalam fikirku hanya keselamatan gadis itu, sekuat tenaga kudorong tubuh kurusnya hingga terpelanting ke trotoar, entah apa yang terjadi dengannya setidaknya itu lebih baik daripada tubuhnya harus terhempas van yang berukuran besar itu.
Namun diriku, aku sendiri tak tahu apa yang terjadi padaku. Seluruh tulangku melebur, terakhir kurasakan tubuhku terhempas setelah sepersekian detik ku dorong tubuh mungil gadis biola itu. Entah bagaimana. Aku lemas, tak sedikitpun kekuatan tersisa. Seolah siang telah tunduk pada malam. Pandanganku kabur dan menghilang. Gelap. Hitam pekat.
Aku tak tahu dimana aku, di ambang kematiankah atau masih adakah harapanku untuk bertahan. Ku merasa ada yang berbeda dengan tangan kananku. Jemariku. Kenapa jemariku. Lumpuhkah aku. Entahlah, aku bahkan tak bisa memastikannya_ sekedar membuka matapun aku tak kuat. Aku hanya mendengar sayup-sayup suara parau dan sopran bersahut-sahutan, terdengar khawatir akan keadaanku dan bingung akan sanak keluargaku.
“Dia belum juga siuman, Claressta. Aku khawatir sekali.”
“Entahlah, Mama. Kita hanya bisa berdoa. Tuhan pasti memberikan yang terbaik.” Suara sopran itu terdengar menyejukkan. “Mama tunggu disini, ya. Aku akan menemui Matthew dulu. Sekalian membeli sandwich. Sejak tadi malam mama belum makan, kan?”
“Pergilah, temui Matthew. Dia mungkin membutuhkamu.”
Sejurus kemudian ku dengar decitan pintu dibuka menyusul ketuk langkah beraturan yang menjauh, kabur dan berlalu di geser waktu.
Akhirnya, perlahan kudapat membuka mata. Ku bisa rasakan udara sejuk AC membelai lembut wajahku yang lengket. Aku tak tahu berapa lama aku telah tidur di atas ranjang. Kini ku dapat melihat langit-langit hijau pupus yang ditempeli beberapa buah LED ukuran kecil melingkari satu buah LED yang berukuran lebih besar.
Sosok wanita paruh baya yang hampir bisa di bilang tua dan berbadan cukup gemuk, terbangun dari lelapnya dan datang mengahampiriku.
“Kau sudah sadar, Nak. Syukurlah.” Suara parau itu menggugahku tuk menyempatkan senyum kecil padanya_ walau kurasa masih cukup berat menggerakkan otot-ototku.
“Claressta pasti senang kau siuman.” Sambungnya dengan wajah berbinar.
Dengan mengerahkan segala kekuatanku, ku coba merespon perkataan itu_namun Berat, sungguh berat.
“Siapa an-da?” ucapku terbata dengan suara parau melebihi wanita tua itu. Ku baru merasakan bahwa tenggorokan ini begitu kering bagai dessert yang tandus. Aku tak sanggup berkata lebih panjang. Belum sempat bibi itu menjawab, kudengar satu suara memanyakan perihal keadaanku.
“Mama, bagaimana keadaan le-laki i-tu?” suara itu, walau tergemap_ bagaikan gemericik air surga yang menyegarkan, melenyapkan dahaga yang mencekikku sedari tadi. Ku bisa melihatnya_ Gadis Biola. Dia tengah berdiri di depan pintu, menghadap ke arahku.
Wajahnya yang lembut bagaikan belaian hujan di padang Sahara. Memberi nuansa kedamaian untukku si buih-buih pasir kering. Dia datang mendekat, merapat ke tempat tidurku, dan kini berdiri tepat di sebelah kiriku. Ku dapat mengamati lekat-lekat wajahnya, tanpa harus takut dia menghindariku. Entah ekspresi apa yang terukir di wajah kusamku, yang pasti segala ekspresi itu terbalut ekspresi bahagia tak tertahankan. Kini aku sadar, aku mencintainya.
Dia menyentuh tanganku kiriku, jemarinya yang lentik menyusuri lekuk jemariku_ menggengamnya begitu erat.
“Maaf. Maafkan aku.”
“Maaf untuk apa?”
Jemarinya kini melepaskan genggamannya dan beralih meraih tangan kananku. Mengangkatnya dua jengkal lebih tinggi dari dadaku. Air matanya berbulir_ jatuh di permukaan tanganku. Dia menangis. Dihadapanku. Aku terpengarah, tangan kananku tumpul, kehilangan telapak serta lima percabangannya. Kemana telapak tanganku. Ya Allah. Inikah caramu mencintaiku, atau malah menghukumku?
“Maaf. Maafkan aku. Harusnya kau tidak menyelamatkanku.” Suara sopran itu kini mulai parau oleh sedu tangis.
Kuterdiam sejenak_ menelan ludah seperti mengumpulkan segala kekuatanku. “Buat apa kau menangisi hal yang telah terjadi.”
“Jika waktu itu kau tidak menyelamatkanku. Kau tidak akan seperti ini.”
“Sudahlah ini memang takdirku. Setidaknya aku bahagia tak terjadi sesuatu padamu.”
“Kenapa kau selamatkan diriku?”
Aku menggeleng, “Entahlah. Aku tak tahu.”
“Tunggu. Kau lelaki yang membuntutiku di Westminster waktu itu kan?” sejenak dia menghentikan perkataannya. “Kenapa kau selalu menjawab tidak tahu dikala ku menanyakan alasan padamu?” tangisnya makin terisak.
Ku hanya terdiam. Menghela nafas panjang dan memejamkan mata untuk beberapa waktu.
“Jawablah! Jawab pertanyaanku. Aku begitu merasa bersalah padamu. ”
“Bersalah untuk apa?”
“Untuk semua ini. Untuk semua yang telah kulakukan padamu.” Semakin banyak buih air mata menyusup dari balik bulu matanya yang lentik. Mengalir sesuai alur ukiran Tuhan pada wajahnya yang indah, melingsir dari sudut hidung rampingnya dan bermuara di jemari ku.
“Jawablah. Kumohon.” Suara lembut itu kian memelas
“Tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, bukan. Sudahlah, biarlah waktu yang memberi tahumu, suatu saat nanti.”
Ku pejamkan mata sekali lagi. Memalingkan wajahku dari sosoknya yang kian kelam dan pilu. Di balik punggungku Sang Gadis semakin menangis dan akupun menangis.
Sekian kali kubuka kelopak mataku. Suasana masih gelap disini. bibi Palesnic yang bersuara parau sekaligus ibu Sang Gadis Biola yang ku tahu bermana Claressta tertidur pulas di sofa. Sungguh sulit menenggelamkan diri dalam tidur nyenyak. Ku ingin tersesat dalam buaian fatamorgana sebuah mimpi hingga kubisa lupakan kejadian pilu dikala itu, kejadian yang kian berderu-deru dalam dimensiku. Menciptakan tanda tanya yang mepermainkanku. Haruskah ku jawab pertanyaan itu. Haruskah kunyatakan perasaanku padanya.
Ku tersungkur dalam lamunan panjangku di kala Sang Gadis Biola membuka pintu kamar ini. Cahaya terang di luar sana menyusup melalui celah kecil pintu yang dibuka, dan kini menghilang lagi dikala pintu di tutup kembali. Dia sama sekali tak menyadari bahwa aku masih terjaga. Dihempaskan tubuhnya yang kurus itu di sudut sofa, bersebelahan dengan bibi Palesnic yang sibuk bermain dengan mimpinya. Lirih, ku bisa mendengarnya merintih. Entah apa alasan rintihannya itu. Yang pasti, aku ingin menenangkannya dalam pelukku.
Sang Gadis Biola masih menagis. Sesaat ku mengerti, inilah kerapuahan yang kutangkap dalam mata hijau itu. Sejurus, diraihnya kotak biola disampingnya, perlahan di gesek untaian dawai biola itu, melahirkan sebuah lagu yang sungguh-sungguh menyayat hati. Aku tak mengerti akan apa yang dialaminya. Tapi kudapat rasakan, alunan lagu ini seolah menguak segala kerapuhan yang dikuburnya selama ini.
“Kenapa kau menangis?” tanyaku memecah keheningan.
“Kau belum tidur?” tanyanya sejurus di susul senyum paksaan yang manis.
“Aku bertanya padamu, jawablah.”
“Terkadang biarkan pertanyaan tetap menjadi pertanyaan.”
“Ya, aku mengerti. Aku takkan memaksamu. ”
“Tidurlah, maaf aku telah membangunkanmu.”
Ku hanya tersenyum singkat dan menatapnya menutup kotak biola itu. Kini kaki panjangnya beranjak meninggalkan kamar ini.
Tubuhnya yang kurus itu benar-benar beranjak. “Aku harus pergi. Istirahatlah.”
“Kemana kau akan pergi?”
Dia hanya tersenyum simpul tanpa kata-kata yang dapat melegakanku.
“Tunggu.”
Sang Gadis Biola menghentikan langkahnya, menatapku penuh tanda Tanya. Kesenyapanpun menyerang.
“Aku mencintaimu, Claressta.”
Suasana kamar yang gelap tersulap menjadi lebih kelam lagi.
“Apa?” tanya yang menjadi jawabnya singkat.
“Aku mencintaimu. Entah sejak kapan aku mencintaimu. Yang kutahu aku begitu mencintaimu, hingga aku tak tahu seberapa besar aku mencintaimu.”
“Kenapa kau mencintaiku?” pertanyaan itu terasa begitu menusuk.
“Apakan cinta butuh suatu alasan?”
“Jangan. Kau tak bisa mencintaiku. Jangan mencintaiku!”
“Tapi…” Sebelum sempat kuselesaikan pertanyaanku, sosoknya telah beranjak meninggalkanku dalam gelap ruang ini berteman pertanyaan yang mencekik.
Ku ikuti perawakannya yang berlari di lorong rumah sakit. Suasana begitu lengang. Hanya terdengar bunyi langkah kaki yang menggema. Kudapatinya memasuki ruang dimana aku tak mengerti alasan dia memasuki ruang itu. Kudapati seorang lelaki tekulai lemah dengan beberapa kabel menempel di dadanya yang pucat. Monitor electrocardiogram disampingnya berdetak pelan dengan garis lancip-lancip naik turun. Sepertinya dia koma.
Setengah berlari Sang Gadis Biola menuju lelaki itu, menggenggam tangannya dan mengecup kening lelaki yang entah menikmati kecupan itu atau tidak. Sang Gadis Biola memandangya dalam, terisak dan sejurus kemudian memeluknya erat.
“Matthew, bangunlah! Seseorang menyatakan cintanya padaku. Bangunlah! Katakan padanya kau adalah suamiku! Bangunlah, Matthew! Bangunlah!” rintihnya dalam peluk lelaki itu.
Sang Gadis Biola menyeka air matanya. Bola mata hijau itu kini menutup. Sejenak, kudengar alunan simfoni dari dalam ruang ini. Simfoni yang begitu berbeda. Bukan alunan simfoni yang menyayat hati seperti apa yang dimainkan dalam gelapnya ruangku bukan pula simfoni yang pernah kudengar di tepi Parliament St. Tapi simfoni penuh harapan yang menuang kedamaian dan begitu hidup. Alunan simfoni paling indah yang pertama kali kudengarkan selama ini. Sejurus, mata hijau itu terbuka dengan hela nafas lega setelah hilangnya nada penutup lagu. Kerapuhan yang biasa kutangkap dalam matanya pun menghilang, berganti kidung harapan yang berkobar.
“Aku. Aku akan menunggumu, Matthew.” Ucapnya dengan tatapan tajam penuh harapan.
Oh, Tuhan. Haruskah luka ini terbuka kembali. Kuterperanjat, sebuah tangan menjangkau pundakku dari belakang. Sontak ku berbalik, bibi Palesnic. Dia berdiri dengan mata yang masih merah dan sedikit berair. Tangannya yang tambun berulang kali mengucek matanya yang masih di timpa kantuk.
“Kenapa kau disini, Nak?”
“Entahlah, Aku mengikuti Claressta. Dan mendapatinya masuk dalam ruang ini.”
“Oh, ini ruang dimana Matthew di rawat. Dia koma selama tujuh tahun ini. Kenapa kau tidak masuk saja?”
“Tidak. Claressta sedang bermain. Dia sungguh menghayati permainannya. Aku tak ingin menggangu.”
“Claressta selalu begitu dalam bermusik.”
“Tapi ini begitu berbeda. Dia bermain melebihi seluruh jiwanya. Entahlah, aku tak pernah mendengar dia bermain setulus ini. Kalau boleh aku tahu, siapa Matthew dan apa hubungannya dengan Claressta?”
“Matthew adalah anakku juga suami Claressta.” Jawaban Bibi Palesnic begitu singkat, sesingkat penjelasan itu meleburkan hatiku untuk yang kedua kalinya.
“Satu tahun setelah mereka menikah, Matthew terserang Alzheimer. Dia sama sekali tak mengenali siapa-siapa termasuk Claressta. Dengan susah payah Claressta mengembalikan ingatan Matthew, salah satu cara dengan menggesek biolanya seperti yang kau dengar. Namun Tuhan berkehendak lain, Matthew jatuh koma setelah satu tahun dia menderita Alzheimer, dan hal itu berlanjut hingga sekarang.”
Bibrku terkatup rapat. Berjuta uneg-uneg berkecamuk dalam kalbuku.
“Berulang kali kuminta Claressta meninggalkan Matthew, namun berulang kali dia menangguhkannya. Dia tetap menunggu kesadaran Matthew. Berharap Tuhan mengembalikan ingatan Matthew. Entah kelak adakah balasan untuk pengorbanannya selama ini atau tidak.” Tutur bibi Palesnic dengan menjatuhkan butir-butir air matanya.
Kesunyian menekan sanubariku. Cinta ini mencabik luka yang sekian lama kucoba sembuhkan. Menyayatnya lebih dalam lagi. Biarlah aku yang jatuh dan terpuruk. Biarlah Sang Gadis Biola bahagia dengan penantiannya. Karena itu yang diinginkannya.
Tanpa disadarinya, Sang Gadis Biola telah menjerat hidupku. Menarik ulur perasaanku dan menambatnya dalam sebuah penantian hingga aku lemah seperti ini. Namun aku tak mungkin meminta pertanggung jawaban akan perasaanku yang tak diinginkannya. Sang Gadis Biola tak memintaku untuk mencintainya. Namun, hatiku tak bisa mengelak untuk mencintanya. Dan inilah jawab yang harus ku terima. Inilah konsekuensi atas keputusanku mencintainya.
Lekat-lekat kupandangi sosok Gadis Biola sekali lagi. Entah sudikah waktu mempertemukan kami lagi. Biarlah aku yang pergi. Karena memang aku yang harus pergi.
…tamat…
Cerpen Karangan: ZahraNugraheni
Facebook: Aia az Zahra
Penulis adalah seorang perempuan biasa yang ingin mengubah dunia melalui tulisannya. Bercita-cita memiliki nama pena Aia az Zahra. Mulai menulis sejak SMP namun susah untuk menfokuskan diri pada dunia tulis menulis. Penulis tinggal dan lahir di kota marmer Tulungagung, 3 Maret 20 tahun silam. Kini penulis bergulat dengan simbol dan bilangan di Fakultas keguruan jurusan Matematika STKIP PGRI Tulungagung, namun sebisa mungkin tanpa meninggalkan hal terkasihnya, menulis. penulis dapat dihubungi via faceboook Aia az Zahra. atau via email di aiaazzahra[-at-}yahoo.co.id.

2015/06/20

Kekasihku Daniel (By : Agnes Davonar)

” Saat Terindah Dalam Hidupku Adalah Bersamamu, Saat Tersedih Dalam Hidupku Adalah Kehilanganmu” Agnes Davonar, penulis.

Namanya Daniel, cowok yang baru berusia 24 tahun. Wajahnya.. kata orang sih gak ganteng, ngak pinter dan juga ngak atletis. Sampai detik ini, temen-temen masih mikir? Kok bisa ya dia jadi pacar gua? Padahal sumpah mati mereka tau, gua gak pernah berharap punya pacar kayak dia. Banyak yang bilang kalau wajah gua yang lumayan cantik bila jalan sama dia? Bakal seperti antara majikan dan pembantu.
Mungkin awalnya demikian, tapi dari seorang Daniel. Gua belajar banyak tentang bagaimana menghargai seorang laki-laki, bagaimana memperlakukan laki-laki dan terakhir bagaimana  mengerti arti cinta itu sesungguhnya.
Suatu hari, gua lagi asyik online. Teman-teman gua, semua uda pada mulai eksis di dunia facebook. Rasanya kalau gua gak gabung, bisa jadi gua dianggap gadis kampung. Padahal orang kampung pun uda pakai facebook. Lupakan sejenak kisah stupid itu, yang pasti dari facebook. Gua bisa kontak-kontakan lagi sama teman-temen gua dari jaman pipis di celana sampai sekarang ngerti kalau umur gua uda cukup tua sebagai cewek, 23 tahun.
Nah, karena baru aja putus cinta. Rasanya gua alergi banget sama foto-foto mantan gua yang nangkring di facebook gua, jadi tugas gua malam itu adalah menghapus semua foto-foto mantan gua. Tapi semakin gua perhatikan foto-foto kenang-kenangan kita, kok rasanya gua jadi sedih sendiri ya. Sampai tanpa sadar gua jadi nangis, padahal yang minta putus juga gua, hal kecil sih, gara-gara dia mau sekolah di luar dan gua gak setuju. Apa daya, bokapnya jenderal dan dia ajudan. Pisah deh hubungan kita,
Saat gua menangis, chat online di Facebook nyala, seseorang muncul dan berkata memperhatikan gua sedang menghapus semua foto-foto gua. Dia bilang
“ Lagi putus cinta ya? “ Kata dia.
Awalnya gua mau cuekin, tapi kayaknya bakal menarik juga ya kalau gua marah-marah dan maki-maki orang ini, soalnya gua perhatiin, kita gak kenal sama sekali.
“ Sok tau loe?” kata gua,
“ Ya tau dong, kan gua juga lagi putus cinta, senasib deh..”
Kalimat dia yang bikin gua langsung nyegir. Penasaran sekaligus merasa senasib. Singkat kata, walaupun gua ga kenal dia, akhirnya kita malah jadi curhat-curhatan. Gua jadi tau juga, kalau dia putus sama pacarnya karena gak cocok setelah 5 tahun pacaran. Dalam hati gua berkata, kalau 5 tahun segitu lamanya dibilang kagak cocok, jadi selama 5 tahun itu ngapain ya?.
Akhirnya kita gak bicara lagi setelah malam itu, tapi dia sempat mengatakan nama dia ke gua.
“ Gua Daniel, thanks uda mau temenin gua ngobrol malam ini?”
Gua hanya senyum-senyum manggut, setau gua, harusnya gua yang curhat, kok malah jadi dia. Ya sudahlah, setidaknya dia uda bikin malam ini berwarna. Kita pun pisah, tanpa bicara dan gua sempat mengenalkan diri gua dengan bilang, “ Panggil gua Angel aja, kalau perlu blackAngel.”
“ Kenapa harus BlackAngel, kenapa ga WhiteAngel”
Gua terdiam dan offline dari facebook gua. Bukan urusan dia kalau gua mau jadi white or black, yang pasti hari itu menjadi hari perkenalan kita.
***
2 bulan kemudian.
Sahabat gua Agnes, tiba-tiba nikah. Dia ngundang gua datang ke kawinan dia. Gua tau, tentunya tau banget rasanya ke undangan seorang diri. pasti di bilang kagak laku atau parahnya perawan tua. Kalau bukan karena Agnes ini teman baik gua waktu jaman smp, pasti gua gak mau datang. Dengan terpaksa gua ajak adik gua, Teddy. Walaupun dia itu masih kecil, setidaknya orang-orang bakal kepikiran dia pacar gua kalau ga kenal. Cara yang jitu untuk membuat gua lepas dari julukan jomblo.
Seperti yang gua duga, undangan bakal dipenuhi temen-temen gak jelas. Akhirnya gua hanya bisa mojok sambil menikmati jus jeruk, karena udangan berdiri, gua harus rebutan sama banyak orang. Nah, saat gua uda menemukan satu bangku, gua mau lompat, eh tiba-tiba nenek-nenek tua nyerobot gitu aja. Jus di tangan gua jatuh dan tanpa sengaja kena sama cowok yang lagi duduk disampingnya. Omg.. gua jadi parno sendiri ngelihat tuh cowok kemeja putihnya jadi berwarna belang.
“ Sorry..” kata gua dan cowok itu natap gua dengan perasaan kesal tentunya.
“ Gapapa..” kata dia bangkit dari kursi dan pergi keluar ruangan, banyak yang lihatin gua, akhirnya gua terpaksa keluar dari ruangan pernikahan itu daripada dilihatin banyak orang.
Saat gua keluar, cowok yang tadi ketimpa jus gua, sedang bersih-bersih dengan tissue. Gua memperhatikan dan mendekat ke dia.
“ Sorry ya sekali lagi, tadi ga sengaja banget.”
“ Gapapa, tapi kok loe ga asing ya buat gua?” kata cowok itu.
“ Masa sih, maybe gua mukanya pasaran kali ya..”
“ Oh, gua inget. Loe temen facebook gua.. Angel ya namanya?” kata dia dan gua berpikir bisa jadi juga soalnya kan facebook itu sesuai tujuannya, menghubungan anda dengan semua orang.
“ iya benar, emang nama loe siapa?”
“ Gua Daniel, dulu kita sempat chat. Tapi uda lama banget..” kata dia dan gua pura-pura senyum and merasa inget..
“ Mungkin ya,. “
Dia pun menjelaskan kalau Agnes ini masih ada hubungan teman sama dia, akhirnya lupa deh kejadian jus jeruk tumpah itu. Sebenarnya sih, gua ga ada minat sama sekali ketika melihat wajah dia. Gak ganteng dan gak menarik, Cuma menang tinggi dan putih aja. Level gua terlalu tinggi dalam menilai pria, kita bicara banyak tapi ala kadarnya, beruntunglah adik gua muncul dan akhirnya hendak membawa gua pergi. Gua pun pamitan, tiba-tiba dia nanya.
“ Angel, boleh minta nomor telepon ga?”
“ Heh..” mulut gua terkunci, rasanya gak mau kasih, tapi melihat perlakuan gua sama baju dia, akhirnya gua pun kasih.
Dia tersenyum. Dan akhirnya pesta berakhir dan kita pun berakhir, ini gua sebut. Takdir kedua kita , setelah facebook online dulu.
***
Benar kata nenek gua, yang namanya jodoh, gak akan lari kemana-kemana. Gua kembali ditakdirkan ketemu sama si Daniel. Dia emang ga pernah nelepon atau sms gua setelah gua kasih nomor telepon gua. Tapi kita kembali ketemu saat tiba-tiba motor bebek gua mogok di jalan. Astaga, neh motor pas bawa dari rumah masih ok-ok aja. Kok tiba-tiba mati dijalan. Padahal tujuan gua naik motor ini Cuma mau beli makanan anjing gua di depan rumah. Gua bengong di jalan, tiba-tiba, si Daniel itu muncul. begonya lagi sampai detik itu gua ga lupa nama dia.
Entah bagaimana dia muncul, tapi motor gua beres saat itu juga. Saat gua Tanya kenapa bisa ada disini, dia bilang, dia mau ke rumah temen buat main futsal di deket Puri. Takdir yang aneh, walaupun dia sudah menolong motor gua yang ternyata businya lepas saat gua rem. Gua ga bilang terima kasih, tapi pergi gitu aja. Saat di depan toko anjing, gua baru merasa salah, harusnya gua bilang thks or apa gitu. Akhirnya gua berjanji dalam hati gua, kalau dia muncul lagi dalam hidup gua, gua bakal bilang terima kasih.
Sepertinya Tuhan emang uda mengatur semuanya, sekali lagi kita ketemu. Tapi kali ini, dalam keadaan berbeda. Saat itu, foto dia muncul di halaman depan facebook gua, foto dimana dia disitu lagi pakai baju kemeja dan terlihat lebih keren dari sebelumnya yang hanya pakai kaos oblong. Gua pun mengirimkan pesan di wall dia, dan berkata.
“ thks buat waktu itu di jalan, lupa bilang thksnya..” kata gua dan beberapa menit kemudian dia balas.
“ Sama-sama, sering-sering aja ya.. “ maksud dia ini ngeledekin gua supaya sering-sering mogok gitu apa gimana? Gua kaga ngerti. Tapi semua wall-wall di facebook kita berlanjut dengan kesapakatan kalau gua bakal traktir dia.
Kita janjian dan akhirnya untuk pertama kali dia nelepon gua. Gua bilang, gua akan ngajak dia makan di pizza hut puri. Kebetulan ada harga diskon buat berdua, hahaha, jangan pikir gua ini pelit ya, tapi emang lagi pengen aja. Kita janjian malam itu. Dia datang, dan kita bicara panjang lebar. Mengenal Daniel lebih dalam tentang siapa dia, yang pasti dia ini ternyata tinggal di daerah yang gak jauh dari tempat gua. Anaknya menarik,sopan dan yang pasti lugu sekali. Gua bukan cewek yang bodoh dalam menilai, tapi gua yakin banget,. Daniel itu terlalu polos sebagai cowok, apalagi ditambah dengan kalimat dia tentang kisah cinta dia yang berujung kalau dia di selingkuhi sama pacar dia,.
Saat-saat asyik lagi ngobrol. Tiba-tiba mantan gua muncul bersama gadis lain. Gua bingung, katanya dia mau kuliah di China. Lah kok tiba-tiba malah gandeng cewek. Gua memperhatikan dia berjalan, akhirnya dia sadar gua ada disana. Gua bangkit dan mendekatin dia.
“ Katanya loe ke China? Kok malah asyik pacaran?” kata gua emosi. Mantan gua sepertinya lebih berani membalas emosi gua dengan kalimat yang lebih menyakitkan.
“ Mau gua ke China atau Asyik pacaran? Ini kan bukan urusan loe? Loe kan bukan siapa-siapa gua?” mendengar kalimat itu gua langsung sakit di hati.
“ Maksud loe apa sih?” kata gua.
“ Eh, Angel, uda cukup ya loe mengontrol hidup gua, gua uda muak selama ini sama hubungan kita, loe pikir loe ini kecantikan hingga bisa suruh-suruh gua seenak hati loe. Gua senang akhirnya kita putus walau dengan alasan ke China. Karena gua sudah bosen lihat tingkah loe yang sok otoritir”
Mendengar kalimat itu, tangan gua spontan menampar dia. Rasanya sakit sekali mendengar orang yang pernah gua cintai bicara demikian. Daniel bangkit, menarik gua perlahan. Mengajak gua duduk. Gua ingin menangis, tapi gua menahan semuanya.
“ Gua mau pulang “ ucap gua langsung berjalan meninggalkan tempat makan, Daniel mengikuti gua sampai ke tempat parkir.
“ Angel.. “ teriak Daniel dan melihat dia,. Gua langsung menangis. Menangis karena harga diri gua sebagai perempuan telah hancur oleh hinaan mantan gua. Dia memeluk gua. Dan kalimatnya yang indah membuat gua tersadar untuk berhenti menangis.
“ Angel, jangan menangis untuk orang yang menyakiti loe, tapi menangis untuk kebahagiaan loe karena akhirnya loe tau siapa pria itu..”
Daniel benar, gua gak boleh menangis karena orang stupid itu, harusnya menangis karena bahagia akhirnya gua tau cinta dia itu palsu.
***
Daniel seperti obat bagi kehidupan gua setelah makan siang berantakan itu, gua banyak menghabiskan waktu sama dia. Tapi gua gak pernah menganggap dia sebagai apapun selain teman. Lucunya, dia seperti banyak waktu untuk orang seperti gua, dia rela belajar main tenis untuk bisa main sama gua. Dia rela ke salon bareng gua sekedar creambath, padahal rambutnya kan pendek. Tapi semua dia lakukan untuk apa, gua masih bertanya-tanya dalam hati. Yang pasti hal itu biar menjadi rahasia dia.
Tapi gua sempat menunjukan kalimat yang mungkin menurut gua sangat keterlaluan. Suatu ketika. Didepan sahabat-sahabat gua. Seorang teman bertanya sama gua.
“ Angel loe jadian ya sama Daniel?”
“ Heh, ga salah loe? Mana mungkin, Daniel itu kan bukan tipe gua, ga level lah ya..” gua mungkin hanya ingin bercanda saat itu, tapi saat itu Daniel muncul. gua terdiam. Dia hanya tersenyum. Gua yakin dia mendengar kalimat itu, dan waktu berjalan gua melupakan semua kalimat jahat gua itu sama dia.
Daniel memang pria yang sangat baik, dia tidak pernah merasa sedih dengan kalimat-kalimat gua. Dia tetap selalu setia ada dalam hidup gua. Dia rela menjaga anjing gua di rumah saat gua pergi keluar kota sama keluarga. Padahal gua tau dia alergi sama bulu anjing. Jadi kalau pas gua jemput anjing gua, muka dia merah-merah gitu. Pas gua Tanya, dia bilang cuma salah makan padahal akhirnya gua tau, dia itu alergi bulu anjing.
Entah apa yang dipikiran Daniel. Mengapa dia sangat baik sama gua. Lama-kelamaan gua jadi mempertanyakan kebaikan dia. Di suatu malam, entah karena gua lagi bad mood karena habis rebut sama nyokap. Gua langsung mempertanyakan semua yang ingin gua tau.
“ Kenapa sih, loe ini ini baik sama gua?” Tanya gua.
“ Gua baik sama siapapun kok, buat apa jahat sama orang?” jelas dia ngambang.
“ Tolong jujur, loe ini suka gua apa nggak, dan kebaikan loe ini ada maksud untuk merebut hati gua apa gimana?”
Daniel terdiam menatap wajah gua hampa dan berkata.
“ Angel, gua mungkin suka sama loe, tapi rasa suka gua? tidak akan sebesar keinginan gua untuk berharap menjadi kekasih loe, menjadi sahabat loe saja sudah cukup bagi hidup gua. Ngerti..”
“ Tapi gua ga mau dibaikin sama loe, gua gak mau loe salah paham. Gua Cuma ingin loe tau, kebaikan loe itu bikin gua merasa bingung, karena gua sama sekali gak kepikiran loe jadi pacar gua.”
“ Ya, gua tau kok. Gua pun ga kepikiran sama kesana. Tenang aja..”
Tapi gua tetap ragu dengan jawaban dia, sejak saat itu gua putusan untuk gak mau ketemu dia. Gua juga merasa risih dengan gosip dari semua orang kalau kita adalah kekasih. Sebagai cewek, rasanya Daniel tidak pantas untuk gua. Itu lah kesombongan yang selalu gua pertahankan. Sejak saat itu, gua selalu menghindari Daniel. Ga angkat telepon dia, sampai lebih buruknya menghapus dia dari facebook gua. Gua tau, dia sering mencari gua, sering kirim pesan ke facebook gua, mempertanyakan mengapa gua harus menghindar dan membenci dia secara tiba-tiba. Tapi gensi yang tinggi untuk menjawab akhirnya membuat gua melupakan dia tanpa ampun. Gua bilang lewat pesan facebook.
“ Jangan pernah muncul dalam hidup gua, kalau emang loe anggap gua teman, kalau loe muncul itu hanya bikin gua stress.” Ya, kalimat gua yang kasar untuk seorang Daniel yang tanpa salah.
3 bulan kemudian.
Adik gua Teddy, mengalami sebuah kecelakaan motor. Kakinya patah dan lebih buruknya lagi nyawanya terancam karena dia kehilangan darah yang sangat banyak. Golongan darah adik gua termasuk langkah, berjenis AB, sedangkan stock rumah sakit kosong, akhirnya gua terpaksa meminta tolong sama teman-teman. Celakanya mereka semua gak ada yang punya jenis golongan darah itu. Dokter bilang, dalam waktu 24 jam, stock darah harus ada. Gua cemas. Gua gak mau kehilangan adik gua, setelah kehilangan bokap gua karena meninggal.
Gua terus berdoa dan menulis status gua di facebook tentang kebutuhan darah AB untuk adik gua. Karena terlalu stress akhirnya gua malah ketiduran dan pasrah. Tiba-tiba saat gua terlelap, suster bilang ke gua. Adik gua sudah mendapatkan donor. Gua begitu bahagia. Darah yang paling sulit itu akhirnya ditemukan. Gua ga terlalu mikir siapa yang mendonorkan darah itu karena lebih mementingkan adik gua selamat dulu karena akan operasi. Tuhan memberkati adik gua, dia selamat dan akhirnya lolos dari masa kritis.
Saat gua lagi santai, suster yang tadi kasih info donor tanpa sengaja bertemu. Gua pun bertanya, siapa donor yang berbaik hati, gua ingin mengucapkan terima kasih. Suster itu bilang.
“ Dia cowok, umurnya 24, tinggi, putih, tapi dia menolak untuk disebutkan namanya. Abis donor langsung pergi gitu aja, uda saya suruh istirahat dulu, tapi gak mau, katanya ada keperluan, padahal darahnya banyak loh yang diambil.”
Ya siapapun dia, gua berterima kasih. Saat gua sudah mulai tenang. Dan adik gua sudah bisa bicara. Seorang sahabat menelepon gua. Dan berkata hal yang sangat mengejutkan.
“ Angel. Daniel kecelakaan mobil. Dia kritis di rumah sakit pik.”
“ Kok bisa?” Tanya gua dalam hati.
“ Loe mau jenguk gak?”
Bodohnya lagi, saat itu gua putuskan untuk tidak menjenguk. Gua masih merasa malu untuk bertemu dia walaupun temen gua bilang dia kritis. Gua heran, sebenarnya gua ini makluk ciptaan tuhan yang gimana sih? Kok gua tiba-tiba gak punya hati untuk seorang yang baik seperti Daniel walau dia sedang kritis.
Seminggu kemudian, gua mendapatkan kabar kalau Daniel dipindahkan ke rumah sakit Singapura untuk perawatan yang lebih baik. Gua masih gak bergeming. Lama-lama gua jad penasaran juga dengan kondisi Daniel. Sampai akhirnya, gua mencuri-curi waktu dengan melihat facebook dia. Sebuah wall dari sahabatnya membuatnya gua sangat terpukul. Tulisan yang membuat gua merasa menjadi gadis yang sangat berdosa. Status terakhir Daniel yang terbaca setelah beberapa hari sebelum kejadian dia kecelakaan,
“ Daniel, adik Angel masuk rumah sakit, dia butuh golongan darah AB. Loe bukannya golongan darah AB. “
“ Iya, gua tau,, gua lagi otw kesana..”
gua jadi teringat kalimat suster tentang sosok Daniel. Dan gua akhirnya paham, mengapa dia gak mau sebutin nama dia saat mendonor, orang semulia ini yang rela menolong tanpa pambrih telah gua lewatkan dalam hidup gua. Gua sangat menyesal. Dengan segara cara gua mencari tau keberadaan Daniel. Gua mencoba telepon dan sms tapi telepn dia ga aktif. Sampai akhirnya gua menyerah. Gua hanya bisa berdoa dia lekas sembuh sehingga gua bisa ketemu dia
tapi rasanya semua itu hanya jadi mimpi. Karena sahabat gua berkata dan membuat tubuh gua lemas.
“ Daniel uda disisi tuhan”

Hati gua hancur. Retak dan sangat menyesal. Bahkan gua gak sempat mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan ketulusan dia disisi gua. Kalau saja gua bisa menarik waktu dan mengubah segalanya, gua akan meminta maaf dan menyadari betapa dia sangat berharga lebih dari arti seorang kekasih.
Dia adalah seorang sahabat yang telah mengajarkan gua tentang arti cinta kasih, tentang sebuah pengorbanan dan kehidupan.
Daniel, mungkin loe gak akan pernah jadi kekasih gua. Tapi loe akan menjadi bagian dalam hidup gua. Dan biarkan gua meminta izin untuk mengatakan kepada dunia kalau loe adalah kekasih gua, walau terlambat.
Semoga kisah ini menjadi kisah yang memberikan arti bagi kalian untuk mengerti kebaikan diatas segalanya.

kini gua berpandapat. berkenalan dengan orang tidak harus dengan fisik yang indah ataupun mulut yang manis. tapi kejujuran dan kebaikan seseorang hanya bisa kita ngerti saat orang itu pergi.

kisah ini terdapat dalam novel love and life chocolatos ayah mengapa aku berbeda yang telah beredar


FOLLOW 
me in

https://twitter.com/agnesdavonar

or @agnesdavonar for mentios twitter

kisah ini terdapat dalam novel love and life chocolatos my idiot brother yang telah beredar
tentang agnes davonar

agnes davonar adalah penulis yang memulai karielnya dari blog  dan terpilih sebagai duta blog seasia pasifik mewakili Indonesia tahun 2010 pada ajang piala dunia afsel dan menjadi blogger terbaik indonesia di tahun yang sama .  ia melahirkan 10 novel best seller dan salah satu novel yang diadaptasi ke layar lebar surat kecil untuk Tuhan menjadi film no 1 box office 2011 dan 5 dari novelnya semua telah diadaptasi ke layar lebar.  website pribadinya bisa di akses 

di 

http://www.agnesdavonar.net

F.R.I.E.N.D.S [By : Agnes Davonar]

” tiada kasih yang lebih abadi daripada pemberian seorang sahabat  yang sempurna- tidak akan mati walau ia pergi untuk selamanya dalam hidup kita” Agnes Davonar

Aku tidak pernah berpikir kalau hidupku masih bisa bernafas setelah kecelakaan tabrakan mobil yang membuatku koma selama 1 bulan lamanya. Istriku Angel berkata padaku, bahwa Tuhan masih sangat mencintaiku sehingga ia memberikan aku satu kehidupan baru dalam hidupku. Selama proses pemulihan aku hanya bisa duduk terbaring di kursi roda untuk melakukan aktifitas, sebagai anak tunggal satu-satunya dalam keluargaku, ayah dan ibu sangat mencintaiku.
Hidupku terlahir dengan kekayaan berlimpah, istriku cantik dan sejak kecil aku terbiasa dimanjakan sebagai anak orang kaya. Aku bersekolah di Australia saat lulus dari SMA dari Jakarta, menjadi orang kaya tidak membuatku dapat memiliki sahabat karena sifatku yang pendiam terlebih kata ibu sejak kecil aku mempunyai jantung yang lemah. Tidak heran mereka selalu mencemaskan keadaanku yang tidak pernah aku pikirkan, lucunya aku baru tau jantungku membusuk saat kecelakaan itu terjadi.
Aku duduk di teras rumahku yang menghadap ke laut Jawa dan memilih tempat itu sebagai masa penyembuhan dan rehabitasiku. Istriku sedang membuatkan aku segelas susu dan aku tanpa sengaja melihat sebuah buku novel tergeletak di meja teras, mungkin saja istriku baru membacanya dan menaruhnya disana. Aku membuka lembaran itu dan terselip sebuah foto antara aku, istri dan seorang sahabat yang telah lupa dalam ingatanku bernama Fernando.
Bukankah ini foto saat kami berada di Australia, Fernando berkerja sebagai pelayan kafe dan saat itu aku, istriku dan dia berfoto bersama saat berdiskusi. Istriku datang dan menghampiriku sembari meletakkan segelas susu di meja.
“ Mengapa foto ini ada disini sayang?” tanyakuIstriku terkejut, mungkin karena ia takut gambar itu membuat aku teringat masa lalu.“ Maaf aku tidak sengaja menemukan novel itu dari kiriman pos seseorang dan ketika membukanya terdapat foto kita semasa kuliah.”Aku terdiam, istriku langsung seperti salah tingkah.“ Ngomong-ngomong sekarang dimana Fernando, bukannya terakhir kita masih melihatnya saat bulan madu di Perth?”
Istriku terdiam, suara telepon tiba-tiba berdering dan dia langsung meminta izin untuk mengangkat. Aku hanya bisa mengenang foto kenangan itu, Fernando adalah sahabat pertama yang menjadi temanku saat aku nyaris mati karena kedinginan terserang hujan deras, ia bukan laki-laki beruntung seperti hidupku. Bahkan untuk menyambung hidupnya ia harus bekerja sebagai pelayan restoran, aku berterima kasih padanya karena berkatnya aku masih bisa hidup sampai detik ini.
Berkatnya juga aku bisa mengenal istri yang kucintai saat ini, persahabatan kami baik-baik saja hingga sebuah tragedi terjadi dalam hidup kami. Suatu ketika semua orang mempergunjing aku di kampus dan mengatakan aku seorang gay karena terlalu dekat dengan Fernando. Terang saja aku marah, kami normal dan dekat karena dialah satu-satunya sahabatku di Australia dan aku bahkan rela menghajar orang-orang yag menjelek-jelekkan sahabatku itu. Tapi pertanyaan it u terus menghantuiku, sebagian dari sahabatku memang pernah berbisik kalau sahabatku itu gaytapi Angel tidak pernah mengatakan begitu walaupun mereka sudah mengenal sebelum hadirnya aku.
Tapi hidup memang pahit, di mataku sendiri Fernando berciuman dengan sesama pasangan gay-nya. Aku hancur dan malu memiliki sahabat seperti dia, ada yang aneh ketika melihatnya berbuat demikian. Sidney memang kota bebas bagi gay, tapi tidak buat aku. Aku melupakan semua kebaikan yang pernah dia berikan padaku, jijik rasanya aku melihat monster itu hidup bersamaku selama ini. Aku tau Fernando melihatku memergokinnya saat itu, ia panik dan meminta maaf karena selama ini tidak jujur dengan statusnya, hal terakhir yang kudengar dari mulutnya adalah
“ Aku mungkin gay, tapi aku bukanlah monster yang ada disampingmu selama ini. Bagiku siapapun boleh menganggap aku manusia hina tapi janganlah kau sahabatku, karena kaulah satu-satunya sahabat dalam hidupku yang yatim piatu tanpa siapapun”
Aku tidak tergoda oleh kalimat itu walau terasa menyedihkan, kutinggalkan Sidney saat itu juga dengan membawa Angel pindah ke Perth. Aku tau Angel ingin menyarankan aku untuk menerima kenyataan tapi hatiku membeku dan tidak sudi memiliki sahabat gay dan menjijikkan seperti dia. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya seperti yang aku katakan sebelumnya kami kembali bertemu saat aku sedang berbulan madu bersama istriku tepatnya 3 tahun setelah kami berpacaran di sebuah restoran mewah ketika Fernando mulai menjadi koki di restorant itu.
Aku sadar ini saat terakhir aku berjumpa dengannya, karena aku akan kembali ke Jakarta. Saran istriku padaku untuk setidaknya mengucapkan kata perpisahan dengannya aku turuti, aku pun mengundangnya minum kopi bersama sebagai sahabat lama walaupun di hatiku tidak pernah mau memaafkan statusnya sebagai gay. Kami bicara seadanya tentang hidup kami , dia mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Dan kami pun berpisah, ketika pulang aku tidak mengingat semuanya selain sebuah mobil menabrakku dan aku pun koma hingga tidak sempat mengingat Fernando.
Istriku kembali, dengan wajah sedikit senduh dia duduk di sampingku.
“ Sayang, sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang foto itu”“ Tidak ada selain pertanyaan ke mana Fernando saat ini?”
Istriku menunduk sambil berkata “ Dia ada disini..”. Aku menjadi bingung,“ Maksudmu apa?”“ Fernando tidak akan pernah ada di dunia ini lagi, tapi dia akan selalu ada di sini, tepatnya di jantung yang kamu miliki saat ini.”“ Aku tidak mengerti maksudmu?”
Istriku menangis sambil bercerita, di saat-saat terakhir usai kecelakaan terjadi. Orang yang membawaku ke rumah sakit adalah Fernando, Dokter mengatakan bahwa jantungku sudah tidak berfungsi. Aku hanya memiliki waktu sedikit untuk tetap hidup dan dokter menyarankan Fernando mencari donor jantung. Istriku Angel begitu terkejut dengan berita kecelakaan itu, ia menangis di samping Fernando. Tidak mungkin mencari jantung yang tepat dalam waktu saat kondisi kritis seperti ini.
” Fernando, sebentar lagi Anthony akan menjadi seorang ayah, aku tidak lagi sanggup hidup bila bayi dalam kandunganku ini tidak memiliki ayah..” ujar Angel.
Fernando tersenyum dan berkata
“ Percayalah kalau Anthony ( namaku) akan tetap hidup di samping kamu untuk selamanya”
Itulah kata-kata terakhir dari istriku, Fernando mendekat pada dokter dan berkata ia mau mendonorkan jantungnya padaku. Dokter terang saja menolak keinginan Fernado karena tidak ada hukum yang mengizinkan orang sehat untuk berbuat demikian. Fernando tidak putus asa, baginya hidupnya yang sebatang kara tidak akan memiliki masa depan terlebih tak akan ada seorang pun yang peduli padanya. Ia dengar kalau hanya orang yang sekarat boleh mendonorkan dirinya, sahabatku melakukan tindakan bodoh.
Sesaat sebelum kematiannya ia menelepon Dokter dan mengatakan bahwa seseorang donor yang bersedia menyumbangkan jantungnya. Dokter bertanya siapa orang itu,  dengan tersenyum dibalik telepon Fernando berkata “ Saya menunggu anda di belakang rumah sakit, jantung ini hanya bisa bertahan selama beberapa saat, saya mohon dokter kemarilah dalam waktu 10 menit.” Dengan berani Fernando menabrakkan dirinya pada sebuah truk yang lewat, dia mengorbankan dirinya untuk menjadi donor dalam keadan sekarat.
Angel menerima kabar itu usai operasiku berjalan lancar saat itu ia hendak bertanya sosok donor yang menyumbangkan jantungnya dan berpikir untuk mengucapkan terima kasih pada keluarga, dokter mengatakan sang donor adalah Fernando. Angel tidak mungkin mengatakan kejadian itu padaku, ia hanya ingin menunggu saat yang tepat dan saat inilah aku tau. Aku hanya bisa menangis di atas makam sahabatku. Entah bertapa bodohnya aku tidak pernah mengerti arti sahabat dalam kehidupanku. Kalau saja saat itu aku memaafkan apa yang terjadi mungkin tidak akan ada penyesalan dalam hidupku.
“ Dia sahabat yang tidak hanya menolong hidupku satu kali tapi dua kali, bukanlah dia yang seharusnya meminta maaf tapi akulah yang meminta maaf tidak pernah mengerti bertapa dia adalah sahabat sejati dalam hidupku, aku terlalu egois mengatakan bahwa dia gay dan dia adalah petaka dalam hidupku. Mungkin kata dia terakhir padaku tidak akan pernah terlupa dalam ingatanku, ia memang gay tapi ia bukanlah monster yang akan mencintai sahabatnya sendiri.”
Aku tidak akan pernah melupakan hal ini, walaupun hidupku berjalan dengan waktu, semoga kisahku tidak membuat kalian menjadi seperti aku. Ingatlah sahabat itu hadir dalam hidup kita tanpa pernah kita sadari bahwa sejatinya tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini. anakku terlahir beberapa bulan kemudian dan untuk mengenang sahabatku, keberikan nama Fernando padanya.
Gay, lesbi , pria buta, wanita bisu mereka adalah manusia yang memiliki hati untuk mencintai dan kasih dalam persahabatan. Setidaknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat

tamat
semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa saja. follow my twitter

https://twitter.com/agnesdavonar

@agnesdavonar


kisah ini terdapat dalam buku "friends""


telah beredar di toko buku

tentang agnes davonar

agnes davonar adalah penulis yang memulai karielnya dari blog  dan terpilih sebagai duta blog seasia pasifik mewakili Indonesia tahun 2010 pada ajang piala dunia afsel dan menjadi blogger terbaik indonesia di tahun yang sama .  ia melahirkan 10 novel best seller dan salah satu novel yang diadaptasi ke layar lebar surat kecil untuk Tuhan menjadi film no 1 box office 2011 dan 5 dari novelnya semua telah diadaptasi ke layar lebar.  website pribadinya bisa di akses 

di 

http://www.agnesdavonar.net

2015/06/19

Untukmu Ibu (By : Trimurti)

Untukmu Ibu

Cerpen Karangan: 

Adzan subuh berkumandang dari mikrofon masjid. Suara sang muadzin begitu merdu meliuk-liuk di pagi yang masih basah. Belum terdengar kokok ayam. tapi ibu sudah membangunkan ku seperti biasanya untuk menunaikan ibadah kepada sang Maha Pencipta. Dengan tergopoh-gopoh aku berjalan sempoyongan menuju keran yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarku. Air masih seperti es yang baru meleleh menusuk-nusuk permukaan kulitku. Lalu setelah semuanya aku tunaikan barulah aku beranjak menuju dapur.
Dapur ibuku hanya sebuah ruangan sempit yang tak lebih besar dari kamar tidurku. Ada sebuah tungku api untuk memasak air dan satu buah kompor minyak tanah untuk memasak lauk-pauk.. di sisi sebelah kiri piring-piring berjejer rapi serta gelas-gelas tertancap kuat pada rak besi. Lalu di dinding yang setengahnya hanya terbuat dari kayu menepel dua panci dengan ukuran berbeda, satu buah wajan dan satu buah nampan bundar. Di tengah langit-langit rumah tergantun bohlam yang hanya memberikan cahaya kuning sekedarnya. Di sinilah ibuku membuat kue-kue tradisionalnya untuk kemudian ia jajakan di pasar.
Ibu pun memulai kegiatan rutinnya. Mula-mula ia mengambil semangkuk besar tepung beras yang ia taruh dalam wadah cekung, kemudian ia menambahkan 3 gelas air dan satu sendok garam, sembari tangannya mengaduk-aduk dengan menggunakan sendok kayu. Setelah semuanya tercampur rata barulah ia membentuk satu persatu menjadi bulatan yang kemudian ia pipihkan dan ia goreng. Bila telah matang maka ia akan mencelupkan pada mangkuk yang sudah berisi gula aren yang telah dilarutkan. Kemudian untuk kue kedua kali ini ia menggunakan tepung terigu yang dicampur dengan air gula dan santan. Setelah tercampur rata adonan tersebut ia bentuk kotak dan pada bagian tengahnya ia sisipkan pisang manis yang sudah dipotong memanjang lalu ia membungkusnya dengan daun pisang untuk kemudian ia kukus. Dari kesemua tahapan yang ibu lakukan, tugasku hanyalah satu. Membantu memasukkan kue-kue yang telah jadi ke dalam keranjang kemudian menhitung jumlahnya.
Pekerjaan ini telah dilakoninya 15 tahun yang lalu pasca ia ditinggal mati oleh suaminya. Satu rumah kecil, satu anak perempun dan beberapa ratus ribu uang pesangon menajdi warisan terakhir yang ia terima, disamping status Janda yang masih disandangnya hingga kini. Aku masih sangat kecil saat itu. Usiaku baru 7 tahun dan baru saja memulai memakai seragam merah putiih.
Pagi mulai menampakkan wujudnya. Sinar-sinar putih mulai meringsek masuk melalui cela-cela dinding. Ciut-ciut burung kutilang di luar sana bernyanyi begitu girang. Suara-suara kehidupan mulai timbul satu persatu. Ibu telah selesai menyelesaikan pekerjaan dan aku pun demikian. 100 biji kue telah aku atur sejajar seperti barisan prajurit dalam 2 keranjang. Tepat pukul 07:00 ibu telah bersiap-siap berangkat. Matahari masih terasa hangat. Ibu memelukku erat lalu kemudian pamit dan segera naik ke becak langgananya. Di ambang pintu mataku mengawal kepergian ibu sampai sosoknya tak terlihat.
“Harapan adalah salah satu hal yang terindah yang pernah kita miliki. Tanpa harapan hidup akan kosong.” Begitulah salah satu ungkapan yang pernah aku baca. Bagi ibuku, aku adalah satu-satunya harapan dalam hidup. Ia rela berdamai dengan takdir. Ia kukuh bertahan dari sekelumit peesoaln hidup dan penderitaan yang menggerogotinya. Memulai paginya di dapur yang sempit berasap dan menghabiskan siang dan sorenya di pasar lapang yang beraroma aneh. Namun ia jalani dengan penuh ketabahan semata-mata demi memenuhi kebutuhan kami berdua. Dari hasil penjualannya setiap hari selalu ia sisihkan untuk menyetor pada tempatku menimba ilmu. Selebihnya cukuplah untuk mengganjal perut kami dua kali sehari.
Satu ketika aku menungguinya di ambang pintu. Adzan mghrib telah lewat langit juga sudah mulai pucat. Jalan-jalan mulai lengang, tapi ia belum juga terlihat. Rasa was-was mulai menyelimutiku. Sesekali aku mondar-mandir untuk meredam sedikit kegelisahaanku. Tapi hingga larut ia belum juga kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ia ke pasar. Tapi saat aku tiba di sana tak ada satuu pun kios yang masih terbuka.. Semua telah ditinggal pemiliknya. Aku berjalan menyusuri jalanan yang sempit dan agak becek. Langkaku pelan dan mataku menjelajah setiap lorong-lorong pasar, tapi tetap tak ku temui sosok ibuku. Setelah lelah mencari aku kemudian menayakan keberadaan ibuku pada warga yang bermukim di sana. Dari informasi yang aku dapat ibuku saat ini berada di pasar malam dekat pinggiran kota.
Saat itu aku memilih berjalan kaki. Satu kilometer adalah jarak yang harus kutempuh. Sedangkan malam semakin merambat. Jalanan mulai lengang. Angin mengendus-endus melalui cela ranting pepohonan. Jengkrik berjingkrak-jingkrak sambil bersautan. Kelap kelip lampu jalan kujadikan penerang. Sesekali lampu kendaraan meyorot tubuhku dari belakang kemudian akan melaju kencang dan hilang di balik tikungan. Aku mengayuh langkahku lebih cepat agar segera sampai di tujuan.
Dari arah kejauhan cahaya-cahaya berserakan. Komedi putar berputar-putar. Jeritan suara-suara sumbang semakin lama kini semakin nyaring. Bianglala telah dinaikkan pada ketinggian tertentu. Lalu yang kurasakan keheningan tiba-tiba sirna. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan. Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokan leherku.
Aku telah tiba. Suasana terang benderang. Anak-anak berlarian kesana kemari. Para muda-mudi tertawa genit. Di setiap tempat permainan berjubel antrian panjang.. Pedagang-pedagang berteriak-teriak dengan suara lantang. Dan aku menagkap sosoknya. dia duduk di bangku kayu tak jauh dari tempat ku berdiri. Matanya memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Suaranya yang lemah sesekali terdengar “kue-kue”. Namun usahanya tak terbalas, tak ada satu pun orang yang menoleh ataupun sekedar singgah menayakan barang dagangannya. Sesekali ia membuka keranjang kuenya yang masih terisi penuh. wajahnya tampak lesu, sinar matanya redup, tubuh ringkihnya lemah.
Pandangaku nanar. Ada perasaan menjarah ku seketika. Dadaku terasa sesak. Air mata yang sejak tadi bersembunyi di kedua bola mataku kini meronta-ronta ingin keluar. Satu persatu bercucuran tanpa bisa ku bendung. Pipiku basah mataku memerah Aku terisak menahan tangis yang semakin menjadi.
Beberapa tarikan nafas kuambil. Saat ku rasa jauh lebih tenang aku mulai menghampirinya. Wajahnya sedikit terkejut saat melihatku. Lalu air mataku kembali terurai.. Kini semakin deras. Aku memeluknya erat-erat dan tangisku semakin tak terbendung. Kurasakan tangan lemahnya mengusap punggungku. Seperti mengerti maksud kedatanganku dia pun segera bangkit dari duduknya dan menggiring ku pulang. Kami pulang melewati jalan yang tadi aku lalui. Aku membawa keranjang kuenya dan ia merangkul tanganku. Kelap kelip lampu jalan masih jadi penerang. Jengkrik masih asyik berjingkrak-jingkrak. Lalu di belakangku cahaya pasar malam perlahan-lahan meredup.
Malam itu kami memilih tidur bersama. Kami saling berhadapan. Lampu di langit-langit rumah menghadiahkan kami cahaya kuning. Malam belum beranjak meninggalkan kami. Sesekali terdengar burung gagak dari kejauhan Ibu mengusap rambutku dengan lembut. Saat-saat seperti ini biasanya ia menceritakan padaku kisah Para Nabi dan Rasul yang penuh hikmah dan pelajaran. Sampai katup mata ku tertutup rapat, ia terlelap dan malam menjemput pagi.
Tubuhnaya kini tak sekuat dulu. Keriput-keriput halus mulai bermunculan di wajahnya. Usianya juga mulai memasuki gerbang senja. Namun semangatnya masih seperti api yang berkobar-kobar. Tak pernah sekalipun kata mengeluh meluncur dari mulutnya, meskipun aku seringkali membebaninya dengan biaya pendidikan yang tinggi. Aku ingat ia pernah mengatakan padaku. “Carilah ilmu selagi kau bisa nak, karena itulah satu-satunya harta yang tidak pernah akan hilang, dirampas orang ataupun di curi. Dan tetaplah berada di jalan lurus dan benar maka kebagiaan akan datang padamu”.
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Merangsang kinerja otakku untuk terus menimba ilmu dari tahun ketahun. Menumbukan kepercayaan diriku. Dia adalah sumber inspirasi terbesar dalam hidupku. Dia adalah Malaikat nyata yang dikirim oleh Sang Pencipta untukku. Saat itulah aku tanamkan janji dalam hatiku. Untuk kelak menjadi orang yang berhasil dalam hidup dan akan membahagiakan dirinya.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh ibuku tiba. Dia memakai pakaian terbaiknya. Kebaya berwarna putih yang ia padukan dengan rok cokelat bercorak batik. Meskipun terlihat sedikit kuno tapi ibu terlihat anggun memakainya. Rambutnya ia sanggul tinggi dan ia selipkan jepitan di kanan kirinya. Bedak mencerahkan wajahnya. Gincu memerahkan bibirnya. Pensil mata menajamkan tatapannya. Dan Aroma wangi menguap dari tubuhnya. Sedangkan aku mengenakan baju toga dengan dandanan sedikit menor. Kami menaiki becak langganan ibuku. Udara sangat cerah. Angin bertiup pada garisnya dan matahari tertawa-tawa riang. Di sepanjang jalan senyum ibu tak pernah luntur dari wajahnya. Sesekali ia merapikan sanggulnya dan menambah polesan bedaknya.
Kami telah tiba di dalam gedung yang mulai disesaki manusia. Aku menuntun ibuku ke tempat tamu undangan, Lalu aku berbaur bersama para calon Sarjana Muda. Pambawa acara membuka acara. Ia mempersilahkan para pengajar memberikan kata sambutan. Setelah itu, ia memanggil saru persatu nama kami untuk kemudian melakukan penobatan titel. Kami dihadiahi sebuah kertas yang digulung memanjang berisi sertifikat kelulusan dan yang bewenang dipersilahkan menggeser tali dari topi kami. Setelah prosesi sebagaimana mestinya telah dilakukan, kami kembali pada tempat duduk semula dan menunggu hingga acara berakhir.
ibu telah menungguku di depan gedung. Senyumnya mengembang, Matanya berkaca-kaca. Ia membelai pipiku dengan lembut dan mengucapkan selamat untukku. Kali ini aku kembali memeluknya. Air mata kebahagiaan menetes begitu saja tanpa kuduga. Juru foto menghampiri kami berdua. Dan senyum kami melebar saat kilatan kamera.
“Ini adalah hadiah untuk mu ibu”
Cerpen Karangan: Trimurti
Facebook: Trimurti Ramdhan